Garit Ayah untuk Pertumbuhan Anak

Muhammad/readers.ID
Affani, salah seorang peserta Program Kelas Ayah di Aceh Jaya saat membawa anaknya imunisasi di Puskesmas Calang. [Muhammad/readers.ID]

Affani melangkah menerobos rinai yang mulai turun tak lama usai dirinya memarkirkan kendaraan roda empat miliknya di parkiran Puskesmas Calang. Bertalah-talah. Ia langsung menyusuri lorong tempat pelayanan kesehatan itu.

Langkahnya berhenti tepat di ruangan yang pada pintunya menggantung plang kecil bertuliskan ‘Imunisasi’. Sebongkah senyuman disuguhkan pria berusia 41 tahun itu pada seorang perempuan berbaju ungu yang duduk di kursi sembari membuai bayi.

Perempuan itu adalah Riana Gultom, istri Affani. Mereka warga Gampong Sentosa, Mukim Calang, Kecamatan Krueng Sabee, Aceh Jaya. Hari ini, Senin (8/11/2021), jadwal membawa sang buah hati yang masih berusia tiga bulan untuk imunisasi.

Affani masuk ke dalam ruangan sambil berbincang dengan bidan yang sedari tadi juga ada di ruangan itu. Tak lama kemudian, ia meraih anak ketiganya yang masih terlelap tidur dari serahan sang istri. Perlahan pria itu menerima dan membuainya agar tetap tenang.

Bidan meminta Affani untuk meletakan bayi perempuan di pelukannya pada alat pengukur berat badan yang ada di sisi ruangan. Pria berkacamata itu pun menaruh anaknya dengan pelan.

Matanya tertuju ke layar digital yang terus berubah menampilkan angka sesuai beban sandangan. Tak lama kemudian, pria itu kembali menggendong buah hatinya sambil sesekali mendaratkan ciuman ke pipinya.

“Lima kilo tiga ons. Naik sembilan ons dari bulan lalu,” ujarnya memberitahu bidan yang membantunya di puskesmas.

Humaira, putri Affani, lahir dengan berat tiga kilogram enam ons. Memasuki usia dua bulan, berat badannya naik menjadi empat kilogram empat ons. Kini, berat badannya telah lima kilogram tiga ons di usianya yang masih tiga bulan. Terbilang ideal untuk anak seusianya.

Usai menimbang berat, waktunya anak ketiga pria yang sehari-hari berprofesi sebagai nelayan tersebut merima vaksin polio tetes dua (Polio-2) dan suntikan imunisasi DPT/HB/Hib-2.

Agar proses memasukan antivirus ke tubuh bayi dalam mencegah penyakit menular bisa berjalan lancar, Affani membangunkan putrinya.

“Bangun neuk (sebutan anak dalam Bahasa Aceh), kita minum obat dulu ya,” bisik Affani berupaya membangunkan anaknya sambil mengelus lembut.

Kelopak mata Humaira pun terbuka setelah beberapa kali coba dibangunkan. Di dekapan ayahnya, ia menunjukan gerakan yang menandakan bahwa dirinya telah bangun.

Melihat dan mastikan bayi berusia tiga bulan itu telah terjaga, bidan yang masih ada di Ruang Imunisasi itu menghampiri Affani yang duduk tak jauh darinya. Lalu ia memasukan beberapa tetes cairan dari botol kecil ke dalam mulut bayi yang mengenakan balutan basterop tersebut.

Bidan berbalik badan dan mengambil suntik yang telah diisi beberapa mili vaksin untuk mencegah penyakit difteri, perusis, tetanus, hepatitis B, pneumonia, dan meningitis.

“Oeeaak, ooeeeaak, ooeeeaaak,” bayi itu menangis sejadi-jadinya usai bidan menghunjamkan jarum berisi antivirus di paha kanannya. Pekik tangisan, menarik pandangan beberapa warga dari luar ruangan.

