Balada di Rantau Panjang: Dari Jaringan Internet hingga Terbatasnya Pendidikan

Potret kondisi warga Desa Rantau Panjang, Kecamatan Simpang Jernih, Aceh Timur. [Foto/Rianza]
Seorang warga lansia di Desa Rantau Panjang, Kecamatan Simpang Jernih, Aceh Timur. Desa ini amat terisolir, lantaran dibekap persoalan fasilitas pendidikan, transportasi dan kesulitan lapangan kerja. [Foto/Rianza]
Satu per satu pintu dan jendela rumah warga mulai tertutup. Matahari perlahan tenggelam meninggalkan bumi. Dari atas teras sebuah kios, tiga orang pria larut dalam diskusi. Mereka berbicara dalam dialek Gayo. Ketiganya saling melempar argumen, obrolannya larut bersamaan dengan cahaya lampu yang kian meredup.

Minimnya pencahayaan akibat kurangnya pasokan listrik telah menjadi hal biasa. Suasana malam di Desa Rantau Panjang, Kecamatan Simpang Jernih, Aceh Timur, memang kerap diwarnai dengan kondisi lampu yang belum normal layaknya di perkotaan.

“Malam lampunya memang begini, agak redup. Mungkin karena watt-nya kurang. Di sini kami pakai dua sumber listrik, listrik PLN sama listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH),” kata Indra, salah seorang warga Dusun Bedari.

Untuk menuju ke desa ini, harus melewati Aceh Tamiang dengan jarak tempuh sekitar delapan jam perjalanan dari Ibu Kota Banda Aceh. Setiba di sana, dari Kecamatan Kota Kualasimpang, Aceh Tamiang, perjalanan berlanjut dengan mengarungi sungai Tamiang menggunakan transportasi perahu motor hingga enam jam perjalanan.

Sepanjang perjalanan, kita akan disuguhi dengan pemandangan pohon kelapa sawit di sisi kiri dan kanan sungai Tamiang. Sesekali akan terlihat pipa-pipa panjang dengan mesin besar melentang di atas badan sungai. Pipa dan mesin itu digunakan untuk menyedot batu di dasar sungai.

Meski berada di wilayah Aceh Timur, akses menuju desa tersebut harus melalui Aceh Tamiang. Bukan karena tidak ada jalur lain, karena sebenarnya masih terdapat jalan darat dari wilayah Aceh Timur menuju ke desa pedalaman tersebut. Hanya saja, akses darat yang tersedia tidak memadai untuk dilintasi. Terlebih jika musim penghujan tiba, badan jalan akan berubah menjadi kubangan lumpur.

Masyarakat di desa yang dihuni 160 kepala keluarga (KK) ini kerap menghadapi berbagi persoalan. Mulai dari masalah ekonomi, kesehatan, terbatasnya pendidikan, akses transportasi hingga jaringan komunikasi.

Masalah Ekonomi Penyebab  Maraknya Penambang Ilegal

Di Dusun Bedari, perekonomian masyarakat secara keseluruhan bertumpu pada sektor pertanian. Warga dominan berprofesi sebagai petani kakao, pinang, karet dan mencari ikan ke sungai. Karena jauh dari perkotaan dan kebisingan, keadaan alam di Bedari masih alami sehingga cocok menjadi lokasi bertani. Namun, murahnya daya jual hasil tani dan serangan gajah liar menjadi masalah bagi pertanian warga setempat.

Aktivitas penebang kayu di Desa Rantau Panjang, Kecamatan Simpang Jernih, Aceh Timur. [Foto/Rianza]
“Rata-rata semuanya kami bertani, itu pun bertaninya cuma bisa di tempat-tempat ini saja sekarang, kalau jauh dari desa sedikit masalahnya gajah, mau bagaimana kita bilang lagi, habitatnya memang sudah habis,” kata seorang tokoh masyarakat, Sabnu (42), beberapa waktu lalu.

Pendapatan masyarakat di sana berkisar Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta rupiah per bulannya, bahkan ada yang tidak sama sekali. Akibat pendapatan yang tidak menentu, sebagian warga akhirnya terpaksa melakoni pekerjaan menjadi penebang kayu di hutan (penebang ilegal).

“Penebangan di sini termasuk lumayan, karena enggak ada lagi pekerjaan lain. Beda kalau jalan di sini bagus, paling tidak ekonomi masyarakat bisa berkembang karena ada orang yang mau ke luar masuk ke daerah kita,” ujar Sabnu.

