Dosen Almuslim Bireuen sebut Data Kemiskinan BPS Membingungkan

Foto. Dok, istimewa

Hasil rilis Badan Pusat Statistik (BPS) yang mengumumkan Aceh kembali menjadi provinsi termiskin di Sumatera, telah menyita perhatian publik. Ragam komentar pro dan kontra bermunculan menyikapi persoalan angka kemiskinan tersebut.

Seperti halnya Munawar, Dosen Manajemen dan Kewirausahaan Universitas Al-Muslim, Peusangan, Bireuen. Dirinya menilai data yang telah dirilis BPS tersebut membingungkan banyak pihak.

“Hasil dari BPS itu memang membingungkan banyak pihak”, kata Munawar pada readers.ID, Kamis (18/2/2021).

Munawar mengatakan, jika dilihat dari sudut pandang dunia kewirausahaan maka malah lebih mengherankan lagi. Pasalnya, sejarah membuktikan banyak saudagar-saudagar sukses dengan etos dan mental enterpreneurship handal lahir di Aceh.

“Kalau kita melihat dari sudut kreativitas dan entrepreneurship, semestinya Aceh mustahil masuk provinsi termiskin dengan tingkat pengangguran yang lumayan tinggi,” ujarnya.

Munawar menjelaskan, Aceh adalah daerah dengan tingkat kesuburan tanah yang tinggi. Bentang komoditi pertanian, perkebunan, peternakan dan hortikultura lainya dengan kualitas terbaik serta tersedia di beberapa dataran tinggi, juga beberapa kabupaten/kota Aceh.

Belum lagi, kata Munawar, berbagai potensi komoditas perikanan Aceh yang sangat melimpah sebagai wilayah maritim. Dengan wilayah pesisir yang sangat panjang dari pantai selatan sampai ke pantai utara dan timur Aceh.

Jadi, apabila melihat dari potensi sumber daya alam (SDA) Aceh tanpa dukungan anggaran yang tinggi dari pemerintah pusat pun, tidak pantas Aceh masuk provinsi termiskin dengan tingkat pengangguran tinggi.

Selain itu, tambah Munawar, dengan catatan pemerintah serta masyarakat punya visi dan misi yang jelas tentang pengembangan industri-industri yang berbasis pada potensi unggulan SDA lokal Aceh di bidang pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan.

“Mungkin juga dibarengi dengan pengelolaan serta pengemasan dengan baik berbagai objek pariwisata unggulan yang ada, Aceh tak akan miskin,” ungkapnya.

Konon lagi, kata Munawar, Aceh saat ini didukung dengan anggaran daerah besar, ditambah transfer puluhan triliun dana otonomi khusus dari pemerintah pusat yang terus meningkat.

Bila Aceh ini mau maju dan terlepas dari jerat kemiskinan serta dapat mengatasi persoalan pengangguran, sebut Munawar,  harusnya dana otsus Aceh tersebut dapat digunakan untuk membangun sentra-sentra industri yang memproduksi kebutuhan masyarakat Aceh sehari-hari.

“Kita berharap uang otsus Aceh tetap berputar di Aceh dan mempunyai multiplayer effect dalam mengurangi angka kemiskinan,” terangnya.

Semetara itu, tutur Munawar, untuk generasi muda Aceh sebenarnya dengan sedikit kreatif sudah dapat menghasilkan uang dengan mengolah berbagai hasil sumber daya alam Aceh.

“Semoga akan banyak pemuda yang membuat produk bernilai ekonomi tinggi,” harapnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh merilis angka kemiskinan di Aceh, Senin (15/2/2021) yang menempatkan Aceh berada peringkat pertama termiskin se-Sumatera.

BPS Aceh mencatat, jumlah penduduk miskin di Aceh hingga September 2020 bertambah sebanyak 19 ribu orang. Sehingga, saat ini menjadi 833,91 ribu orang, atau secara persentase menjadi 15,43 persen.

Penambahan ini menjadikan Aceh kembali menjadi provinsi termiskin di Sumatera (15,43 %), disusul Bengkulu (15,30%) dan Sumatera Selatan (12,98%). Dibandingkan sebelumnya, pada bulan Maret 2020, jumlah orang miskin di Aceh 814,91 ribu orang atau 14,99 persen.

Total
1
Shares

Tinggalkan Balasan

Previous Article

UIN Ar-Raniry Luluskan 9 Doktor dan 111 Magister

Next Article
TRH  Bicara Milenial di Aceh: Menakar Atensi Politik dan Peluang Ekonomi

TRH Bicara Milenial di Aceh: Menakar Atensi Politik dan Peluang Ekonomi

Related Posts