Dahlan Iskan Bicara D-dimer untuk Pasien Covid-19, Apa Itu?

Dahlan Iskan Bicara D-dimer untuk Pasien Covid-19, Apa Itu?
Ilustrasi. foto klikdokter.com

Mantan Menteri BUMN, Dahlan Iskan dalam salah satu tulisan di blognya menyinggung soal D-dimer bagi pasien Covid-19.

Dia menuliskan, “kalau saja tidak terkena Covid-19 mungkin saya tidak kenal istilah ini: D-dimer”.

Dahlan Iskan mengaku sudah ratusan kali memeriksakan darah. Tapi baru di saat terkena Covid-19 Januari lalu itu unsur D-dimer daraynya diperiksa.

“Saya bersyukur tik dokter memasukkan D-dimer ke dalam daftar yang harus dicek. Lalu ketahuanlah angka 2.600 tersebut. Kelewat tinggi. Normalnya, maksimum 500,” tulis Dahlan Iskan dalam blognya disway.id.

Dahlan Iskan mengutip pernyataan ahli bedah jantung terkemuka dari Unair Surabaya, Prof Dr Med Puruhito, dr SpB TKV. Dia menyebutkan D-dimer memang menakutkan para dokter di ICU Covid.

“D-dimer adalah munculnya ‘cendol-cendol’ di dalam darah. Lapisan protein tertentu dalam darah menyatu dengan teman sejenis, sehingga membentuk gumpalan kecil-kecil. Saking kecilnya, gumpalan itu tidak terlihat oleh mata. Bisa dilihat oleh mikroskop. Gumpalan itulah yang saya sebut cendol,” tulis Dahlan Iskan.

Apa Itu D-dimer?

Dikutip dari detik.com, dokter jantung dari RS Siloam dr Vito A Damay, SpJP(K) menjelaskan, D-dimer adalah fragmen protein yang muncul ketika bekuan darah larut dalam tubuh. D-dimer memang diperiksa pada pasien COVID-19.

Dalam kondisi normal, tubuh memiliki mekanisme untuk membekukan dan mengencerkan darah. Pembekuan darah terjadi antara lain ketika terjadi luka, untuk mencegah perdarahan terus menerus.

Pada infeksi Covid-19, virus SARS-CoV-2 menyebabkan gangguan pembekuan darah yang disebut koagulopati. Gangguan ini menyebabkan penggumpalan darah atau thrombosis di vena atau pembuluh darah balik yang mengalir ke jantung.

“Parameter untuk memeriksa apakah ada gumpalan darah inilah D-dimer itu,” jelas dr Vito.

Masih terkait pembekuan dan penggumpalan darah, dr Vito juga meluruskan anggapan bahwa minum air putih bisa mencegah kondisi fatal. Istilah ‘darah mengental’ menurutnya adalah oversimplifikasi dari kondisi osmolalitas darah yang meningkat sehingga terjadi hemokonsentrasi.

“Tapi darah mengental ini sebenarnya beda dengan darah menggumpal atau adanya bekuan darah pada covid. Jadi harus hati hati dengan istilah istilah ini,” terang dr Vito.

Pada umumnya, banyak minum air putih adalah anjuran sehat yang perlu diikuti. Namun tidak serta-merta bisa menggantikan fungsi antikoagulan yang digunakan untuk mencegah dampak fatal pengentalan maupun penggumpalan darah pada COVID-19.

“Yang jelas penggumpalan dan pembekuan darah pada kasus covid19 memang dapat mengakibatkan venous thromboembolism dan pulmonary embolism yang fatal, dan obatnya jelas bukan dengan minum air yang banyak,” tegas dr Vito.

D-dimer Pasien Corona Bisa Picu Kematian

Bagi yang terinfeksi virus corona menyebabkan berbagai efek pada tubuh manusia. Umumnya, seseorang akan merasakan sesak napas, demam, batuk, dan flu yang tidak berkesudahan.

Namun virus corona juga bisa menyebabkan masalah berbahaya lainnya, seperti pembekuan darah, atau D-dimer seperti disebutkan Dahlan Iskan yang sempat diperiksa dokter saat ia positif Covid-19.

Mengutip dari laman The Hindu dan Klikdokter.com, penelitian terbaru menemukan bahwa virus corona bisa menyebabkan pembekuan darah atau penggumpalan darah pada pasien positif Covid-19.,

“Para peneliti telah melihat adanya gumpalan besar di kaki dan di pembuluh besar paru-paru. Pasien dengan COVID-19 akan memiliki efek mikro-trombotik atau pembekuan kecil yang terjadi,” ungkap Matthew Heinz, dokter spesialis penyakit dalam di Tucson Medical Center.

Di India, pasien dengan Covid-19 datang ke rumah sakit dengan kadar D-dimer yang tinggi, dan ini sebagai penanda umum bagi trombosit pada pembuluh darah.

