18 WNA di Kapal Yacht La Datcha Dikarantina 14 Hari

18 WNA di Kapal Yacht La Datcha Dikarantina 14 Hari
Paspor 18 warga negara asing penumpang Kapal Yacht ‘La Datcha’ yang ditahan Kantor Imigrasi Kelas I TPI Banda Aceh saat ditunjukkan dalam konferensi pers di Kanwil Kemenkumham Provinsi Aceh, pada Senin (8/2/2021). readers.ID | Muhammad

Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kanwil Kemenkumham) Provinsi Aceh terpaksa harus menahan dokumen resmi atau paspor milik 18 warga negara asing yang masuk ke wilayah Indonesia tanpa izin.

Hal itu dikarenakan 18 warga negara asing dari berbagai negara tersebut harus menjalani karantina selama 14 hari di kapal super yacht yang mereka tumpangi.

BACA JUGA: Kapal Yacht La Datcha Sudah Terpantau Sejak 4 Hari Lalu

“Kita hanya mengambil paspornya. Karena orangnya masih menjalani karantina, jadinya kita bawa paspornya,” kata Kepala Kanwil Kemenkumham Provinsi Aceh, Heni Yuwono dalam konferensi pers, pada Senin (8/2/2021).

Adapun 18 warga negara asing tersebut sembilan orang di antaranya merupakan warga Inggris, empat orang warga Belanda, satu orang warga Filipina, satu orang warga Spanyol, satu orang warga Belarusia, satu orang warga Kanda, dan satu orang Jerman yang juga sebagai kapten kapal.

Seperti diketahui, satu unit kapal yacht mewah bernama ‘La Datcha’ terpantau berada di kawasan Pulau Rusa, Kecamatan Lhoong, Kabupaten Aceh Besar. Setelah dilakukan pemeriksaan, kapal tersebut ternyata tidak memiliki izin memasuki wilayah perairan Indonesia.

BACA JUGA: Tim Gabungan Polda Aceh Periksa Kapal Pesiar asal Rusia

Kepal tersebut kini telah dibawa ke wilayah perairan Banda Aceh atau 2-3 mil dari Pelabuhan Ulee Lheue untuk dilakukan karantina dan pemeriksaan kesehatan awak kapal oleh Karantina Kesehatan Pelabuhan (KKP) dan dilakukan pengawasan oleh pihak Angkatan Laut.

“Keseluruh awak kapal tersebut berdasarkan pemeriksaan awal terhadap paspor yang dimiliki tidak memiliki izin keimigrasian dan masuk ke wilayah Indonesia tanpa melalui pemeriksaan imigrasi,” ujar Heni.

Kepada pihak imigrasi, kapten kapal mengaku jika mesin kapal mereka mengalami kendala. Akan tetapi pihak keimigrasian tidak bisa langsung begitu saja mempercayainya, sebab kapten kapal dikatakan tidak ada melakukan komunikasi meminta pertolongan dengan pihak pelabuhan di Aceh.

Ditambah lagi, kapal yang memiliki panjang panjang 76,98 meter; tinggi 1 meter; dan lebar 6,55 meter tersebut dikabarkan telah melakukan lego jangkar sejak 5 Februari 2021 lalu. Bahkan para awaknya sempat bermain di kawasan Pulau Rusa.

“Tidak ada komunikasi antara kapten kapal dengan pihak otoritas pelabuhan di Aceh,” ujarnya.

Pihak Seksi Intelijen dan Penindakan Kantor Imigrasi Kelas I TPI Banda Aceh masih melakukan pendalaman lebih lanjut terkait kasus ini. Mereka baru akan bisa melakukan pemeriksaan kepada 18 warga negara asing tersebut jika masa karantina telah habis dan hasil swab menunjukkan negatif.

Apabila terbukti bersalah, warga negara asing itu akan dijerat dengan Pasal 113 dan Pasal 114 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasiaan dengan ancaman pidana penjara paling lama satu tahun dan atau pidana denda paling banyak Rp100 juta.[acl]

Total
14
Shares

Tinggalkan Balasan

Previous Article
Lansia Enggan Vaksinasi Covid-19, Ini Saran Psikolog

IDI Aceh: Organisasi Profesi Kesehatan Harus Menjadi Corong Edukasi

Next Article

Kejati Didesak Usut Proyek Jembatan Kilangan di Aceh Singkil

Related Posts