Dinas Pendidikan Aceh Dorong Sekolah Kejuruan Jadi BLUD

Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Alhudri.

Dinas Pendidikan Aceh tengah mendorong Sekolah Menengah Kejuruan sebagai Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pengembangan Teknis dan Keterampilan Kejuruan.

Target itu mengacu Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

“Kita berharap dengan BLUD, nantinya SMK akan menjadi pusat industri di daerah sesuai dengan potensi dan bidang keahlian masing-masing sekolah kejuruan, serta akan meningkatkan kompetensi peserta didik, baik lokal, nasional maupun internasional,” sebut Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Alhudri dalam keterangan resminya, Senin (22/2/2021).

Dengan menjadi BLUD, sekolah kejuruan akan menyediakan tempat layanan usaha, baik barang atau jasa. Nantinya itu dapat meningkatkan proses pembelajaran siswa dalam menjalankan praktik industri dengan sistem teaching factory.

“Program ini melatih peserta didik memproduksi barang dan jasa selayaknya industri lainnya dengan legal berbadan hukum BLUD serta pola keuangan yang fleksibel. Nantinya produk hasil praktik dan aktivitas bisnis pada unit produksi sekolah  kejuruan tidak hanya menjadi pajangan semata, akan tetapi akan dipasarkan kepada masyarakat luas,” jelasnya.

Menurut Alhudri, saat ini cukup banyak produk di SMK di Aceh yang bernilai ekonomis. Adapun hasil dari usaha dan kegiatan pembelajaran teaching factory dapat menjadi pembiayaan tambahan untuk peningkatan kompetensi serta daya saing bagi SMK itu sendiri.

“Maka BLUD PTKK Disdik Aceh sudah selayaknya dibentuk, dan SMK sebagai unit layanan yang akan menjadi pusat industri di sekolah,” katanya.

Atasi Persoalan Pengangguran

Jika dilihat dari sistem pendidikan secara keseluruhan, menurut Hudri, Aceh masih dihadapkan dengan satu persoalan besar, yaitu pengangguran.  Penerapan teaching factory (Tefa) di sekolah, atau menjadikan sekolah kejuruan menjadi pusat industri yang legal.

“Konsep ini menyajikan model pembelajaran berbasis produk (barang/jasa) melalui sinergi sekolah dengan industri untuk menghasilkan lulusan yang kompeten sesuai dengan kebutuhan industri,” ujarnya.

Dinas Pendidikan Aceh melalui UPTD Pengembangan Teknis dan Keterampilan Kejuruan sedang menyiapkan draft yang akan tertuang dalam Peraturan Gubernur Aceh (Pergub) yang mengatur tentang tata kelola, rencana strategis, dan Standar Pelayanan Minimum (SPM).

Dokumen tersebut sebagai syarat administrasi untuk pengajuan pembentukan BLUD sesuai dengan Permendagri Nomor 79 Tahun 2018.

Alhudri menerangkan, pergub tersebut akan diajukan akhir bulan Februari nanti ke Setda Aceh untuk proses finalisasi dan penetapannya.

“Maka saya juga minta para kepala SMK seluruh Aceh agar fokus dan serius dengan mengembangkan produk-produk unggulan setiap sekolahnya,” tutur Alhudri.

“Ini sebenarnya adalah mimpinya ‘link and match’.  Apa yang ada di industri bisa dikerjakan di sekolah, dan sekolah juga bisa belajar apa yang ada di industri. Kemudian dari Tefa ini adalah bagaimana kita meng-copy ke sekolah lainnya,” tambahnya lagi.

Apa Itu Teaching Factory?

Ketua Tim Perumus Unit Layanan BLUD Pengembangan Teknis dan Keterampilan Kejuruan (PTKK) Dinas Pendidikan Aceh, Chaidir memberikan gambaran tentang Teaching Factory.

Menurutnya, Tefa adalah model pembelajaran berbasis produk (barang dan jasa) melalui sinergi sekolah dengan industri guna melahirkan lulusan yang kompeten sesuai dengan kebutuhan industri yang sedang berkembang.

Lebih lanjut Chaidir menjelaskan, penerapan metode Tefa di sekolah kejuruan yang ada di Aceh memiliki segudang manfaat di antaranya, untuk meningkatnya efisiensi dan efektivitas pengantaran soft skills kepada peserta didik di SMK, meningkatnya kolaborasi dengan dunia usaha/dunia industri melalui penyelarasan kurikulum, penyediaan instruktur, alih pengetahuan teknologi, pengenalan standar dan budaya industri.

“Meningkatnya kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan melalui interaksi dengan dunia usaha atau dunia industri, maka akan terjadinya perubahan paradigma pada proses pembelajaran dan budaya kerja di institusi pendidikan vokasi,” sebut Chaidir.

 

Total
8
Shares

Tinggalkan Balasan

Previous Article

Tes Urine Secara Acak, 5 Personel Polda Aceh Positif Narkoba

Next Article

Mengembalikan Makna Kuliner Apam di Tengah Masyarakat

Related Posts