Danau Putra kembali Menghirup Udara Liar

Setelah Pulih, Harimau Terjerat Kaki di Aceh Tenggara Dilepasliarkan
Ilustrasi. BKSDA Aceh melepasliarkan seekor harimau ke habitatnya setelah proses pemulihan karena terjerat selama 8 hari. Doc BKSDA

Tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh melepasliarkan seekor Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) ke habitatnya di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), Sabtu (30/1/2021).

Harimau yang diberi nama Danau Putra jenis kelamin jantan berusia 1,5 tahun dengan berat 50 kilogram, sebelumnya pada tanggal 22 Januari 2021 ditemukan dalam kondisi lemah dan terluka akibat terjerat di kaki depan sebelah kanan.

Atas laporan masyarakat, pada 23 Januari 2021 tim BKSDA Aceh yang terdiri dari Tim medis balai dan Resort Wilayah 14 Aceh Tenggara – SKW II Subulussalam bersama BBTNGL, serta didukung tim medis, Kepolisian, TNI dan aparat desa terkait berhasil mengevakuasi untuk upaya penyelamatan.

Jerat berupa sling kawat yang mengenai kaki depan sebelah kanan mengakibatkan luka yang cukup parah. Apa lagi Danau Putra sempat meronta berusaha melepaskan jerat yang melilit di kakinya membuat hewan dilindungi itu semakin parah terluka. Sehingga tim dokter memutuskan untuk melakukan perawatan intensif di Kantor BPTN Wilayah 2 Kutacane, BBTNGL.

Kepala BKSDA Aceh, Agus Arianto mengatakan, selama perawatan intensif oleh tim medis proses penyembuhan luka yang dialami Danau Putra menunjukkan perkembangan yang sangat baik selama 8 hari.

Penamaan harimau tersebut dengan Danau Putra, sebut Agus, karena di kawasan tempat ditemukan dan dilepasliarkan harimau tersebut terdapat danau, sedangkan Putra untuk menunjukkan hewan dilindungi itu jenis kelamin jantan.

“Kemudian setelah melalui proses observasi atau pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh dan kelayakan, tim dokter hewan menyatakan Danau Putra siap dan layak untuk dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya,” kata Agus, Minggu (31/2/2021) melalui siaran pers diterima readers.id.

Danau Putra dilepasliarkan kembali ke kawasan Taman Nasional Gunung Leuser di Kabupaten Aceh Tenggara, (Resor Pulo Gadung, SPTN Wilayah IV – Badar, BPTN Wilayah II-Kutacane). Lokasi pelepasliaran merupakan habitat harimau jarak sekitar 3 km dari lokasi penemuan pertama saat terjerat.

Menurut Agus, penentuan lokasi pelepasliaran berdasarkan survey lapangan dan hasil kajian teknis oleh tim. Serta mendapatkan dukungan masyarakat setempat menyakini Danau Putra merupakan penghuni dari kawasan Taman Nasional Gunung Leuser.

“Jadi  harus dikembalikan ke tempat asalnya. Di sekitar lokasi yang menjadi tempat pelepasliaran telah dilakukan operasi sapu jerat oleh tim BBTNGL, BKSDA Aceh, bersama mitra serta dibantu oleh masyarakat,” tukasnya.

Kata Agus, kegiatan ini bertujuan untuk mengantisipasi dan meminimalisir ancaman khususnya jerat. “Kegiatan pelepasliaran berjalan lancar dan sesuai dengan tahapan kegiatan yang telah direncanakan. Keselamatan tim pelepasliaran juga menjadi perhatian utama,” jelas Agus.

Agus menyampaikan, usai dilepasliarkan oleh tim tampak harimau tersebut cukup bersemangat saat setelah pintu kandang terbuka. Danau Putra keluar dari kandang dan melakukan orientasi lingkungan untuk kemudian langsung bergerak menuju ke dalam kawasan hutan Taman Nasional Gunung Leuser.

“Semoga Danau Putra dapat kembali menjalani kehidupan alaminya hingga kelak dapat menambah populasinya di alam,” jelasnya.

Selama 2020 BKSDA Aceh telah melakukan 3 kali pelepasliarkan harimau di Tanah Rencong. Harimau tersebut adalah yang berkonflik di pemukiman masyarakat yang terkena jerat kawat.

