CERPEN: Perkara Dana Hibah (2)

Ilustrasi dana hibah/mediaindonesia.com

Ketika mendengar pembicaraan tetangga sebelah meja, Lem Umar mulai sedikit memutar haluan kursinya dan fokus menyimak setiap apa yang sedang kelima pemuda itu bicarakan. Perbincangan mereka melulu tentang seputar isu kaum muda yang sedari beberapa pekan lalu mendapat saweran dana hibah dari pemerintah.

Pun menyangkut dengan Surat Keputusan (SK) yang baru-baru ini pemerintah Aceh berikan kepada anak muda “kritis” yang selalu mengkritisi kebijakan pemerintah yang tak berpihak kepada kaum jelata.

“Pemimpin kita adalah orang cerdik. Ia mampu membeli idealisme pemuda hanya dengan segepok uang receh dan selembar SK,” timpal salah seorang di antara lima anak muda di sebelah Lem Umar.

“Selama ini, negeri kita sudah sunyi senyap, seperti negeri tak bertuan,” kata anak muda yang satunya lagi.

Kelima penikmat kopi ini dapat dikatakan sebagai anak nuda yang sedang menempuh pendidikan. Terlihat dari cara mereka berbicara. Begitu juga dari gaya mereka mendiskusikan sesuatu perkara. Obrolan mereka dapat membuat Lem Umar, Mus dan Aiyub terpaku, hingga memalingkan kursi dan pandangannya.

Mereka menyimak dengan khidmat dan tuntas tentang sudut pandang kelima anak muda tersebut, perihal kebijakan pemerintah Aceh kepada sejumlah lembaga kepemudaan beberapa pekan yang lalu.

“Semua akan sunyi senyap bila mulutnya sudah disumpal, dan perutnya sudah kenyang,” timpa pemuda yang memakai kaos hitam berlengan panjang.

Mendengar perkataan pemuda itu, tentu membuat Lem Umar dan komplotannya teringat dengan kata Tan Malaka. Lem Umar merupakan orang yang menyukai konstruksi pemikiran tokoh kemerdekaan tersebut.

“Revolusi dibangun (digerakkan) ketika perut rakyat sedang lapar. Bukan ketika ekonomi sedang stabil.”

Tan Malaka bukanlah tokoh Revolusi yang asing bagi kaum aktivis di kota itu. Bahkan, hampir 70% pemuda yang kritis di negeri ini khatam benar konstruksi pemikiran Tan yang dituang dalam tulisan-tulisannya.

Ada pula begitu banyak yang menjadi Tan gadungan, bahkan benar-benar bersikap seperti Tan yang seumur hayat hanya mengkritisi kebijakan pemerintah. Tan adalah kiblat kedua bagi kaum aktivis Bandar Gemilang itu, selain Che Guevara, Fidel Castro dan tokoh-tokoh revolusioner lainnya.

“Lalu apa juga yang mereka kritik selama ini?” tanya si pemuda yang duduk bersebelahan dengan dinding. Malam masih amatlah panjang, hawa sejuk masih memeluk tubuh orang-orang di warung kopi itu. Malam itu, orang-orang berceloteh tentang apa saja, namun hampir 75% penikmat kopi membahas perkara ulayat (dana hibah) yang diberikan pemerintah kepada organisasi kepemudaan.

Lem Umar, Mus dan Aiyub baru saja bercakap-cakap. Sedang Mus dan Aiyub baru beberapa pekan belakangan ini akrab. Dulunya mereka tak saling mengenal.

“Lem mau minum apa. Kopi? Biar aku pesan,” kata Mus. Sudah amat lama mereka berleha di warung kopi orang, barulah tadi hendak memesan kopi.

“Boleh. Kita panggil saja orang ini (pekerja).”

Seorang pelayan datang menghampiri meja mereka. Lem Umar memesan kupi pancong, Mus dan Aiyub juga ikut serta dengan apa yang dipesan oleh lelaki yang amat disegani oleh banyak orang tersebut.

“Seperti kataku minggu lalu, Aiyub. Kota ini sudah sunyi senyap. Baru kali ini riuh kembali. Itupun karena mencuatnya isu dana hibah yang diberikan pemerintah ke berbagai lembaga kepemudaan. Aku kira ini menarik kita bahas,” lanjut Lem Umar mengawali pembicaraan.

“Tapi, Lem. Aku tak paham dengan dunia pemerintahan, apalagi menyangkut aturan-aturan hukum di dalamnya,” seru Aiyub.

“Setidaknya kau pernah dengar dari orang-orang. Bahkan orang di pemerintahan sendiri belum tentu khatam betul dengan tata kelola kenegaraan, pula dengan jawatan agung yang sedang mereka embankan sebagaimana diatur oleh konstitusi,” jelasnya.

“Aku tak percaya kalau Aiyub sama sekali tidak paham dengan dunia pemerintahan,” sanggah Mus kepada Lem Umar. Lem Umar tertawa mendengar perkataan temannya tersebut.

“Dia memang selalu begitu. Jika sedang diskusi seringkali merendahkan diri. Dan bersikap tidak tahu apa-apa. Pun, sering pula bersikap pura-pura bodoh. Padahal, apapun isu yang sedang mendera negeri kita semua diketahuinya. Bahkan ia suka mengkaji apapun masalah, apalagi soalan dana hibah! Ini akan menjadi panggung untuk dia mengkritisi anak-anak muda yang dulu begitu gencar mengkritik pemerintah,” tambah Lem Umar. Mus menggelengkan kepala, sedang Aiyub hanya tersipu mendengar penjelasan Lem Umar. [Bersambung]…

Baca:

CERPEN: Perkara Dana Hibah (1)

Total
1
Shares
2 comments

Tinggalkan Balasan

Previous Article
ISYEF Aceh Menggelar Diskusi

ISYEF Aceh Gelar Diskusi Membahas Milenial dan Ekonomi Syariah

Next Article

Begini Cara Mendapatkan Surat Tanah Elektronik

Related Posts