Masalah Kesehatan

Tidak hanya sektor ekonomi yang memprihatinkan, fasilitas kesehatan di Desa Rantau Panjang juga sangat terbatas. Di sana hanya ada Pondok Bersalin Desa (Polindes) dengan lima orang bidan yang status tugasnya berbeda, yakni ada PNS, tenaga kontrak daerah dan tenaga kontrak BPJS. Tidak hanya itu, pada bidan juga terkendala dengan minimnya peralatan medis. Sejak mereka bertugas, tandu saja tidak tersedia di Polindes itu.

Husna, salah seorang bidan di Polindes tersebut mengatakan, mereka mengalami kesulitan saat mendapati pasien yang tidak bisa ditangani di tempat. Mereka terpaksa merujuknya ke Puskesmas di ibu kota Kecamatan Simpang Jernih. Untuk sampai ke sana, mereka menggunakan perahu mesin dan memakan waktu hingga satu jam lebih.

“Tantangannya, kesusahan saat membawa pasien yang tidak bisa kami tangani di sini, apalagi jika ditambah keadaan cuaca yang tidak mendukung. Contohnya ketika ada pasien lansia yang mengalami sesak nafas, pas tabung oksigen kami kosong kami harus rujuk naik bot, di atas bot kami harus memegang infus lagi,” ucap Husna.

Tidak banyak yang diharapkan kepada pemerintah. Bidan di Dusun Bedari berharap sedikitnya disediakan tandu untuk membawa pasien dan alat transportasi untuk meminimalisir pengeluaran uang pribadi.

“Kepada pemerintah kami berharap, yang pertama ketika harus membawa pasien kami tidak memiliki tandu. Jadi saat ada yang sakit, masyarakat menggendongnya sama-sama. Kemudian setidaknya disediakan alat transportasi minimalnya bot, karena saat ada keperluan dinas kami harus mengeluarkan dana pribadi,” kata Husna.

Berbeda dengan para bidan, masyarakat Dusun Bedari berharap adanya Puskemas Pembantu (Pustu) untuk penanganan pertama jika ada orang yang mengalami luka berat atau kecelakaan kerja.

“Kami di sini kalau memang bisa diusulkan, kami minta adanya tenaga kesehatan perawat, minimal ada Pustu (Puskesmas Pembantu), karena kalau ada orang kebacok atau tertimpa pohon setidaknya ada lah pertolongan pertama, bidan kan kerjanya lebih ke menangani orang melahirkan,” kata Indra, salah seorang warga di Dusun Bedari.

Terbatasnya Akses Pendidikan

Di Desa Rantau Panjang yang mayoritas masyarakatnya dihuni oleh suku Gayo tersebut hanya terdapat dua sekolah, yakni Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Untuk beranjak ke jenjang selanjutnya, sebagian kecil anak-anak di sana memilih merantau ke Langsa, Tamiang atau Banda Aceh. Bukan karena tidak ada SMA yang terdekat dengan desa ini, tapi rute yang harus ditempuh cukup berat. Untuk bisa sampai ke sana bakal memakan waktu tempuh selama 45 menit. Itu pun harus menggunakan jalur sungai, yang aksesnya lancar jika cuaca bersahabat.

Anak-anak Dusun Bedari di Desa Rantau Panjang bercengkerama satu sama lain. [Foto/Rianza]
Sabnu mengatakan, melanjutkan pendidikan ke janjang SMA bukanlah hal yang mudah dicapai bagi warga Rantau Panjang. Semua tergantung ekonomi dari para orang tua. Bahkan sebagian besar anak harus putus sekolah dan memilih mengikuti orang tuanya bertani dan menebang pohon di hutan.

“Sebagian anak-anak dari sini melanjutkan pendidikan ke luar, seperti ke Langsa, ke Banda dan ke Aceh Tamiang. Tapi juga banyak yang enggak lanjut sekolah, tergantung ekonomi orang tuanya juga,” ucapnya.

Nursa Hafriana, salah seorang guru di SD Rantau Panjang mengaku sangat kesulitan dalam menjalankan proses belajar mengajar di sana. Salah satunya lantaran jumlah tenaga pengajar yang minim. Di sekolah tersebut kini hanya terdapat tujuh pengajar, empat di antaranya Pegawai Negeri Sipil (PNS), sedangkan tiga lainnya merupakan guru bakti. Untuk satu kelas hanya ada satu guru yang akan merangkap semua mata pelajaran.

