Asinnya Nasib Petani Garam Diterpa Pandemi

Muslim Yusuf (57) petani garam tradisional di Pantai Kajhu, Kecamatan Baitussalam, Aceh Besar. Foto: Rianza Alfandi/readers.ID

Sebuah gubuk tua bermaterial kayu berdampingan dengan plastik tunnel berbentuk terowongan, berdiri kokoh di salah satu sudut Pantai Kajhu. Dari kejauhan seorang pria memegang sebatang kayu berada di sela-sela plastik itu.

Desir angin dan terik matahari menyengat kulit pria tersebut. Namun, rasa panas tak lagi menjadi penghalang baginya. Tanpa mengenal lelah, ia tetap tegar mengais rezeki demi menyambung kebutuhan hidup.

Muslim Yusuf (57) seorang petani garam tradisional memilih tetap bertahan untuk memproduksi garam di kawasan Pantai Kajhu, Kecamatan Baitussalam, Aceh Besar, meski di tengah himpitan era yang sudah serba canggih ini.

Di atas lahan tambak besar seluas sekitar 1.500 meter persegi, Muslim menumpahkan peluhnya. Dengan telaten ia memproduksi garam tardisional, garam-garam itu tidak hanya sebatas untuk kecukupan dapur sendiri, melainkan juga sebagai salah satu penopang ekonomi keluarga.

Seperti biasanya, Kamis, (11/2/2021), Muslim terlihat sedang mengumpulkan garam di bawah plastik tunnel itu dengan sebatang kayu berdiameter 1.5 meter. Usai mengumpulkannya menjadi beberapa tumpukan, ia mengangkutnya ke dalam gubuk yang menjadi dapur pengolahan garam.

Garam tradisional di Pantai Kajhu, Kecamatan Baitussalam, Aceh Besar. Foto: Rianza Alfandi/readers.ID

Di balik gumpalan asap Muslim sangat lihai memainkan sekop khusus yang digunakan untuk mengaduk garam itu. Meski, sesekali ia tampak mengusap kedua bola mata dan menyapu peluh yang membasahi wajahnya.

Pria yang akrab disapa Pak Muslim itu, dalam sehari mampu memproduksi 100 kilogram garam dalam sekali masak. Namun, perolehan sebanyak itu tidak menjadi angka pasti, melainkan tergantung faktor cuaca.

“Masaknya sampai lima jam baru jadi, dengan memperoleh garam sebanyak 100 kilo sekali masak. Untuk sekali masak saya biasanya mengabiskan kayu sebanyak 100 kilo, satu tumpuk besar itu,” kata Muslim pada readers.ID

Aktivitas menjadi petani garam sudah dilakoni Muslim sejak tahun 2009. Pada saat itu terdapat lima petani garam lainnya yang juga berada di kawasan tersebut. Sayangnya, mereka tidak bertahan lama karena tanggul laut yang terlalu rendah dan mengakibatkan naiknya pasang ke dalam tambak. Sehingga, membuat petani lainnya lambat-laun memilih meninggalkan profesi tersebut.

“Yang membuat ramai tidak bertahan karena kendalanya yang diakibatkan oleh tanggul laut yang terlalu rendah. Jadi, ketika bulan purnama atau air pasang membuat tambak garam putus atau roboh, makanya kawan-kawan petani lain nggak sanggup mikir,” ujar Pak Muslim.

Aktivitas yang dilakoni Pak Muslim sehari-hari bukanlah menjadi beban berat baginya. Sebab, pekerjaan itu sudah dikerjakan sejak bertahun-tahun lamanya. Namun, dia sangat menyayangkan nasib petani garam masih saja sama dari sebelumnya bahkan terasa kian terpuruk.

Produksi Garam Tradisional

Proses dalam pembutan garam tidak semudah yang dibayangkan. Faktor cuaca sangat mementukan hasil produksi salah satu bumbu masak yang wajib ada di dapur itu. Apalagi, proses produksi yang terbilang tradisional, masih sangat mengandalkan bantuan dari sinar matahari.

Garam tradisional di Pantai Kajhu, Kecamatan Baitussalam, Aceh Besar. Foto: Rianza Alfandi/readers.ID

Seperti proses produksi garam yang dilakukan Muslim di pesisir Kajhu. Di tempatnya, terdapat dua metode yang digunakan untuk memanen dan memproduksi garam, yakni garam jemur dan garam rebus.