Selaku ayah, Affani yang sedari tadi mendekap putrinya tersebut, sepontan menimang tak lama setelah bidan mencabut jarum suntik dari paha anaknya. Ia berupaya menenangkan buah hatinya itu.

Riana Gultom yang sedari tadi mendampingi suaminya, beranjak ke luar ruangan menuju depot obat puskesmas usai menerima secarik kertas dari bidan.

Rinai berlahan berhenti menyirami mukim Calang. Orang-orang di sekitar fasilitas kesehatan yang terletak di Jalan Pasar Baru, Gampong Blang, Kecamatan Krueng Sabee itu pun kembali beraktivitas tanpa perlu berteduh lagi.

Sementara, proses imunisasi Humaira telah selesai. Affani kembali menyerahkan putrinya kepada sang istri. Pasangan suami istri ini kemudian beranjak dari Puskesmas Calang setelah semua yang berhubungan dengan kesehatan bayinya telah dilaksanakan.

***

Affani merupakan salah seorang peserta dari Program Kelas Ayah. Program yang dijalankan untuk menggerakan sosok ayah terlibat dalam setiap proses tumbuh kembang anak. Minimal ayah harus berperan 1.000 hari pertama kehidupan anak.

Mulai dari memberikan perhatian gizi ibu dan calon bagi yang ada dalam kandungan, mengurus ibu dan anak usai persalinan, hingga memastikan asupan makanan serta imunisasi anak yang masih balita.

Pria kelahiran Calang, Aceh Jaya, 1980 lalu ini mengaku mulai mengikuti kelas saat istrinya hamil anak ketiga mereka di saat usia kandungan baru tiga bulan atau tepatnya pada Januari 2021.

Kala itu diceritakannya, ia mendapatkan undangan untuk hadir ke aula desa di tempatnya tinggal. Undangan tersebut dititipkan bidan Puskesmas Calang kepada istrinya sehari sebelum kegiatan.

“Tiba sampai di situ keesokan harinya, langsung dijelaskan bahwasannya –kegiatan– ini adalah kelas ayah,” kata Affani.

Materi yang disampaikan dalam itu dikatakannya, berisi tentang bagaimana menjaga istri saat hamil hinggaaktu melahirkan sampai menjaga anak. Ini pengetahuan baru baginya dan belum pernah didapatkan sebelumnya saat mengasuh anak pertama dan kedua.

“Baru tahun ini saya mengetahui ada kelas ayah,” ujarnya.

Meski sebelum mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya peran ayah dalam 1.000 hari kehidupan anak dirinya memang kerap menemani istri untuk memeriksa kandungan ke bidan maupun dokter.

Tidak hanya itu, ia pun terlibat dalam mengurus kedua anaknya itu. Sebab, selama memiliki anak pertama dan kedua, pria yang terkadang ikut terlibat dalam kegiatan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Aceh Jaya ini tidak tinggal bersama orang tua maupun mertuanya.

Walau begitu, apa yang dilakukannya selama ini ternyata tidak cukup. Sosialisasi mengenai peran suami dalam tumbuh kembang anak yang didapatkannya di kelas ayah semakin menambah pemahamannya.

“Apalagi saya baru mendapatkan anak perempuan. Dengan adanya kelas ini, mungkin cara mengurus bayi perempuan. Jadi kedekatan saya dengan anak, jelas,” imbuhnya.

Pengalaman tak jauh berbeda juga dirasakan warga Gampong Sentosa lainnya, yakni Syafril. Ia mengetahui adanya kelas ayah saat mengantarkan istrinya yang sedang hamil untuk hadir ke aula desa.

Sesampainya di lokasi, suami dari Ayu Silvia ini diajak bergabung bersama beberapa ayah lainnya –termasuk dengan Affani– untuk mengikuti kegiatan yang diselenggarakan pihak Puskesmas Calang.

