drh Rosa, Ibu Bagi Bayi Gajah di Aceh

Inong, Bayi Gajah Liar yang diselamatkan dari Kubangan Akhirnya Mati
drh. Rosa Rika Wahyuni, seorang dokter hewan di Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh yang ditempatkan di Pusat Konservasi Gajah (PKG), Saree, Aceh Besar dan berstatus sebagai tenaga kontrak. Adam Zainal | readers.ID

Mata perempuan berusia 38 tahun itu tampak berkaca-kaca. Ia tak mampu menyembunyikan kesedihannya saat melihat dengus nafas bayi gajah yang dirawatnya meraung-raung kesakitan.

Perempuan itu adalah drh. Rosa Rika Wahyuni, seorang dokter hewan di Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh yang ditempatkan di Pusat Konservasi Gajah (PKG), Saree, Aceh Besar dan berstatus sebagai tenaga kontrak.

Ia tak dapat menyembunyikan rasa sedihnya. Kontak batinnya dengan gajah sudah puluhan tahun terjalin, tidak hanya dengan bayi gajah yang baru ditemukan ini, tetapi juga gajah dewasa dirawatnya dengan baik.

Satu di antaranya yang dirawat adalah bayi gajah yang terjebak dalam lumpur di pedalaman hutan Gampong Panton Bunot, Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie pada Jumat (12//2/2021).

BACA JUGA:

Menanti Bayi Gajah Sumatera Kembali Lincah

Bayi Gajah Terjebak di Kubungan, Sempat Lumpuh Mulai Bergerak

Perempuan kelahiran Saree, Kampung Aceh, Lembah Seulawah, Aceh Besar 22 Januari 1983 tersebut sudah 11 Tahun belakangan ini menjadi ibu bagi anak-anak gajah liar Sumatera.

Selama menjadi dokter hewan, beragam tantangan dan rintangan telah dilewati oleh ibu dua anak tersebut. Pun, beragam penghargaan juga telah diterimanya dari berkat dedikasi, keikhlasan, komitmen, serta kerja kerasnya dalam merawat satwa-satwa liar.

Rasa cinta Rosa terhadap satwa liar khususnya Gajah Sumatera amatlah besar. Hal itu terlihat dari rasa tanggung-jawab dan konsistensinya selama 11 Tahun belakangan ini menjadi dokter hewan dengan status kontrak.

Namun, bukan kemegahan yang menjadi tumpuan utama dari kehidupan perempuan hitam manis tersebut. Ia sangat tulus dengan pekerjaannya, walaupun profesi yang ia tekuni berisiko besar. Namun, Rosa telah menemukan hal lain di dunia yang sedang ia guluti selama ini, dan hal itu tak didapat oleh semua orang.

Di dunia yang sedang Rosa tekuni, ada banyak kenangan, pengalaman, kebahagiaan, serta peristiwa-peristiwa penting yang tak terhingga nilainya. Dan, semua itu hanya didapatkan oleh orang-orang terpilih seperti Rosa.

Rosa merupakan perempuan yang lemah lembut, santun, dan penuh kasih. Namun, di sebalik itu ia juga seorang yang tangguh, sudah keluar masuk hutan untuk mengatasi serta menangani berbagai permasalahan yang menimpa satwa liar.

Ketangguhan Rosa jelas terlihat dari prinsip dan komitmennya selama ini. Ia masih aktif dan bertahan utuh pada pekerjaannya yang terbilang tak memiliki pemasukan yang memadai tersebut. Tetapi cukup untuk kebutuhan hidup sehari-hari bersama keluarga tercinta.

Bayangkan saja, hampir setiap hari Rosa harus bertemu dan berinteraksi dengan gajah liar di PKG Saree. Bahkan, ketika ada peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan gajah dan satwa lindung lainnya ia harus segera turun ke lapangan, tentu ke pedalaman belantara rimba untuk menangani suatu kasus.

drh. Rosa Rika Wahyuni, seorang dokter hewan di Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh yang ditempatkan di Pusat Konservasi Gajah (PKG), Saree, Aceh Besar dan berstatus sebagai tenaga kontrak. Adam Zainal | readers.ID

Hal itu, telah dilakukan oleh perempuan berjiwa besar tersebut selama bertahun-tahun. Malah, bila ada tugas yang mendadak Rosa harus segera tancap gas dan meninggalkan buah hatinya di rumah berhari-hari, berminggu-minggu untuk sebuah rasa tanggung-jawab atas kerjanya, dan rasa tanggung-jawab atas satwa liar yang amat dia cintai.

