Budayawan Aceh Minta Bangunan di Proyek IPAL Dijadikan Museum

Budayawan dan Kolektor Manuskrip Aceh, Tarmizi A Hamid (baju putih). Foto: readers.ID

Budayawan dan Kolektor Manuskrip Aceh, Tarmizi A Hamid, meminta pembangunan yang sudah dijalankan pada proyek Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) di Gampong Pande, Kecamatan Kuta Raja, Banda Aceh diubah menjadi Museum Cagar Budaya. Hal itu dikarenakan adanya ribuan artefak sejarah Aceh yang banyak ditemukan di lokasi proyek tersebut

“Dari pada masyarakat Aceh dan Pemerintah kota berdebat, lebih baik bangunan yang sudah ada itu dibangun museum alam, karena banyak artefak sudah terbengkalai di situ. ‘Peugah Haba si krak si katoe, asoe nanggroe hanjeut keulola,” kata Tarmidzi dalam keterangannya, Senin, (1/3/2021).

Tarmizi atau yang akrab di sapa Cek Midi menilai, melalui museum cagar budaya Aceh bisa menunjang industri bagian wisata terutama bidang sejarah dan budaya, karena memiliki wujud dari peninggalan sejarah yang ada. Artinya, benda peninggalan atau artefak sejarah tidak bertaburan dan tertimbun seperti di Gampong Pande dan di Gampong Jawa.

“Dari pada meu kreuh-kreuh urat takue, leubeh get gunakan potensi yang sudah ada. Padahal potensi tersebut manis sekali Gampong Pande dijadikan sebagai kota warisan,” ujar Cek Midi.

Dalam catatan sejarah, kata Cek Midi, wilayah Gampong Pande memiliki peran penting dan strategis sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Aceh. Sesuai dengan namanya, pada masa kejayaannya wilayah tersebut adalah tempat para pandai besi, pabrik senjata, dan pusat aktivitas ekonomi kerajaan.

Selain itu, menurutnya kawasan Gampong Pande tersebut juga merupakan area inti dari berbagai peristiwa sejarah, karena disebabkan lokasinya yang berada di tepi laut dan di bagian muara atau hilir Krueng Aceh.

“Dulu, kawasan ini termasuk dalam Mukim Mesjid Raya di mana Daruddunya, istana dan kuta para sultan Aceh juga berada di mukim ini,” jelasnya.

Tidak hanya itu, Cek Midi Menjelaskan, kawasan Krueng Aceh sendiri mulai dari hulu hingga ke hilir merupakan nadi kebudayaan dan peradaban orang Aceh. Melalui kawasan tersebut, orang Aceh juga menyebar ke berbagai tempat di Asia Tenggara.

Ia juga meminta Krueng Aceh seharusnya memperoleh penghormatan yang layak, karena semua fakta sejarah dapat menunjukkan kepentingan dan nilai yang tinggi dimiliki oleh kawasan Gampong Pande.

Sebab itu, Cek Midi menilai kawasan tersebut sama sekali tidak layak jika dijadikan sebagai tempat pembuangan sampah apalagi tempat penampungan air limbah.

“Itu sama sekali tidak logis dan tidak masuk ke cita rasa. Saya rasa seluruh masyarakat Aceh akan sependapat dengan saya dalam hal ini, sebab penempatan lokasi buang sampah dan lain-lain di pinggir Krueng Aceh yang melegenda dan juga di bekas kawasan paling penting dalam sejarah Aceh, ini adalah sesuatu yang tidak dapat diterima baik dari segi adat dan kearifan orang Aceh, atau dari segi cita rasa keindahan,” pungkasnya.

Total
5
Shares

Tinggalkan Balasan

Previous Article
Ledakan di Lhong Raya, Polisi Belum Pastikan Itu Bom

Ledakan di Lhong Raya, Polisi Belum Pastikan Itu Bom

Next Article
Jadi Pengedar Narkoba, Oknum Polres Pidie Berpangkat Aipda Ditangkap

Oknum Polisi Jadi Kurir Sabu, Ombudsman: Mestinya Jadi Teladan Masyarakat

Related Posts