“Sampai di sana, ada progam-program yang direncanakan dan di situ baru tahu bahwasannya itu adalah Kelas Ayah,” kata Syafril.

Sebelum mengikuti Program Kelas Ayah, dirinya mengaku, memberikan perhatian kepada sang istri yang sedang hamil kala itu hanya sesuai pengetahuan didapatkannya dari mesin pencarian di dunia maya.

Guna memastikan informasi yang didapatkannya dari mengakses internet, ia kerap menanyakan atau berkonsultasi kepada orang-orang yang berpengalaman di bidang kehamilan. Tujuannya agar tidak salah dalam memahami apa yang dibacanya.

Apa yang telah didapatkannya selama ini ternyata masih terbilang kurang. Di kelas, pria kelahiran Meulaboh, Aceh Barat, 1986 lalu tersebut ternyata mendapatkan berbagai pemahaman baru. Terutama pentingnya memberikan ASI (air susu ibu) ekslusif untuk bayi mulai dari usia 0-6 bulan.

Selain itu, ia juga mendapatkan informasi mengenai bagaimana cara merawat anak serta memberikan perhatian kepada istri agar ASI yang dimiliki tetap lancar dan bisa dikonsumsi oleh calon bayinya.

“Ada dikasih tahu juga terkait makanan apa yang bisa dimakan oleh bayi. Di umur tertentu bayi baru bisa mendapatkan makanan dan dibantu dengan makanan sesuai petunjuk buku gizi bayi,” ujar Syafril bercerita.

Materi yang disampaikan dalam forum tersebut harus diakui pria lulusan pertanian di Universitas Syiah Kuala ini sangat bermanfaat baginya. Terbukti, ketika awal kelahiran anak pertamanya dengan Ayu Silvia.

Usai beberapa hari melahirkan, anak yang ia beri nama Umar Rafasyah dikatakannya, kala itu tidak mau meminum ASI atau disusui oleh ibunya. Bahkan diakuinya, sang istri sempat mengalami stres karena hal itu.

Tak ingin anak kehilangan haknya untuk mendapatkan ASI ekslusif, pasangan ini pun sampai berupaya memberikan air yang menjadi sumber gizi utama bagi bayi tersebut dengan menggunakan dodot.

Akan tetapi cara yang mereka lakukan ternyata dianggap kurang tepat. Hingga akhirnya Syafril bersama istrinya mendapatkan pemahaman dari seorang bidan sekaligus Kepala Bidang Koordinator Puskesmas Calang, Nurliana mengenai pentingnya ASI diberikan langsung dari ibunya.

“Diajarinlah, memang awal-awal dikatakan bidan akan susah tetapi kalau anak sudah tahu bahwa di situ adalah sumber makanan dia, maka dia akan terbiasa,” kata Syafril.

Sejak saat itu, anaknya yang kini telah berusia lima bulan hingga kini mulai terbiasa meminum ASI langsung diberikan dari istrinya. Apa yang diajarkan oleh Nurliana dikatakan Syafril, tentunya sangat dibutuhkan bagi ayah-ayah lainnya untuk menangani kasus serupa.

Kasus Stunting dan Peran Ayah

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Jaya, jumlah balita di kabupaten ini pada 2018 mencapai 8.539 jiwa. Di antara itu, 13,8 persen di antaranya mengalami kasus tidak berkembang atau pendek (stunting), 636 jiwa balita kekurangan gizi, dan enam jiwa balita gizi buruk.

Sementara jumlah ibu hamil 2.459 jiwa dengan 674 jiwa di antaranya ibu hamil kekurangan energi kronis (KEK) dan 268 jiwa ibu hamil mengalami anemia. Sedangkan angka kelahiran hidup di Aceh Jaya untuk tahun yang sama mencapai 1.837 jiwa.

