Alasan Vaksin CureVac Produk Jerman Gagal Penuhi Standar Vaksin Corona

Foto Vaksinasi Pelayan Publik
Dosis vaksi Sinovac disiapkan dalam program vaksinasi pelayan publik. Foto: Hotli Simanjuntak/readers.ID

Pagebluk Covid-19 sudah memasuki tahun kedua melanda dunia. Sejumlah perusahaan dan pakar terus bekerja untuk mendapatkan vaksin mencegah penyebaran virus corona.

Ada tujuh vaksin yang digunakan di Indonesia dan sejumlah negara lainnya di dunia yang telah bersertifikasi WHO. Yaitu Vaksin Sinovac, Vaksin PT Bio Farma, Vaksin Novavax, Vaksin Oxford-AstraZeneca, Vaksin Pfizer-BioNTech, Vaksin Moderna dan Vaksin Sinopharm.

Dari tujuh vaksin tersebut yang telah dipelgunakan di Indonesia ada tiga jenis, yaitu aksin buatan Sinovac, PT Bio Farma, dan Oxford-AstraZeneca.

Kendati demikian sejumlah perusahaan baik di Indonesia dan dunia terus sedang melakukan penelitian. Vaksin di Indonesia yang sedang dalam proses seperti Vaksin Nusantara dan Vaksin Merah Putih dan sekarang masih fase uji klinis dan belum dapat dipelgunakan.

Begitu juga di beberapa negara lainnya. Seperti Jerman yang telah melakukan uji klinis, berdasarkan laporan tersebut vaksin buatan Jerman itu bernama CureVac dinyatakan tidak lolos untuk dipelgunakan.

Apa yang membuat vaksin CureVac buatan Jerman tersebut gagal?

Dikutip dari klikdokter.com, seperti dijelaskan leh dr. Devia Irine Putri, vaksin CureVac dinyatakan tidak layak digunakan karena tidak menunjukkan tingkat kemanjuran yang sudah ditetapkan oleh WHO.

“Tidak lulus uji klinis karena vaksin CureVac ini efikasinya hanya 47 persen. Sedangkan, dari standar WHO minimal 50 persen untuk bisa dijadikan vaksin Covid-19,” ucap dr. Devia.

Melansir Clinical Trials Arena, vaksin CureVac – disebut juga CVnCoV – dibuat dengan messenger ribonucleic acid (mRNA) non-kimia yang dimodifikasi.

Vaksin tersebut menggunakan spike protein dari virus corona yang diformulasikan dalam nanopartikel lipid.

Uji klinis sementara membuahkan hasil yang mengecewakan. Analisis sementara didasari pada 134 kasus Covid-19 dalam penelitian. Studi melibatkan sekitar 40.000 sukarelawan di Eropa dan Amerika Latin.

Efektivitas vaksin CureVac hanya sebanyak 47 persen. Oleh karena itu, vaksin ini dinyatakan memiliki efektivitas paling rendah, apalagi bila dibandingkan dengan vaksin mRNA lainnya seperti vaksin Pfizer dan Moderna.

Hasil sementara menunjukkan, vaksin CureVac efektif pada peserta yang lebih muda. Namun, vaksin ini tidak membuktikan kemanjuran pada mereka yang berusia di atas 60 tahun, yaitu kelompok usia yang paling berisiko terhadap Covid-19 yang parah.

Melansir laman resmi WHO Africa, tidak ada satu standar mengenai ambang batas efikasi yang bisa diterapkan pada semua jenis vaksin.

Setiap keputusan untuk menggunakan vaksin atau obat selalu melibatkan pertimbangan antara manfaat dan risiko.

Untuk vaksin Covid-19, efikasi yang ditetapkan adalah 50 persen. Karena, Covid-19 dianggap penyakit yang sangat parah.

Dari data yang tersedia, vaksin Covid-19 dengan tingkat kemanjuran 50 persen menunjukkan vaksin tersebut aman, setidaknya terhadap beberapa varian baru virus corona.

Kemanjuran vaksin dapat mengukur perlindungannya terhadap penyakit atau patogen dalam uji coba vaksin.

Jika vaksin memiliki efektivitas 50-70 persen, maka itu berarti seseorang yang divaksinasi lebih kecil kemungkinannya untuk mengembangkan penyakit ketimbang yang tidak mendapatkan vaksin.

Menurut dr. Devia, selain harus mencapai batas efektivitas 50 persen, semua vaksin harus melalui 3 fase uji klinis terlebih dahulu sebelum diedarkan. Begitu juga dengan vaksin corona.

“Uji klinis 3 artinya melibatkan lebih banyak orang. Kemudian, dibandingkan dengan orang yang tidak divaksin bagaimana, dilihat keamanan dan efek samping yang bisa muncul, dilihat efektif atau tidak,” jelas dr. Devia.[]

Total
0
Shares

Tinggalkan Balasan

Previous Article

Menaker Segera Terbitkan Surat Edaran Revisi Hari Libur Nasional 2021

Next Article

Siswa Bisa Stres kalau Terlalu Banyak PR Sekolah

Related Posts