Sekian lama malang-melintang hidup bersama gajah dan hutan, tak pula membuat rasa jenuh bagi Rosa. Ia masih begitu bersemangat. Ikatan batinnya memang sudah terikat betul dengan lingkungan pekerjaannya selama ini.

Bagi Rosa, bayi gajah merupakan anak baginya. Ia begitu mencintai satwa liar terumana gajah yang memiliki intrik positif dengan manusia. Di Aceh sendiri, masyarakat menyebut gajah dengan nama Poe Meurah. Maka tak ayal, jika setiap anak gajah atau induk gajah yang sudah jinak dan sudah hidup berdampingan dengan manusia langsung memiliki nama yang beragam.

Mengurus satwa liar, kata Rosa seperti kita mengurus anak-anak. Kita harus mengerti tentang dia. Chemistry kita dengan hewan harus terbangun, dan kita juga harus tahu apa kebutuhan dia. Kita yang harus memahami dia (gajah), sebab dia tidak bicara.

drh. Rosa Rika Wahyuni sedang merawat gajah di SPG Sare. Hotli Simanjuntak | readers.ID

“Dalam mengurus gajah kita harus main perasaan. Kadang saya terjebak dengan perasaan saya sendiri. Saya terlalu sayang sama gajah, sehingga bila ada gajah yang mati saya merasa kehilangan. Hati saya sakit,” kata Rosa kepada readers.ID, Rabu, (17/2/2021).

Sejauh ini, Rosa sangat menikmati dengan pekerjaan yang sedang diembannya walaupun hanya bergaji pas-pasan dan cukup untuk kebutuhan sehari-hari.

Di samping itu, hal yang membuat Rosa bertahan pada pekerjaannya tersebut tak lepas dari dukungan suami tercinta yang selalu memberikan support terhadapnya. Padahal, sang suami bekerja di Duri, Provinsi Riau.

“Suami saya mengalah, padahal gaji dia lebih besar dibanding saya pekerja honor,” ujar Rosa.

Menariknya, bahkan dalam keadaan hamil tua Rosa masih terjun ke lapangan mengatasi konflik gajah. Tidak ada orang yang tau kala itu kalau ia sedang mengandung. Menjelang melahirkan, Rosa baru ambil cuti, dan hal itu membuat kaget semua orang di BKSDA Aceh. Ketika itu konflik satwa di mana-mana.

Sangking senang dengan pekerjaannya, dalam kondisi kandungannya masuk bulan ke 9 Rosa turun ke Bener Meriah evakuasi Beruang, dan mengautopsi gajah di Ketol yang diracun.

Dalam kondisi hamil tua, Rosa mengautopsi 6 ekor gajah di lapangan. Ketika ia turun ke lapangan, suaminya yang menjaga si buah hati di rumah.

Di Tahun 2019, Rosa menerima piagam penghargaan dari BKSDA Aceh sebagai Keeper/Perawat Satwa dalam rangka hari Konservasi Alam di taman Wisata Alam Muka Kuning, Batam, Kepulauan Riau.

Di tahun yang sama pula ia menerima piagam penghargaan dari Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem atas perjuangannya dalam menyelamatkan satwa untuk kembali hidup di alam liar Aceh.

Tahun 2020 ia menerima piagam penghargaan dari PPNPN pusat pelatihan gajah Saree Balai KSDA Aceh atas jasa dan keahliannya dalam perawatan serta penanganan satwa liar periode 2010-2020.

drh. Rosa Rika Wahyuni sedang merawat gajah di SPG Sare. Hotli Simanjuntak | readers.ID

Riwayat Singkat drh. Rosa Rika Wahyuni

Setelah menamatkan Sekolah Perawatan Kesehatan Indonesia (SPK) Republik Indonesia, setara dengan SMA di Banda Aceh pada 2001.