Melihat tingginya kasus-kasus tersebut, Kepala Bidang Koordinator Puskesmas Calang, Nurliana, berpikir perlu adanya edukasi maupun konseling untuk keluarga, terutama bagi bagi ayah.

Sebab, pengalamannya mengunjungi bayi di rumah warga, sebagian besar ayah tidak mengetahui jika anaknya mengalami permasalahan dengan gizi. Begitu juga saat mengunjungi rumah warga yang sedang hamil.

“Kala itu kondisi kasus gizi buruk untuk wilayah Puskesmas Calang tinggi,” kata bidan yang kini juga dipercaya sebagai Master of Training (MOT) Pemberian Makanan Bayi dan Anak (PMBA) Aceh Jaya itu.

Muhammad/readers.ID]
Affani, salah seorang peserta Program Kelas Ayah di Aceh Jaya saat membawa anaknya imunisasi di Puskesmas Calang. [Muhammad/readers.ID]

Nurliana lalu mencari tahu melalui literasi modul kelas ibu bagaimana cara agar permasalahan gizi yang dialami ibu hamil maupun bayi bisa diketahui. Selama ini yang ia ketahui, pihak puskesmas telah berupaya memberikan pelayanan dan perhatian kepada ibu maupun anak.

Salah satunya, memberikan roti khusus untuk ibu hamil yang mengalami keadaan kurus atau kekurangan energi kronis (KEK) dengan tujuan menaikkan berat badan. Selain itu, konseling pun diberikan.

Perhatikan terhadap ibu hamil dan bayi terus dilakukan hingga memasuki bulan keenam di 2019, namun nyatanya, kasus tidak juga turun.

Di modul itu belakangan diketahui bahwa penyebab tingginya kasus kesehatan keluarga dan gizi disebabkan karena tidak adanya dukungan dari suami atau ayah.

“Dari situ saya terpikirkan mengapa selama ini tidak berhasil karena tidak ada dukungan dari suami. Sebab, kami dari puskesmas sudah melakukan kegiatan,” ujar Nurliana.

“Saya pikir, peran ayah di sini juga memang sangat penting,” imbuhnya.

Pemahaman terkait diperlukannya peran suami dalam mendampingi istri saat kehamilan maupun ketika mengurus bayi, semakin jelas didapatkan Nurliana usai mengikuti pelatihan PMBA. Sehingga sejak Juni 2019, Puskesmas Calang berinsiatif untuk memanggil ayah mengikuti Program Kelas Ayah.

Gampong Panton Makmur di Kecamatan Krueng Sabee, menjadi lokasi pertama diterapkannya program tersebut yang langsung dihadiri oleh ayah.

“Jadi saat itu, ibu hamilnya dibuat kelas ibu, tetapi dengan syarat ibu hamil itu harus didampingi oleh suami,” kata Nurliana.

Kepala Seksi (Kasi) Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Jaya, Nufajraty mengatakan, Progam Kelas Ayah merupakan salah satu inovasi dari sejumlah kelas lainnya yang sudah dikembangkan di lokasi fokus (lokus) Puskesmas Calang.

Program ini dianggap sangat penting. Sebab, peran ayah dinilai begitu berdampak langsung terhadap ibu. Mulai dari psikologi ibu di masa kehamilan hingga pola asuh anak selama balita.

“Kalau kapasitas pengetahuan bapaknya itu –tentang kesehatan dan gizi– lebih tinggi, otomatis dia akan lebih care (peduli). Baik itu mulai dari pembelanjaan terutama untuk gizi anak, itu lebih baik,” kata Nufajraty.

Selama ini, selain di Puskesmas Calang, Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Jaya juga kerap melibatkan sejumlah kegiatan dalam kelas gizi. Kelas yang mulai dijalankan sejak tahun 2020 dengan 15 gampong tersebar di empat kecamatan menjadi lokus.

Kelas tersebut dikatakan Nufajraty berdampak positif dan terjadi perubahan yang signifikan dalam menyentas kasus stunting di Aceh Jaya.