“Kekurangan pertama untuk media pembelajaran, saat membutuhkan pembelajaran melalui video, ada infokus tapi listriknya ngak sanggup, karena masih menggunakan listrik dari PLTMH, belum masuk listrik dari PLN ke sekolah. Untuk guru kita juga kekurangan, bahkan untuk satu kelas itu guru merangkup semua mata pelajaran, semampu gurunya,” sebut Nursa.

Transportasi Perahu Kayu

Saat ini, akses transportasi yang bisa dilalui menuju Dusun Bedari hanyalah menggunakan perahu kayu bertenaga mesin. Tidak ada jadwal pasti mengenai keberangkatan boat menuju ke sana, semua tergantung jumlah penumpang dan kondisi cuaca. Perahu dengan lebar 1 meter dan Panjang sekitar 10 meter tersebut hanya mampu menampung maksimal 20 penumpang, tanpa termasuk barang.

Perahu kayu menjadi transportasi andalan bagi warga Dusun Bedari di Desa Rantau Panjang, Simpang Jernih. Lancarnya perjalanan amat tergantung pada kondisi cuaca. [Foto/Rianza]
Saat debit air sungai meninggi, perahu akan lebih mudah melaju, namun nyawa jadi taruhan. Begitu sebaliknya, saat debit air surut, perahu akan kandas dan membuat penumpang harus siap basah, karena harus turun ke sungai dan ikut mendorong perahu.

Sebenarnya ada akses jalan darat untuk bisa sampai ke desa terpencil itu. Namun sangat sulit dilalui karena kondisi jalan yang jauh dari kata layak. Jalan darat tersebut adalah jalan di tengah hutan dengan keadaan berlumpur. Pada musim penghujan, jalan akan berubah bak kubangan hewan, bahkan tidak bisa dilalui sama sekali.

“Kalau musim hujan atau air sungai tinggi, kita harus ekstra hati-hati saat melaluinya, karena airnya akan sangat tajam. Ada yang meninggal juga saat menuju ke sini, tenggelam gara-gara terbaliknya perahu. Tapi apa boleh buat, kalau musim hujan memang itu akses yang bisa kami lalui,” ujar Indra.

Untuk menjual hasil pertanian ke luar, petani di Dusun Bedari harus membayar ongkos sewa perahu dan setiap yang dibawa akan dipatok lagi harga per kilonya.

“Gara-gara jalan yang susah dilewati, buat jual hasil panen kami akan banyak kena potong, kayak potong ongkos boat dan ongkos agen lagi,” ujar Usman Dani (39) Warga lain Dusun Bedari.

Tidak Ada Jaringan Komunikasi

Tidak adanya akses jaringan komunikasi membuat kondisi masyarakat di Dusun Bedari semakin terisolir. Hanya untuk memperoleh dua digit jaringan telepon, masyarakat harus harus mendaki bukit yang jaraknya 300 meter dari pemukiman warga.

Warga mencari sinyal komunikasi di Dusun Bedari, Desa Rantau Panjang. [Foto/Rianza]
Jika ada hal penting atau ingin menghubungi sanak keluarga yang berada di luar desa, mereka harus mendaki bukit terlebih dahulu. Di bukit tersebut warga bisa memperoleh jaringan komunikasi dan jaringan internet.

Tidak semudah dan selancar di kota, terkadang jaringan komunikasi di bukit tersebut juga bisa hilang total. Bahkan bisa berhari-hari tidak ada jaringan sama sekali.

“Mau jaringan, kita harus mendaki bukit dulu, jauhnya 300 meter dari dusun ini. Tapi tunggu dulu, jaringannya tidak selalu ada dan lancar, kadang-kadang setelah capek naik bukit jaringannya malah tidak ada,” ungkap Sabnu.

Reporter: Rianza (MAG)

Total
6
Shares

Tinggalkan Balasan

Previous Article
48 Ribu Vaksin Disalurkan ke Seluruh Aceh

48 Ribu Vaksin Disalurkan ke Seluruh Aceh

Next Article

Satgas Klaim Disiplin Protokol Kesehatan di Aceh Meningkat

Related Posts