CERPEN: Perkara Dana Hibah (1)

CERPEN: Perkara Dana Hibah (1)
Ilustrasi. Foto rakyat sumut

Tiada yang sunyi senyap di negeri ini, ramai-ramai orang saban detik berlalu-lalang di seluruh penjuru kota. Bahkan pada tengah malam dan menjelang subuh hari.

Pada dasarnya, kota ini dikenal dengan nama megah nan gagah sebagai Bandar Darussalam, bumi di mana Kerajaan Aceh Darussalam berdiri begitu perkasa di atas dunia. Lalu, ketika Belanda berhasil masuk ke negeri ini, nama kota ini berubah menjadi Kutaradja atau Banda Aceh kini.

Di bumi tumpah ruah, subur dan indah ini merupakan tempat berkumpulnya ragam manusia dari macam rupa latar belakang dan profesi, ras, agama, juga suku. Selain kota ini menjadi ibukota Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, juga menjadi tumpu dan roda keberlangsungan rakyat banyak.

Tiada yang sunyi senyap di kota itu, melainkan hilangnya deru knalpot, denting bejana jelata, siulan alat musik para pengamen di simpang lima dan penjuru warung kopi, hentak telapak para pekerja lepas, juga dengus nafas para pengemis, serta lelah gumulanya nelayan, juga gema suara azan di atas menara Masjid Raya Baiturrahman.

Bahkan, teriakan yel-yel dan orasi-orasi para aktivis jalanan yang berdemonstrasi, selalu mengisi ruang sepi nan sunyi. Ditambah lagi diskusi ragam rupa para cendikiawan, pemuka, serta akademisi di kampus-kampus, gedung-gedung keresidenan, serta warung-warung kopi menjadikan khasanah tunggal bagi kehidupan yang amat gemilang untuk seluruh makhluk hidup yang bertahan hidup di kota metropolitan tersebut.

Di suatu malam yang basah lebam,  di warung kopi pinggiran tugu, tiga orang lelaki duduk melingkar. Pakaian mereka cerah, dan rapi. Paling diantara mereka adalah Lem Umar, lelaki paruh baya yang lahir dan besar di kaki gunung Bandar Gemilang.

Tepatnya merupakan seorang pribumi atau pula yang sering disebut sebagai asoe lhok oleh semua masyarakat Aceh pada umumnya. Satunya lagi adalah Musadiq, pemuda cerdas, kritis,  dan penuh karisma.

Di sebelah Mus, sapaan akrab Musadiq duduk seorang perantau yang baru tiba dari kampung bernama Aiyub.

Hujan baru saja reda, semua sudut warung kopi dipenuhi para pengunjung dari ragam rupa latar belakang. Warung itu juga begitu riuh, masing-masing sibuk dengan aktivitas dan obrolannya.

Tak sedikit pula orang-orang sedang membahas persoalan yang belakangan ini sedang hangat-hangatnya berada di panggung piasan negeri Bandar Gemilang.

Cerita itu ialah menyangkut perkara danah hibah pemerintah Aceh untuk seratus-an lembaga kepemudaan dan lembaga kemahasiswaan di negeri syariat ini.

“Pemuda nyoe pemuda jeh, ujong but boh reutoh ciet” (pemuda ini pemuda itu, ujung-ujungnya recehan juga),” kata seorang penikmat kopi di sebelah meja Lem Umar.

Lelaki itu duduk berlima dengan temannya yang begitu fokus menyimak apa saja yang sedang dituangnya malam itu. Belakangan,  diketahui pemuda itu merupakan mahasiswa salah satu fakultas di Bandar Gemilang.

Dia amat aktif di berbagai pentas hiburan, panggung rakyat, seminar, diskusi publik,  aksi jalanan, serta acara-acara sakral kenegaraan. [Bersambung]…

CERPEN: Perkara Dana Hibah (2)

CERPEN: Perkara Dana Hibah (3)

Total
19
Shares
4 comments

Tinggalkan Balasan

Previous Article
Mereka yang Terima Dana Hibah (2)

Mereka yang Terima Dana Hibah (2)

Next Article
Nakes di Puskesmas Jeulingke Baru Dua Orang Divaksin

Dosen FKM Unmuha: Masyarakat Perlu Literasi soal Vaksin

Related Posts