“Itu merupakan salah satu kelas gizi untuk perubahan perilaku orang tua baik itu dalam pengasuhan pemberian makanan anak, perilaku lainnya yang berdampak terhadap status gizi anak,” jelasnya.

Sementara bagi Affani dan Syafril, ayah yang pernah mengikuti kelas mengaku jika kehadiran Program Kelas Ayah sangat membantu. Keduanya mendapatkan pemahaman baru dalam mengurus serta memberikan perhatian kesehatan maupun gizi istri dan buah hatinya.

Menurut Affani, Program Kelas Ayah untuk masa sekarang merupakan sebuah kebutuhan. Terutama dalam memberikan pemahaman dalam mencegah terjadinya stunting pada anak. Atau paling minimal, ayah mengetahui dan saling mengingatkan dengan sang istri terkait jadwal imunisasi anak.

Sedangkan bagi Syafril, meski ia tidak begitu mengetahui secara detail apa itu stunting, namun suami dari Ayu Silvia ini mengetahui bahwa anak yang kurang mendapatkan ASI serta gizi, dapat mempengaruhi pertumbuhannya.

“Yang saya tahu pertumbuhan terhambat. Salah satu materi yang disampaikan dalam kelas itu dikatakan, gara-gara di awal dia lahir tidak mendapatkan ASI atau kurang dapat ASI,” ujarnya.

Butuh Dukungan

Affani dan Syafril mengaku, jika mereka baru sekali mengikuti Program Kelas Ayah. Setelah pertemuan di awal 2021 lalu di desanya, mereka tidak pernah lagi diundang mengikuti kelas itu lagi.

“Yaudah itu saja sekali. Yang sekali itu memang program kelas ayah di sini. Baru itu pertama dibuat. Ntah itu percobaan atau apa, saya juga tidak tahu,” akui Affani.

Program Kelas Ayah diakui Nurliana memang belum merata seutuhnya dijalankan seluruh desa di Aceh Jaya. Sejak 2019, program yang membahas terkait kesehatan maupun kebutuhan gizi serta permasalah dialami bayi tersebut baru delapan kali dijalankan dengan melibatkan langsung sosok ayah.

Itu pun dikatakannya, baru bisa dijalankan di empat dari enam gampong di bawah Puskesmas Calang. Empat kali dilaksanakan di Gampong Panton Makmur serta masing-masing satu kali di Gampong Blang, Gampong Ketapang, Gampong Bahagia, serta terkahir desa kediaman Affani dan Syafril yakni Gampong Sentosa.

“Dirintis sejak Juni 2019, kemudian 2020 vakum karena lagi puncak Virus Corona, dan tahun 2021 mulai dijalankan kembali,” kata Nurliana.

Ketika progam mulai dijalankan lagi, kelas kembali mengalami kendala. Minimnya fasilitator membuat program hanya bisa dijalankan di Gampong Ketapang dan Sentosa saja selama 2021. Selama ini, diakui Nurliana, hanya dia dan dibantu beberapa bidan lainnya yang bertugas memberikan materi di kelas ayah.

Mengatasi hal tersebut, sempat terpikirkan pihaknya dan Unicef untuk memanfaatkan para ayah yang pernah terlibat di Program Kelas Ayah agar dijadikan fasilitator, akan tetapi hal ini perlu kebijakan lebih lanjut dari para pemangku kebijakan, seperti Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya.

Muhammad/readers.ID]
Affani, salah seorang peserta Program Kelas Ayah di Aceh Jaya saat membawa anaknya imunisasi di Puskesmas Calang. [Muhammad/readers.ID]

Minimnya fasilitator khususnya dari laki-laki juga diakui dinas kesehatan setempat. Nufajraty mengatakan, memang dalam hal ini diperlukan beberapa fasilitator dari sosok ayah untuk dilibatkan dalam program yang dijalankan sejak 2019 tersebut.

