Al Chaidar: Lima Terduga Teroris di Aceh Berafiliasi ke ISIS

Pengamat terorisme Universitas Malikussaleh, Al Chaidar. (Foto/ANTARA)

Banda Aceh, readers.id – Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri beberapa waktu lalu menangkap lima terduga teroris di tiga daerah dalam wilayah Aceh. Dalam kurun 20-21 Januari, mereka telah membekuk SA alias S (30) dan RA (41), AA alias TA (35), SJ alias AF (40), dan MY (46).

Di saat yang sama, polisi turut menyita sejumlah barang bukti. Di antaranya bahan baku pembuatan bom rakitan, sejumlah dokumen seperti paspor, catatan pesan teror ke pihak pemerintahan, TNI, dan Polri, serta buku kajian Islamic State in Iraq and Syria  (ISIS).

Penangkapan beserta temuan barang bukti tadi, mengindikasikan kelimanya terkait dengan jaringan ISIS. Menurut pengamat terorisme Universitas Malikussaleh, Al Chaidar, peristiwa penangkapan itu punya kaitan dengan rangkaian peristiwa beberapa tahun lalu di Aceh.

“Dulu pernah terungkap pelatihan teroris di Bukit Jalin, Jantho, Aceh Besar tahun 2010 lalu,” ujar Al Chaidar saat dikonfirmasi, Senin (25/1/2021).

Dugaan dosen Antropologi itu bukan tanpa sebab. Terduga AA yang ditangkap di kawasan Simpang Ulee Kareng, Banda Aceh dan SJ di Langsa Lama merupakan dua tokoh paling dicari oleh aparat keamanan.

Al Chaidar menduga keduanya bagian dari jaringan Aulia (Abu Hamzah) dan Azzumar (Maulana). Dua sosok tersebut selama beberapa tahun belakangan ini sangat aktif melakukan rekrutmen dan pelatihan amaliyah.

“Bahkan jaringan Abu Hamzah ini juga berhasil menarik beberapa rekannya yang baru bebas dari penjara. Residivisme teroris adalah gejala baru. Itu menunjukkan tidak kapoknya jaringan dalam beraksi untuk menyerang kemanusiaan,” ujar Al Chaidar.

Berdasarkan hasil sitaan barang bukti, besar kemungkinan kelompok ini bakal melakukan serangan bom bunuh diri di beberapa tempat.

“Sasarannya, selain kantor-kantor polisi, juga menargetkan lokasi-lokasi militer dan kantor-kantor pemerintahan sipil seperti kantor gubernur, kantor bupati dan lain-lain,” ujar Al Chaidar.

Target-target tersebut menurutnya aneh. Al Chaidar merujuk analisis Sidney Jones tentang perkembangan teroris di Aceh (IPAC Report No 69, halaman 19-20). Laporan terbitan 21 Januari 2021 itu menyatakan bahwa jaringan teroris Aceh merupakan jaringan anomali, aneh dan menyimpang dari jaringan teroris yang biasanya.

Bagi kelompok teroris yang berafiliasi ke ISIS ini, ujar dia, kelompok di luar mereka adalah kafir dan halal darahnya. Itu termasuk para pegawai negeri dan honorer di kantor pemerintah daerah di Banda Aceh dan tempat-tempat lainnya.

“Sasarannya pun anomali karena memasukkan sasaran sipil muslim yang bekerja pada kantor-kantor yang mereka anggap sebagai tempat berkumpulnya orang-orang kafir,” jelasnya.

Soal ideologi, lanjut Al Chaidar, mereka diduga menganut Wahabi Takfiri. Dalam kategori antropologis, kelompok ini digolongkan sebagai khawarij (kelompok sempalan). Muncul sejak abad ke-6, kelompok tersebut memang identik dengan sifat berlebih-lebihan dalam beragama.

Pemahaman itu pula yang saat ini semakin berkembang di tengah-tengah masyarakat. Hal itu bisa jadi karena situasi kekeringan spiritual akibat semakin sekulernya sosial, budaya dan politik di Indonesia.

“Situasi yang menjadi lahan yang subur bagi kelompok Takfiri Khawarij untuk berkembang,” tandas Al Chaidar. []

Total
11
Shares

Tinggalkan Balasan

Previous Article

Ghufron: Saya Tegaskan Tak Ada Radikalisme di KPK

Next Article
jangan terpengaruh hoaks vaksinasi

Jadi Garda Depan Vaksinasi, Tenaga Kesehatan Jangan Terpengaruh Hoaks

Related Posts