Dalam penelitian tersebut, para peneliti menemukan bahwa mereka yang memiliki tingkat D-dimer sangat tinggi, akan lebih rentan terhadap komplikasi pernapasan yang parah dan kematian.

Studi yang sama juga mengatakan, hampir sepertiga dari pasien Covid-19 dalam perawatan intensif mengalami pembekuan darah. Para peneliti mengatakan adanya kemungkinan bahwa gumpalan ini bisa jadi tanda dari penyakit lain.

Pembekuan Darah Membuat Pasien Virus Corona Jadi Fatal

Penelitian lain yang dilansir dari MedicineNet, menunjukan hasil perbandingan antara 7 pasien yang meninggal akibat virus corona, dan 7 pasien yang meninggal dengan paru-paru yang sehat.

Hasilnya mengatakan, bahwa virus corona akan menyerang lapisan pembuluh darah yang disebut dengan endotelium.

Kerusakan endotelium ini nantinya akan meningkatkan gumpalan darah dan membuat pembuluh darah jadi tidak berfungsi dengan baik

Dokter juga telah melaporkan, darah pasien Covid-19 mudah mengalami pengentalan dan membuatnya sulit untuk memberikan obat-obatan cairan.

Gumpalan darah pada pasien Covid-19 juga tampaknya membuat mereka berisiko tinggi mengalami masalah seperti serangan jantung dan stroke.

Bahkan, ketika dilihat di bawah mikroskop, paru-paru pasien Covid-19 dipenuhi dengan gumpalan mikro kecil gelap.

Dengan bekuan darah yang tersumbat dari pasokan darah paru-paru, pembuluh-pembuluh kecil ini akan menghambat laju oksigen dan buat seseorang jadi lebih sulit untuk bernapas. Alhasil, risiko kematian akan lebih tinggi.

Dokter Devia Irine Putri dari klikdokter.com juga menuturkan hal serupa. Pada pasien Covid-19 yang mengalami badai sitokin, jumlah pembekuan darah ini lah yang akan tinggi.

“Pembekuan darah itu kan berkaitan dengan adanya faktor-faktor proinflamatori seperti interleukin, dan sitokin. Jadi pasien dengan sitokin ini, yang akan berisiko tinggi,” jelasnya.

Sedangkan untuk risiko kematian akibat pembekuan darah sendiri, sebenarnya lebih disebabkan karena adanya thrombotic microangiopathy, yaitu pembuluh darah yang membeku dan berbentuk titik-titik kecil.

“Jika pembekuan darah ini lepas dan tersumbat ke otak, maka akan menyebabkan stroke. Jika pembekuannya terlepas ke jantung, maka mungkin bisa terjadi serangan jantung mendadak. Dan apabila pembekuan ini terlepas ke paru-paru, maka akan menyebabkan emboli paru,” ujar dr. Devia

Pembekuan Darah Sulit Didiagnosis

Mendiagnosis pembekuan darah pada pasien Covid-19 memang sulit untuk dilakukan. Sebab, gejala infeksi paru yang memburuk bisa sangat mirip dengan gejala emboli paru.

Lalu, virus corona bisa memengaruhi tes laboratorium yang digunakan untuk mendiagnosis gumpalan darah vena.

Meski begitu, dr. Devia mengatakan, bahwa pembekuan darah sendiri bisa dideteksi dari gejala-gejala yang dialami oleh pasien Covid-19.

“Jika pasiennya mudah memar, mudah mimisan, dan mengalami perdarahan hebat meski hanya tergores kecil, maka ini bisa jadi tanda seseorang alami pembekuan darah,” kata dr. Devia.

“Lalu, sendi bengkak dan nyeri juga bisa jadi gejala lainnya seseorang alami pembekuan darah. Ini karena perdarahan akan merembes sampai ke sendi, sehingga menimbulkan rasa sakit,” tambah dr. Devia.

“Bisa dicek juga pakai laboratorium dari cek darah. Dilihat juga faktor-faktor pembekuannya seperti PT, APTT, dan agregasi trombosit nya,” lanjutnya.

Sampai saat ini, pembekuan darah memang hanya menjadi masalah pada orang-orang dengan gejala Covid-19 yang parah.

Namun, jika bukan pasien Covid-19, sebutnya, tidak ada salahnya untuk melakukan upaya pencegahan pembekuan darah dengan berjalan santai di dalam rumah, melakukan peregangan secara rutin, dan bergerak aktif setiap harinya meski hanya berada di dalam rumah.[]

Total
27
Shares

Tinggalkan Balasan

Previous Article

Buku Doa Orang Gila Karya Taufik Mubarak Resmi Beredar

Next Article

Ketua DPRA Tak Hadir, Para Ketua DPRK Minta Rapat Koordinasi Pilkada Diskors

Related Posts