Dana Hibah Mengalir ke Rekening 100 OKP di Aceh (1)

Bola Liar Dana Hibah 100 OKP
Aliansi Pemuda Peduli Aceh (APPA) menggelar aksi protes terkait dana Bansos yang dikucurkan untuk 100 OKP di Aceh, Senin (25/1/2021). Muhammad | readers.ID

Petugas Satpam bersama personel kepolisian menutup pintu gerbang kompleks Perkantoran Gubernur Aceh. Sebagian di antaranya membentuk barisan, berjaga-jaga di depan gerbang putih bermotif ‘Pinto Aceh’ Senin (25/1/2021) siang itu.

Dari kejauhan belasan pemuda menggunakan sepeda motor menyisir jalan protokol. Raungan sirine terdengar di antara deru kendaraan yang lalu lalang di Jalan Teuku Nyak Arif, Kota Banda Aceh.

Para pemuda itu lalu berhenti di depan gerbang dan berdiri membentuk barisan. Mereka membentangkan spanduk berisi kalimat ‘Menggugat Dana Hibah, Mendesak Gubernur Untuk Menuntut Oknum yang tidak Bertanggung Jawab atas Pengelolaan Dana Hibah’.

BACA JUGA: EDITORIAL: Leaders are Readers

“Lihatlah kawan-kawan. Kehadiran kita ke gedung pemerintah tidak disambut baik. Mereka langsung menutup gerbang dari gedung yang merupakan milik rakyat,” kata salah seorang pemuda lewat pengeras suara.

Balma, koordinator aksi dengan suara lantang menyampaikan orasinya. Ia meminta klarifikasi dari pemerintah terkait penggunaan dana hibah Covid-19 yang dinilai tidak tepat sasaran.

“Kami meminta klarifikasi dan respon dari bapak Gubernur dan Sekda. Namun, sampai hari ini kami belum mendapatkan itu,” ucapnya.

Sikap protes itu tak hanya disampaikan dalam orasi saja. Belasan pemuda mengatasnamakan Aliansi Pemuda Peduli Aceh (APPA) itu kemudian menuliskan sejumlah pesan dengan cat hitam dan merah di atas spanduk.

Di antaranya bertuliskan ‘Utamakan Kepentingan Rakyat Kecil Bukan OKP’ dan ‘Rakyat Butuh Transparansi, Bentuk Tim Pengawasan Dana Hibah Agar Adanya Kejelasan’.

Kritikan para pemuda ini tak hanya berhenti sampai disitu. Mereka juga menampilkan aksi teatrikal, yang menceritakan pemberian dana hibah Covid-19 oleh gubernur kepada 100 Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP). Dengan memperlihatkan penderitaan rakyat Aceh yang sengsara dan lebih membutuhkan.

“Pak, lihatlah rumah saya. Rumah saya seperti kandang kambing,” ucap pria berbaju putih seolah mengadu ke pria necis dalam balutan jas hitam yang ada di hadapannya.

“Pak, bapak ada uang? Kalau ada saya boleh minta? Seratus ribu saja,” katanya lagi.

Bukannya menjawab pertanyaan tersebut, sosok pejabat yang ditampilkan itu malah sibuk dengan gawai di tangannya. Tak lama kemudian, tiba-tiba terdengar pembicaraan antara si pejabat yang belakangan diketahui adalah gubernur rakyat, dengan seseorang dari balik telepon.

“Halo! Haa, coba yang 100 OKP kemarin, dibawa masuk,” kata pejabat tertinggi itu. Seolah memerintahkan seseorang yang menjadi lawan bicaranya di balik telepon untuk mengundang beberapa organisasi ke kantor gubernur rakyat.

Sesaat kemudian, beberapa orang mengatasnamakan OKP datang menjumpai sang gubernur yang mengundang mereka.

“Ni ambil, ni ambil, ni ambil.” Sang pejabat lalu menghambur-hamburkan uang yang langsung direspon oleh para OKP tadi meskipun harus berjongkok untuk mengutipnya.

“Itu jangan demo-demo lagi saya. Itu mulut ditutup,” pesan sang gubernur usai menghamburkan uang yang diperkirakan mencapai Rp 9,5 miliar tersebut.

Melihat hal itu pria berpenampilan kumal tadi pun pergi meninggalkan kantor gubernur rakyat. Ia beranjak tanpa mendapatkan satu jawaban pun.

APPA menjadi salah satu gerakan pemuda yang menolak langkah Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, memberikan dana hibah Covid-19 ke 100 OKP di Aceh yang menyulut perhatian publik di penghujung 2020 lalu.

Surat Keputusan Gubernur Aceh bernomor 426/1675/2020 itu berisi tentang Penetapan Penerima dan Besaran Dana Hibah Kepada Badan/Lembaga/Organisasi Swasta dalam rangka penanganan Covid-19 Aceh Tahun 2020.

Surat itu ditandatangani langsung oleh Gubernur Aceh Nova Iriansyah, yang dikeluarkan pada 22 Desember 2020. Dalam surat tersebut juga dituliskan nama-nama 100 OKP penerima dana hibah Covid-19 beserta besaran dana bantuan yang diterima.

Untuk mengawal kebijakan Gubernur Aceh ini, APPA meminta pemerintah agar membentuk tim khusus yang mengawasi proses penyaluran hingga penggunaan dana hibah Covid-19 tersebut.

Balma mengatakan, bantuan yang dikucurkan mencapai miliaran tersebut dinilai lebih baik disalurkan kepada tenaga kesehatan, sebagai garda terdepan dalam penanganan Covid-19 di Aceh.

Pemuda APPA juga mengusulkan dana hibah yang diberikan berjumlah Rp.100 juta per OKP itu, tepatnya diberikan kepada para pengangguran agar digunakan untuk mendirikan usaha. Sebab, langkah itu dinilai menjadi solusi dalam menangani krisis ekonomi selama pandemi.

“Apakah dana hibah yang diberikan kepada OKP akan memberi pengaruh besar terhadap rakyat Aceh? Tidak, kita bukan tidak percaya, cuma kita takutkan tidak adanya transparansi,” kata Balma, saat dijumpai readers.ID pada aksi jilid 2 di Kantor Gubernur Aceh.[acl]

BACA JUGA: Mereka yang Terima Dana Hibah (2)

Total
1
Shares
1 comment

Tinggalkan Balasan

Previous Article

EDITORIAL: Leaders are Readers

Next Article
Mereka yang Terima Dana Hibah (2)

Mereka yang Terima Dana Hibah (2)

Related Posts