Akan tetapi hingga kini dinas kesehatan diakuinya belum memiliki pelatihan khusus fasilitator kelas ayah dari laki-laki. Sebab, selama ini tenaga kesehatan yang telah mendapatkan Latihan PMBA rata-rata adalah para bidan.

“Tetapi untuk kelas ayah belum terpikirkan,” kata Nufajraty.

Sehubungan dengan itu, kehadiran para ayah di pertemuan yang digelar dalam Program Kelas Ayah masih minim. Tidak sampai lima orang. Itu diakui langsung oleh Affani dan Syafril yang pernah mengikuti pertemuan kelas tersebut.

Menurut Affani, masih enggannya mengikuti kelas itu dikarenakan masih awamnya pemikiran serta kesadaran para ayah bahwa peran mereka sangat dibutuhkan bagi istri dan anaknya. Sebagian lainnya mungkin masih terkesan malu-malu mengikuti kelas tersebut.

“Itu dikarenakan belum tahu –pentingnya peran ayah–,” katanya.

Hal itu pun diakui Nurliana menjadi kendala lainnya yang ditemukan di lapangan selama ia dan teman-teman menjalankan program tersebut. Sehingga tingkat keberhasilan program itu belum sampai 100 persen bisa dijalankan.

Selain minimnya waktu dimiliki ayah karena bekerja, tingkat keacuhan warga juga masih tinggi. Para ayah menganggap jika kelas untuk membagi informasi terkait cara memperhatikan kesehatan dan gizi anak maupun ibu hamil hanya diperuntukan bagi kaum hawa.

“Masih banyak yang merasa tidak butuh. Itu masih tinggi sekali. Malah ada yang mengatakan “Ngapain saya hadir ke situ? Sementara itu kan kelas ibu-ibu.” Begitu,” ujar Nurliana.

Pemikiran acuh para ayah tersebut dikatakannya ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Cabang Kabupaten Aceh Jaya ini, diperlukan peran dari masing-masing desanya untuk memberikan pemahaman. Sementara dari pihaknya sendiri, berupaya meminta bidan desa dan kader untuk turun langsung mendatangi sang ayah.

Memantapkan Peran Ayah

Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya memiliki salah satu misi, yakni meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat terutama anak-anak usia 0-5 tahun. Usaha ini terbilang serius. Upaya pencegahan dan penanganan kasus malnutris maupun stunting di kabupaten ini diwujudkan dengan membentuk Progam Sekretariat Bersama Bangkit Generasi Aceh Jaya (Sekber Bangraja) Cegah Stunting Sejak Dini pada 2020 lalu.

Kasubbid Kependudukan dan Kesejateraan Sosial Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Aceh Jaya, Asmawar mengatakan, program yang melibatkan 12 Satuan Kerja Perangkat Kabupaten (SKPK) Aceh Jaya tersebut, melahirkan satu Peratura Bupati (Perbub) Aceh Jaya Nomor 22 Tahun 2020 Tentang Pencegahan dan Penanggulangan Malnutrisi (Stunting dan Gizi Akut) Terintegrasi Kabupaten Aceh Jaya.

Guna memfokuskan penanganan, muncul kesepakatan membetuk desa lokus untuk intervensi stunting 2021 di Aceh Jaya. Berdasarkan data EPPGBM Februari 2020, ada 58 desa yang harus diintervensi secara terintegrasi.

Asmawar menyampaikan, salah satu program intervensi terintegrasi yang menyasar orang tua dari anak yaitu bina keluarga balita (BKB). Para kader aktif di Posyandu dan PAUD HI (Holistik Integratif) akan memberikan pemahaman terkait layanan pengasuhan anak dengan dibekali edukasi tentang bagaimana 13 modul dari BKB (Bina Keluarga Balita).

