CERPEN: Perkara Dana Hibah (3)

merdeka.com
ilustrasi/merdeka.com

Pesanan kopi Lem Umar, Mus dan Aiyub sudah tiba, beberapa menit pembahasan mereka mulai jeda. Masing-masing sibuk dengan membelinting rokok dan kopinya. Aiyub masih saja membisu, menunggu Lem Umar dan Mus menyeru kembali pembicaraan terkait saweran dan sunyi senyapnya kota ini di bulan yang lalu-lalu.

BACA JUGA:

CERPEN: Perkara Dana Hibah (1)

CERPEN: Perkara Dana Hibah (2)

Mungkin, sunyi senyap itu berkaitan dengan aktivitas manusia selama wabah melanda, atau pula karena ekonomi sedang diambang terbawah. Namun, sama saja bukankah kita harus kembali melihat kata-kata Tan Malaka?

Tentang revolusi dan ekonomi, yang harus digerakkan saat perut rakyat sedang lapar? Tapi, keadaan ini amatlah beda dengan kondisi di era Tan. Dalam situasi pandemi yang merambah, kita seperti dipaksa untuk tabah dan pasrah. Jangankan untuk berevolusi, untuk beribadah saja kita harus pandai-pandai menjaga diri, menjaga jarak, dan menjauhi kerumunan.

Hujan barulah saja reda, di warung kopi tempat biasanya Lem Umar, Mus, dan Aiyub mengulas cerita tiada satupun meja yang kosong, semua sudut dipenuhi oleh para pengunjung dari ragam rupa latar belakang.

Warung itu juga begitu riuh, masing-masing orang sibuk dengan aktivitas dan kesibukannya . Bahkan, orang-orang sedang membahas isu yang belakangan ini sedang hangat-hangatnya berada di panggung Headline negeri itu. Pula, hal yang sedang merebak adalah menyangkut perkara dana hibah yang diberikan pemerintah untuk seratus-an Ormas/OKP di negeri syariat tersebut.

Namun, mulut bising yang selama berabad-abad melengking pekik di kota ini, kini mulai bungkam dan mati suri. Barangkali, ada kaitannya dengan wabah? Tentu! Wabah adalah faktor utama yang membuat semua aktivitas manusia lumpuh total.

Ya, tapi hanya melumpuhkan aktivitas manusia, tidak melumpuhkan daya pikir kita untuk menjaga diri dari wabah itu. Pun, wabah juga tidak mengajari dan memaksa kita untuk memanfaatkannya sebagai jalan memupuk tujuan, yang barang tentu tak lain adalah hasrat politis, ekonomis, dan sebagainya.

“Sehingga membuat rakyat kecil terpuruk sejadi-jadinya, ditempa lagi oleh bencana wabah yang sudah setahun ini merambah negeri kita,” seru Lem Umar.

Selama wabah, kata Lem Umar, kondisi kota ini amatlah bisu dan kaku. Orang-orang ramai-ramai memilih untuk menjaga jarak, menjaga kesehatan, juga mengikuti semua protokol kesehatan sebagaimana yang dianjurkan pemerintah.

Namun, yang lebih miris di sini bukanlah kebisu-an manusia bersebab wabah. Tetapi, bungkamnya patron kritis para intelektual muda yang dulunya gencar sekali mengawasi, bersosialisasi, mengajak rakyat untuk patuh pada aturan.

Terlebih lagi andil mengkritik pemerintah atas kebijakan yang tidak merakyat. Lem Umar terus memaparkan pandangannya kepada Mus dan Aiyub, ia tak menghiraukan lagi kicau kelima anak muda di sebelah meja mereka

Tambah Lem Umar, selepas dari tahun lalu orang-orang tersipu kaku dan membisu. Kini, kota gemilang tersebut mulai bising kembali. Ramai-ramai orang sedang membahas dana hibah yang diberikan pemerintah ke berbagai lembaga kepemudaan.

Alih-alih lembaga kepemudaan tersebut menjadi mitra pemerintah dalam bersosialisasi mengenai penanganan Covid-19. Hampir di semua sudut warung kopi pinggiran kota ini orang-orang mulai membahas perkara ulayat tersebut dengan porsi dan sudut pandang yang beda-beda.

Hal itu mengundang banyak kritikan dari ragam profesi, mulai dari masyarakat bawah, menengah, pemuka agama, haria, pelaut, peladang, kaum niaga, pemuda, aktivis, akademis, serta praktisi, juga tokoh-tokoh masyarakat lainnya.

Bahkan, dari lembaga-lembaga yang tidak dapat jatah bantuan tersebut. Kritikan itu disadur dalam ragam macam sudut pandang, pun dengan variasi alasan yang tentunya beba-beda. Isu semenarik dan seseksi itu tak akan pernah dilewatkan atau diabaikan oleh para pakar, pemuka, serta pengamat segala lini di negeri itu.

Negeri itu amatlah kaya SDM dan SDA-nya. Berbicara SDM, hampir keseluruhan masyarakat Bandar Gemilang itu paham dengan berbagai hal. Mereka ambil andil dalam segala sisi persoalan yang sedang terjadi, juga menyertakan diri sebagai pengamat “segala lini”, atau pula sebagai “pemilik sujata dalil”.

Hal itu memang sulit dipisahkan dari orang-orang di kota tersebut. Dengan soalan apa saja, mereka sigap membahasnya, pula diikutsertakan dalil-dalil yang paten dan khatam mereka kuasai. Di lain pihak, Lem Umar dan Mus juga amat berkeinginan untuk meramu isu, mengambil bahagian dalam mengkaji dan melihat isu yang sedang merebak di kota mereka.

Bandar itu memang unik dan lucu, beragam soalan lahir di sana.  Sebab, tanah itu didominasi oleh ragam macam manusia yang datang dari berbagai daerah dan wilayah. Sebagai episentrum dan ibukotanya Aceh, kiota itu menjadi sentral untuk keberlangsungan hidup rakyat banyak.

“Aiyub, kau jangan terlalu maju, sebab kau belum tahu betul medannya Bandar Gemilang itu,” kata Mus kepada si perantau tersebut.

Sepertinya dia mulai mengalihkan pembicaraan. Bahkan, tepat dengan apa yang disampaikan pria hitam manis itu. Aiyub harus lebih jeli berjalan di atas koridor, bila mau tidur nyenyak, serta menyeruput kopi dalam keadaan nyaman dan tentram di Bandar Gemilang tempat dirinya megantung nasib.

“Ada benarnya yang dikatakan Mus barusan, Aiyub. Kau belum tahu persis bagaimana bandar ini. Ini kota lamiet, kota tempat para pemimpin memelihara makhluk pemakan tinja. Jadi, sebelum mengetahui seluk beluknya, jangan coba-coba untuk mengkritisi pemimpin kami,” tambah Lem Umar. [Bersambung]…

Total
1
Shares
1 comment

Tinggalkan Balasan

Previous Article
Kapal Rusia Tanpa Izin Masuk ke Perairan Aceh

Foto Feature: Kapal Rusia Tanpa Izin Masuk ke Perairan Aceh

Next Article
3.161 Nakes Belum Divaksin di Banda Aceh

Foto Feature: Tiga Juta Masyarakat Aceh Akan Divaksin

Related Posts