Kemudian Rosa melanjutkan kuliah. Dari dulu, Rosa senang dengan dunia medis, lalu saat masuk kuliah memilih dua jurusan Kodekteran dan Fakultas Kedokteran Hewan Unsyiah (FKH) di Universitas Syiah Kuala (Unsyiah). Akhirnya ia lulus di FKH Unsyiah.

Pada 2007, Rosa menyelesaikan studi di FKH Unsyiah. Kemudian ia menikah dengan seorang lelaki pilihan yang lahir di Asahan, Sumatera Utara. Kisah pertemuan keduanya bertemu pada kegiatan kemanusian pasca tsunami. Lalu, ia menghabiskan hidup bersama keluarga tercinta.

Memasuki 2009 Rosa mengikuti program studi Coas. Ia menyelesaikan program studinya pada 2010. Ketika masih berstatus mahasiswa Coas ada kegiatan pelatihan terkait satwa liar. Dengan bekal yang selama ini ditempanya dari Mahasiswa Pencinta Alam (MAPALA) Leuser, sedikit banyak Rosa paham dengan medan dan curamnya belantara.

Saat itu pula Rosa lebih aktif di MAPALA Leuser. Karena ia menyukai dunia adventure dan suka dengan lingkungan hidup, maka Rosa memilih mengikuti pelatihan yang digelar Coas waktu itu.

Rasa cinta Rosa kepada satwa liar dan lingkungan hidup begitu besar. Ia memberanikan diri untuk masuk ke hutan lebat. Namun, keinginannya begitu, hingga dia bertekad dengan berbagai cara untuk bisa bekerja di hutan.

“Hobi saya waktu itu suka main di hutan. Jadi, Bagaimanapun saya harus bekerja di hutan,” kata Rosa kepada readers.ID, Senin, (2/2/2021).

Bagi perempuan Aceh saat itu bukanlah hal yang mudah untuk bekerja dan masuk hutan, apalagi dalam tim hanya dia seorang diri yang perempuan. Namun, Rosa berusaha menjerumuskan diri dalam setiap kegiatan yang berkaitan dengan hutan dan satwa liar.

Dengan berbagai kendala, tak mudah bagi Rosa untuk terlibat dalam kegiatan yang berbau dengan hutan dan satwa liar. Bahkan, ketika itu sangat jarang ada orang yang mau masuk ke wildlife, sebab masuk ke hutan tidak gampang dan penuh rintangan.

Dari pengalamannya keluar masuk hutan, membuat rasa cinta di jiwa Rosa tumbuh besar kepada hutan dan satwa liar, khususnya Gajah Sumatera yang hidup di belantara rimba Aceh.

Lambat laun dan malang-melintang di dunia yang ia senangi (hutan dan satwa liar), akhirnya Rosa mendapat informasi dari BKSDA Aceh bahwa di instansi tersebut sedang dibutuhkan dua orang dokter hewan sebagai tenaga kontrak.

Dari rasa semangat dan sikap antusiasnya Rosa mendapat tawaran untuk bekerja di BKSDA, saat itu ia masih berstatus mahasiswi coas. Lalu, ia tak ingin melewatkan peluang tersebut, apalagi besiknya memang di hutan dan satwa liar.

Sebelum menyelesaikan studi Coas Rosa sudah mulai bekerja sebagai dokter hewan di BKSDA Aceh. Hal itu tak terlepas dari pengalaman yang didapatkannya selama mengikuti berbagai pelatihan terkait dengan hutan dan satwa liar, pun dukungan dari teman-teman MAPALA Leuser.

drh. Rosa Rika Wahyuni sedang merawat gajah di SPG Sare. Hotli Simanjuntak | readers.ID

Awal Mula Mencintai Satwa Liar

Ketika sudah bekerja di BKSDA rasa cinta Rosa kepada satwa liar serupa rasa cinta kepada anaknya sendiri. Hal itulah yang dialami dara kelahiran Lembah Seulawah tersebut selama berinteraksi dengan satwa lindung, khususnya gajah.

Menurut Rosa, memperlakukan satwa liar sama halnya dengan memperlakukan anak kecil. Kita harus mengerti apa yang mereka butuhkan.

Perempuan pecinta alam dan lingkungan tersebut mulai menyukai dunia yang digulutinya sekarang pada saat ia pertama-kali ikut meneliti tentang satwa liar.