“Salah satu dari modul itu yaitu, delapan fungsi keluarga. Di situ juga ada salah satu modulnya yaitu peran ayah. Peran ayah ini yang kita harapkan bahwa dinas teknis mereka terus melakukan asistensinya yang menjadi tufoksi mereka,” ujarnya.

Muhammad/readers.ID]

Terkait Program Kelas Ayah khusus, memang untuk saat dikatakan Asmawar, memang belum ada. Namun besar kemungkinan program itu bisa diajukan saat evaluasi kinerja dari Sekber Bangraja.

Misal, dicontohkannya, penyebab angka stunting tidak bisa turun dikarenakan adanya permasalahan pada pola asuh. Selanjutnya, ditentukan siapa yang tidak berkontribusi dalam pola asuh.

“Ternyata permasalahannya ada di pola asuh. Salah satunya adalah peran ayah. Nanti mungkin bisa juga disiapkan. Karena kami juga sedang merevisi rencana aksi pencegahan stunting terintegrasi. Jadi kita akan masukan di rencana aksinya,” jelasnya.

Intervensi lainnya agar kasus stunting menurun yakni dengan memasukan pengisian buku kesehatan ibu dan anak (KIA) atau biasa disebut buku pink ke RAD (Rencana Aksi Daerah). Bahkan, Baitul Mal setempat akan memberikan bantuan uang Rp500 ribu per ibu yang memiliki anak hingga berusia dua tahun.

Bantuan itu baru diberikan jika buku pink yang diisi dan dicatat oleh kader maupun tenaga kesehatan tersebut diisi sesuai ketentuan kesehatan. Sebab, dikatakan Asmawar, dari situlah diketahui kesehatan dan gizi ibu hingga anak.

“Jadi mereka setiap bulan memantau dan datang mengisi. Karena itu salah satu keberhasilan dari program yang diberikan,” ujarnya.

Walau telah diterapkan demikian, namun masih ada juga orang tua yang tidak memberikan informasi kesehatan dan gizi melalui pengisian buku tersebut. Padahal dari buku itu pula kader tahu mengenai informasi yang harus diberikan kepada ayah terkait ibu dan anaknya.

Tetapi jika buku pink diisi melalui pemeriksaan kesehatan, kader atau tenaga kesehatan yang datang mengetahui potensi permasalahan kesehatan ibu atau anak. Apabila ditemukan, maka akan lebih mudah melakukan pencegahan.

“Sehingga dia tahu kapan anaknya imunisasi, kapan ibunya harus diperiksa kembali. Itu yang kita harapkan,” ucap Asmawar.

***

Program Kelas Ayah memang belum mampu sukses berjalan 100 persen, namun progam ini, diakui warga yang pernah mengikuti kegiatan tersebut, memberikan andil dalam upaya pengentasan stunting.

Syafril berharap, Program Kelas Ayah tidak hanya sebagai program selingan di antara Program Kelas Ibu. Oleh karena itu, jika progam ini terus dilanjutkan, ia meminta untuk dijalankan secara masif dan dilaksanakan lebih spesifik lagi.

Selaku ayah, dirinya tidak ingin mendapatkan pemahaman terkait pola asuh anak bukan dari ahlinya. Sebab, peran ayah sangat dibutuhkan dalam 1.000 hari kehidupan anak.[acl]

Semua foto yang ada di artikel ini sudah mendapatkan izin dari pihak bersangkutan. Dilarang untuk mengambil maupun memperbanyak.

Total
0
Shares
1 comment

Tinggalkan Balasan

Previous Article

BI: Utang RI Capai 423,1 Miliar Dolar AS di Triwulan III

Next Article

Bappenas: Integrasi NIK dengan NPWP Dimulai pada 2023

Related Posts
Read More

Kata Gen-Z Soal Vaksin

Wajahnya tertutup masker hitam sambil menenteng beberapa lembar kertas menuju meja skrining. Sesekali ia menyeka rambutnya sembari membuang…