Dari kedua jenis garam itu, Muslim memanennya dengan tempo waktu yang berbeda. Garam jemur dipanen setiap sepuluh hari sekali, sedangkan garam rebus dipanen setiap hari kecuali Jumat. Kembali ke faktor cuaca, jika musim hujan melanda, maka bisa jadi Muslim menghentikan produksinya sementara.

Dari kedua metode proses pembuatan garam itu, pembuatan garam jemur lebih terbilang lama dan ribet, yakni ia harus mempersiapkan tempat penampungan atau tambak airnya terlebih dahulu.

Tambak tersebut ialah bentangan plastik hitam panjang yang dibentuk petak seperti kolam, tapi tidak sedalam kolam renang. Hanya sekitar sejengkal. Setelah itu, air yang sudah ditampung tersebut didiamkan selama seminggu atau paling cepat tiga hari.

Kemudian, air yang sudah didiamkan selama seminggu tersebut dipindahkan ke tambak pembenihan. Proses ini memakan waktu kurang lebih selama sepuluh hari, dan selanjutnya baru bisa dipanen setelah air yang ditampung mengkristal.

Berbeda dengan garam jemur, proses pembuatan garam rebus tergolong lebih mudah, hanya perlu mengendapkan air selama beberapa hari. Proses pengendapan air tersebut bertujuan untuk meningkatkan kadar asin pada air. Setelah itu, air yang diendapkan ditampung untuk dimasak di atas kuali dan diaduk selama empat hingga lima jam sampai menjadi garam.

“Garam jemur sama garam rebus hasilnya beda, tekstur garam jemur lebih kasar dan tidak terlalu putih, kalau garam rebus hasilnya lebih halus dan bersih, bisa langsung dikonsumsi,” ungkap Muslim.

Begitulah seterusnya aktivitas Muslim dalam memproduksi garam secara tradisional di pesisir desa Kajhu, Kecamatan Baitussalam, Kabupaten Aceh Besar itu.

“Ya memang setiap hari ini saya lakukan, kecuali hari Jumat, tapi kalau lagi musim hujan saya akan libur sebentar. Sekarang sudah sering libur karena stok yang minta juga lagi kurang selama musim Corona ini,” Jelas Muslim.

Menurunnya Produksi Garam Selama Pandemi

Dampak dari pandemi Covid-19 juga dirasakan oleh petani garam seperti Pak Muslim. Belakangan ini dirinya mengalami pemerosotan drastis dalam segi pemasaran, yang berimbas pada produksi garamnya.

Muslim mampu memproduksi hingga 500 kilogram garam dalam seminggu, tetapi selama pandemi, dirinya terpaksa harus mengurangi produksi garam hingga setengah dari biasanya. Hal tersebut dikarenakan menurunnya permintaan pasar, akibat banyaknya tempat-tempat usaha yang tutup selama pandemi Covid-19.

“Sebelum ada Covid-19 biasa harganya delapan ribu per kilo untuk garam yang kwalitasnya bagus, sekarang turun jadi tujuh ribu. Banyak sekali perubahannya selama virus Covid-19 ini, harganya turun, permintaan pasar pun juga menurun. Jadi saya terpaksa mengurangi pembuatan garam,” ujar Pak Muslim disela-sela aktivitasnya.

Selama ini, Garam tradisional hasil produksi Pak Muslim hanya dipasarkan ke kawasan Banda Aceh dan Aceh besar. Dengan cara mengantarnya langsung menggunakan becak kepada agen-agen yang sudah berada di pasar.

Atas dasar itu, Pak Muslim berharap kepada pemerintah agar memberikan sedikit perhatian kepada para petani garam, khususnya dalam masa pandemi Covid-19 ini. Pasalnya, omzet petani garam merosot dratis selama ini.

“Mudah-mudahan ya, setelah virus Covid-19 ini harga kembali stabil, dan omzet produksi bisa naik lagi,” pungkas Muslim.

Total
24
Shares

Tinggalkan Balasan

Previous Article
Polda Aceh Tangkap 4 Pelaku Pedagangan Orangutan

Polda Aceh Tangkap 4 Pelaku Perdagangan Orangutan

Next Article

Kasus Penyakit Dalam Tergolong Tinggi di Aceh

Related Posts