“Saat pertama bekerja di BKSDA saya sudah menjadi seorang ibu. Saat itu saya baru punya anak satu. Jadi, saya ingat waktu masih jadi perawat melihat penanganan terhadap satwa liar seperti kita menangani anak-anak,” jelas Rosa.

Seiring berjalannya waktu, rasa cinta dan kasih saya Rosa kepada satwa liar tumbuh merebak bak jamur di musim hujan. Tak ayal bila kasih sayang terpaut begitu dalam kepada gajah, sebab hari-hari yang dilalui Rosa memang selalu bersama satwa berbadan besar dan diyakini setia tersebut.

drh. Rosa Rika Wahyuni sedang merawat gajah di SPG Sare. Hotli Simanjuntak | readers.ID

Tugas dasar Rosa sebagai dokter hewan hanya sebagai medis, bila ada satwa khususnya gajah yang sakit diobati. Bila ada yang harus dijaga kesehatannya.

Tak hanya itu, Rosa juga sering ditugaskan keluar Aceh dalam urusan autopsi gajah, seperti ke Jambi. Ia tak hanya mengatasi urusan konflik gajah, tapi juga manangani harimau dan beruang.

Momen yang paling berkesan selama Rosa menjadi dokter hewan adalah ketika kehilangan Agam, anak gajah jantan yang dirawatnya selama 2,5 tahun.

Selama 2,5 tahun dirawat Agam (aneuk agam atau anak laki-laki) mengalami insiden patah kaki waktu itu, dan membuatnya mati.

Rosa mengatakan, bayi gajah sangatlah sensitif sehingga banyak yang mati. Salah satu penyebabnya adalah tidak ada pengganti ASI dari induknya.

“Ketika ada bayi gajah saya stres karena khawatir dengan keselamatannya. Sebab, sejauh ini belum ada bayi gajah yang bertahan sampai lama,” imbuhnya.

Menangani dan mengurus anak gajah amatlah sulit, sehingga jarang ada yang selamat. Banyak masalah yang dialami bayi gajah terhadap pertumbuhannya.

“ASI-lah yang paling baik. Sebab semua kebutuhan nutrisi itu ada di ASI induknya,” timpal Rosa.

BACA JUGA: Tanpa Air Susu Induk Bayi Gajah Sulit Bertahan

Penyebab kematian Gajah

Melihat angka kematian gajah makin tinggi di Aceh, baik mati faktor usia atau dibunuh. Rosa sedih pada moral manusianya, baik moral masyarakat, maupun moral di level pemerintahannya.

“Masalah kematian gajah dipicu dari eksplotasi hutan. Siapa yang memberikan izin itu semua,” imbuh Rosa.

Adanya kerusakan hutan yang saban hari terjadi, tutur Rosa membuat satwa liar terganggu, sehingga tereksploitasi masyarakat dengan berbagai macam cara. Intinya itu adalah ulah manusia. Itulah punca utama konflik satwa terjadi.

Selain itu, tambah Rosa merasa ada orang-orang di level tertentu yang bisa mengatasi semua itu. Bila diibaratkan, masalah konflik satwa ini ibarat kanker. Orang yang menderita kanker sering dilanda demam, dan kita mengobati demamnya saja, tidak mengobati kankernya.

Selama menangani dan mengotopsi gajah di lapangan, Rosa sering mendapatkan bahan-bahan kimia yang menyebabkan banyaknya gajah mati di Aceh seperti.

“Ada jenis racun Arsenic, Karboforat, yang sering ditemukan saat otopsi gajah. Racun-racun ini paling efektif untuk meracun mamalia,” jelas Rosa.

Jenis-jenis racun tersebut amat mudah didapatkan, sebab dijual di hampir semua toko pertanian yang ada di Aceh. Racun itu sering didapatkan saat melakukan autopsi pada harimau dan gajah.[acl]

Total
46
Shares
1 comment

Tinggalkan Balasan

Previous Article

Sahuti Erick Thohir, 27 BUMN Jalin Kerja Sama dengan KPK

Next Article

Rivalitas Antar Legend, Bank Aceh Syariah Tumbangkan Sigupai 2-1

Related Posts