Foto Esai: Pembudidayaan Kepiting Lunak, Bisnis Menjanjikan

Zulfan Aji Suib (61), pelaku budidaya kepiting lunak di Aceh.
Pekerja sedang memanen kepiting lunak dari kotak-kotak yang mengapung di tambak. Foto: Hotli Simanjuntak/readers.ID

Ribuan kotak-kotak berjajar mengapung secara melintang di atas air tambak yang berada di kawasan  Gampong Cot Lamkuweuh, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh. Beberapa pekerja terlihat sibuk mengeluarkan isi kotak tersebut karena sudah waktunya dipanen.

Kotak-kotak tersebut berisi kepiting lunak atau kepiting soka yang sudah dibudidayakan  dan siap dipasarkan ke konsumen.  Kepiting yang memiliki cangkang lunak dan lembut ini adalah makanan yang disukai oleh masyarakat di Negara-negara yang ada di kawasan Asia Tenggara.

 

Pekerja memilih kotak-kotak yang sudah siap di panen. Foto : Foto Hotli Simanjuntak/readers.ID

Saat ini peluang bisnis kepiting lunak (soka) terbuka sangat lebar, karena permintaan pasar terus meningkat. Umumnya sebagai komoditi ekspor yang sangat diminati Negara-negara di kawasan Asia Tenggara seperti Singapura, Thailand, China dan beberapa Negara lainnya.

“Hasil budidaya kita di sini belum mencukupi kebutuhan konsumen yang memesan ke petani kepiting lunak di kawasan ini,” kata Zulfan Aji Suib (61), salah seorang pelaku budidaya kepiting lunak di kawasan tersebut.

 

Zulfan Aji Suib (61), memperlihatkan kepiting lunak yang sudah siap di panen dan diexport. Foto: Hotli Simanjuntak/readers.ID

Menurut Zulfan, mereka kewalahan memenuhi permintaan pelanggan karena saat ini budidaya di kawasan tersebut masih terbatas dan belum menjadi budidaya kepiting secara besar-besaran.

“Masih terbatas budidaya perorangan dengan hasil produksi yang sangat terbatas,” kata Zulfan

Zulfan memiliki sekitar 15 ribu kotak tempat budidaya, yang bisa menampung  1,3 ton bibit kepiting dengan hasil panen mencapai 40-60 kilogram kepiting lunak setiap harinya dengan harga jual Rp 100.000/kilogram.

 

Menurut Zulfan Aji Suib (61), Hasil budidaya miliknya belum bisa memenuhi kebutuhan pasar karena keterbatasan produksi. Foto: Hotli Simanjuntak/readers.ID

Meski  pandemi corona menyerang dunia secara global, Zulfan tidak khawatir soal pemasaran hasil budidaya miliknya. Menurut dia,  untuk kebutuhan lokal saja kadang tidak cukup stok

“Perlu peningkatan produksi, dan tentu saja dengan peningkatan modal juga,” kata Zulfan tersenyum simpul

Proses panen dilakukan 15 hari setelah dibudidayakan. Foto: Hotli Simanuuntak/readers.ID

Kawasan pesisir Aceh yang memiliki lahan tambak yang luas menjadi modal yang kuat untuk pengembangan bisnis kepiting lunak tersebut.  Umumnya tanah tambak yang cocok untuk pengembangan kepiting lunak adalah kawasan lumpur berpasir denga kedalaman tambak kurang dari 80 centimeter

Tentu saja budidaya ini harus mempertimbangkan bibit kepiting yang baik, yakni yang memiliki berat minimal 0,1 ons sampai 0,5 ons.

Cara membudidayakan kepiting lunak tidak terlalu rumit, bahkan cenderung mudah. Yang paling utama harus dilakukan adalah proses pemotongan bagian-bagian kaki bibit kepiting agar nanti bibit melakukan proses pergantian cangkang.

Setelah dilakukan pemotongan bagian-bagian tertentu dari bibit kepiting (kultivasi), bibit selanjutnya dimasukkan ke dalam kotak-kotak yang diletakkan secara mengapung di atas air dengan bantuan pipa paralon yang kedap air.

Proses pemotongan hingga masa panen hanya membutuhkan waktu 15 hari saja, karena jika terlalu lama, maka cangkang akan menjadi keras kembali.

Teks dan foto : Hotli Simanjuntak/readers.ID

Total
0
Shares

Tinggalkan Balasan

Previous Article

DPRA Temui Fraksi Demokrat DPR RI Bahas Pilkada Aceh 2022

Next Article

Bermanja Dengan Alam Gampong Nusa

Related Posts