Pelepasliaran pertama pada tanggal 10 Maret 2020 di Kota Subulussalam dengan menggunakan box trap di kawasan TNGL. Harimau betina bernama Dara ditemukan pertama karena terjerat kakinya pada tanggal 3 Maret 2020.

Medio Februari 2020 lalu, Dara bersama induk dan 1 harimau lainnya selalu berkeliaran di pemukiman warga di Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam.

Kemudian tim BKSDA memasang camera trap untuk memantau pergerakan tiga harimau tersebut. Lalu melalui rekaman camera trap itulah, petugas mengetahui ada satu ekor harimau mengalami luka di kakinya. Karena inilah dugaan petugas menyebabkan harimau tersebut selalu berada di sekitar pemukiman warga.

Pelepasanliar harimau lainnya diberi nama Ida yang dievakuasi dari Kecamatan Trumon Timur, Kabupaten Aceh Selatan 15 Juni 2020. Setelah dilakukan observasi dan dinilai siap dilepasliar kembali. BKSDA memutuskan Ida dilepaskan kembali pada 20 Juni 2020 di kawasan TNGL. Ida merupakan harimau yang berkonflik di Desa Kapa Seusak dan Desa Jambo Dalem sejak akhir Maret 2020 lalu.

Pelepasanliar harimau lainnya yang diberi nama Malelang Jaya jenis kelamin betina pada 9 November 2020 lalu ke habitatnya setelah lebih kurang 14 hari mendapa perawatan intensif dari tim medis BKSDA hingga pulih.

Saat ditemukan pada 18 Oktober 2020 Melelang Jaya dalam kondisi kaki terjerat kawat kumparan melilit di bagian leher, dada dan pinggang di Kecamatan Terangun, Kabupaten Gayo Lues. Akibatnya harimau itu mengalami gangguan sistem sirkulasi dan motorik syaraf tubuh bagian belakang.

 

Konflik Harimau di Aceh Meningkat

Berdasarkan data BKSDA Aceh konflik harimau di Serambi Makah sejak 2016 hingga November 2020 terus mengalami peningkatan secara signifikan.

Pada 2016 lalu konflik berdasarkan data BKSDA Aceh hanya 1 kejadian, meningkat menjadi 10 kasus pada 2017. Tetapi pada 2018 sempat menurun hanya 8 kasus, tetapi kembali meningkat pada 2019 menjadi 18 kasus. Sedangkan pada 2020 kasus konflik harimau di Aceh meningkat cukup signifikan menjadi 35 kasus.

Kabupaten Aceh Selatan daerah yang paling tinggi konflik harimau mencapai 21 kasus, lalu Kota Subussalam 11 kasus dan Aceh Tamiang 10 kasus.

Selebihnya Kabupaten Aceh Timur 5 kasus, Aceh Jaya dan Aceh Tengah sama-sama 4 kasus, Aceh Tenggara dan Aceh Utara 3 kasus. Sedangkan Nagan Raya 2 kasus dan Gayo Lues serta Aceh Besar sama-sama 1 kasus.

BKSDA Aceh menghimbau kepada seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama menjaga kelestarian alam khususnya satwa liar Harimau Sumatera dengan cara tidak merusak hutan yang merupakan habitat berbagai jenis satwa. Serta tidak menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi itu baik hidup ataupun mati.

“Serta tidak memasang jerat ataupun racun yang dapat menyebabkan kematian satwa liar dilindungi yang dapat dikenakan sanksi pidana sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” tukasnya.

Disamping itu, sebutnya, beberapa aktivitas tersebut juga dapat menyebabkan konflik satwa liar khususnya Harimau Sumatera dengan manusia, yang dapat berakibat kerugian secara ekonomi hingga korban jiwa baik bagi manusia ataupun keberlangsungan hidup satwa liar tersebut. []

Total
1
Shares

Tinggalkan Balasan

Previous Article

Melaut Keluar Batas Negara, Nelayan: Jumlah Ikan di Laut Aceh Sedikit

Next Article
Merekam Rona Senja di Pantai Alue Naga

Foto: Merekam Rona Senja di Pantai Alue Naga

Related Posts