Gajah Jantan Ditemukan Mati di Aceh Jaya, Diduga Malnutrisi

Inong, Bayi Gajah Liar yang diselamatkan dari Kubangan Akhirnya Mati
drh. Rosa Rika Wahyuni, seorang dokter hewan di Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh yang ditempatkan di Pusat Konservasi Gajah (PKG), Saree, Aceh Besar dan berstatus sebagai tenaga kontrak. Adam Zainal | readers.ID

Seekor Gajah Sumatra (Elephas Maximus Sumatranus) ditemukan mati di wilayah Gampong Alue Meuraksa, Kecamatan Teunom, Kabupaten Aceh Jaya, pada Kamis (4/3/2021).

“Temuan bangkai Gajah Sumatra di kawasan Areal Penggunaan Lain (APL) di wilayah Desa Alue Meuraksa,” kata Kepala Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA), Agus Arianto, pada Sabtu (6/3/2021).

Usai mendapatkan informasi adanya gajah yang mati, tim gabungan dari BKSDA beserta instansi terkait lainnya melakukan olah tempat kejadian perkara dan nekropsi terhadap bangkainya.

Hasil olah tempat kejadian, tidak ditemukan adanya hal-hal atau barang-barang yang mencurigakan di sekitar lokasi.

“Kecuali sisa ikatan tali tambang yang masih melekat di kaki kiri depan gajah sebagian tali yang melingkar mengenai kaki telah tertutup jaringan otot,” ujar Agus.

Sementara hasil nekropsi oleh tim dokter hewan BKSDA, diketahui bahwa gajah tersebut berjenis kelamin jantan yang usianya diperkirakan lebih kurang 10 tahun.

Selain itu, tubuh gajah juga tampak kurus, sedangkan jaringan bawah kulit kering. Kondisi jaringan tubuh juga dikatakan Agus, sudah mengalami proses autolisis dan putrefaction.

Tidak ada tanda-tanda satwa mengalami keracunan, luka karena peluru atau kekerasan fisik lainnya selain luka parah dan infeksi pada kaki kiri depan. Kematian gajah sendiri diperkirakan sudah lebih dari 20 jam sebelum dilakukan autopsi.

Diduga satwa mengalami malnutrisi dan dehidrasi berat yang cukup lama karena keterbatasan gerak untuk mencari pakan serta minum akibat luka yang dialaminya.

“Kondisi satwa yang lemah menyebabkan imunitas satwa menurun dan memperparah infeksi luka, sehingga bakteri menyebar ke seluruh tubuh (bacterimia) dan berujung pada kematian,” jelas Agus.

“Dari hasil nekropsi yang dilakukan secara makroskopis bahwa kematian satwa diduga karena infeksi dari luka pada kaki kiri bagian depan akibat tali jerat yang mengenainya,” imbuhnya.

Guna mengetahui kepastian penyebab kematian gajah, sampel bagian organ seperti jantung, hati, ginjal, paru dan usus akan dikirim ke pusat laboratorium forensik.

Selanjutnya BKSDA Aceh akan terus berkoordinasi dengan pihak Kepolisian Resor (Polres) Aceh Jaya terkait proses penanganan kematian gajah tersebut.[acl]

Total
21
Shares

Tinggalkan Balasan

Previous Article
BMKG Keluarkan Peringatan Dini Aceh Berpotensi Hujan Lebat

BMKG Keluarkan Peringatan Dini Aceh Berpotensi Hujan Lebat

Next Article
'Pepesan Kosong' Jokowi Benci Produk Asing

'Pepesan Kosong' Jokowi Benci Produk Asing

Related Posts