Bermanja Dengan Alam Gampong Nusa

Wisata Gampong Nusa Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar. Foto: Adam Zainal/readers.ID

Gerimis mulai turun bersama kumpulan burung pipit yang membelai padi di hamparan sawah warga. Sore itu, di sepanjang jalanan Gampoeng Nusa, sejumlah anak-anak sedang merenovasi pagar pembatas sungai. Mereka bekerja sambil bercanda. Setiap ada tamu, disapa dengan senyuman.

Tak sedikit para pengunjung yang datang ke sana sibuk memainkan gawainya. Mereka seakan tak ingin menyia-nyiakan waktu untuk merekam setiap sudut keindahan alam di Gampoeng Nusa.

Gampoeng Nusa yang berada Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar, menjadi salah satu lokasi wisata alam favorit yang kerap dikunjungi anak muda menghabiskan libur akhir pekan.

Udara yang sejuk, indahnya bukit barisan, menjadi alasan para pengunjung ingin bermanja dengan suasana alam di sana.

Gampoeng Nusa merupakan desa wisata berbasis alam dan budaya. Jarak tempuh dari pusat Kota Banda Aceh sekitar 9,5 kilometer. Nusa memiliki keindahan dan panorama alam eksotis, gunung yang menjulang tinggi, hamparan sawah yang luas menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Seperti yang dirasakan Mutia, salah seorang pengunjung yang ditemui readers.ID mengatakan Gampoeng Nusa amat mempesona baginya. Desa ini bersih dan masih sangat asri,  tidak ada sampah yang berserakan.

Istri Azwar Abubakar, mantan Plt. Gubernur Aceh periode 2020-2004 itu berharap Gampoeng Nusa ini menjadi contoh buat gampong lain.

“Mudah-mudahan dengan kekompakan masyarakatnya, Gampong Nusa terus maju dan berkembang sebagai desa wisata di Aceh,” kata Mutia, Minggu (7/2/2021).

Selama pandemi, Mutia sudah dua kali berkunjung ke Gampoeng Nusa bersama anak dan cucunya. Dia ingin mereka tahu bahwa Aceh punya keindahan dan kekayaan alam sebagai objek wisata. Mutia sangat terkesan dengan Gampong Nusa. Mulai dari kuliner tradisional hingga budaya masyarakatnya yang terbuka.

Sejarah Gampoeng Nusa

Sebelum menjadi desa wisata, Gampoeng Nusa merupakan salah satu desa penghasil cengkeh (lawang) di Aceh Besar. Kejayaan masyarakat dengan hasil cengkeh tersebut akhirnya redup karena monopoli pasar di era Soeharto,  pada 1990-an.

Sisa kejayaan warga bersama cengkeh terlihat pada rumah-rumah panggung klasik nan mewah. Kini, rumah-rumah itu menjadi daya tarik wisatawan.

Setelah masa kejayaan cengkeh berakhir, warga Nusa beralih menanam ubi. Selama beberapa tahun, Nusa dikenal sebagai penghasil ubi. Namun, serangan hama babi dan monyet membuat warga merugi. Kerusakan hutan diduga penyebab binatang itu turun ke perkebunan warga untuk mencari makanan.

Saat tsunami melanda Aceh, 2004. Separuh Nusa terkena gelombang. Tidak sedikit rumah warga rusak.

“Mayoritas masyarakat di sini adalah petani, ada sebahagian menjadi tukang bangunan, “ujar kak Nur, sapaan akrab Nurhayati, Ketua Lembaga Pariwisata Nusa (LPN).

Kini Nusa mendeklarasikan diri sebagai desa wisata. Gampoeng itu amatlah indah dan bersih. Bukan hanya alamnya yang indah, Gampong Nusa memiliki kekayaan kuliner seperti kuah oen murong, kareng teuphep, udeung tumeh, boh itek jruek, dan keripik daun kari.

“Kadang kami sajikan ubi rebus dan pisang untuk tamu. Potensi itulah yang dikelola sebagai komoditi wisata,” kata kak Nur.

Digagas dari 2007

Awal mula Gampoeng Nusa berproses menjadi desa wisata tidaklah mudah. Setelah melewati proses panjang, akhirnya desa tersebut menjadi desa wisata yang kini dikunjungi banyak wisatawan dari luar daerah dan mancanegara.

“Kita terus memberi edukasi kepada semua masyarakat, dan akhirnya ini berjalan lancar. Masyarakat di sini amat terbuka. Sehingga bila ada ide-ide yang cemerlang langsung diterima,” pungkas kak Nur.

Kak Nur mengatakan Gampoeng Nusa digagas sebagai “Desa Wisata” sejak 2007 hingga 2008. Kemudian di tahun 2013 ide untuk mengembangkan wisata desa ini dicetus oleh Rubama Muhammad inisiator wisata Nusa. Seiring berjalannya waktu gampong tersebut dilaunching sebagai desa wisata melalui “Saweu Nusa” pada 2015.

“Ada beberapa atraksi yang kita gelar, seperti khanduri lesehan bersama, acara pengelolaan sampah berbasis masyarakat, mengenal homestay, serta pertunjukan seni budaya. Tetapi saat itu baru ada 7 home stay di Gampong Nusa.”

Dia menambahkan awal-awal mempromosikan Gampoeng Nusa, mereka mengundang Tour Travel (pelaku pariwisata) untuk melihat dan memberi input dengan proses yang mereka lakukan.

Pasca dideklarasikan sejak 2015, wisata Gampoeng Nusa mulai banyak dikunjungi wisatawan. Hal ini sangat membawa dampak baik bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat.

“Per tahun perputaran uang dari kegiatan wisata Nusa mencapai 100 juta rupiah. Uang itu menjadi pendapat warga,” jelasnya.

Namun, kata kak Nur semenjak pandemi 2019-2020 wisata Gampoeng Nusa begitu sepi. Tapi dia tetap optimis di 2021 ini wisata Nusa akan ramai kembali.

“Sebelumnya tercatat dari data terakhir berdasarkan dari buku tamu pada Desember 2018 ada 8.000 pengunjung. Sementara pada 2019 angka pengunjung juga mencapai ribuan orang. Tapi, belum kita rekap,” imbuh kak Nur.

Sejauh ini, sambung kak Nur, pengembangan desa wisata Nusa didukung oleh Bank Indonesia Perwakilan Aceh, Dinas Pariwisata, serta kontribusi dari berbagai pihak. Terutama dukungan dan promosi dari media-media selama ini.

Total
15
Shares

Tinggalkan Balasan

Previous Article

Foto Esai: Pembudidayaan Kepiting Lunak, Bisnis Menjanjikan

Next Article
sekretaris umum Pengurus Wilayah MES Aceh itu menjelaskan, jika semuanya ada batasan.

Transaksi Bank Syariah ke Konvensional Gratis dengan Syarat

Related Posts