Hari Peduli Sampah: Bau Busuk Sisa Pembuangan di Aceh Besar (1)

Sampah yang berserakan di kawasan Baet, Kecamatan Baitussalam, Aceh Besar. readers.ID | Muhammad

Hamparan hijau persawahan terlihat ketika melintasi kawasan Jalan Blang Bintang Lama, atau tepatnya di Gampong Tungkob, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar. Sebagian tanaman mulai mulai mengeluarkan bulir-bulir padi muda. Sebagian lainnya masih dedaunan hijau yang pekat.

Suasana itu tentu menyuguhkan kesegaran bagi mata yang saban hari menatap rapatnya rumah-rumah penduduk maupun gedung perkantoran di Kota Banda Aceh.

Sayang, wangi dedaunan dari padi di kawasan itu tak bisa begitu dirasakan. Bau busuk dari berbagai bungkusan plastik yang menumpuk dan berjejer hingga lebih lima meter tepat di tepi  pematang sawah, meredupkannya.

Busuknya sisa pembuangan ‘ntah milik siapa’ itu kian diperparah ketika sengatan matahari mulai berada tepat di atas kepala. Walaupun kita berdiri tepat di seberang jalannya, baunya masih mengudara hingga menembus indra penciuman. Tak heran, lokasi itu kerap dikerubungi lalat dan serangga pemakan sisa pembuangan lainnya.

Kondisi sisa pembuangan itu juga terlihat di sejumlah titik kawasan Kabupaten yang dipimpin oleh Bupati Mawardi Ali itu.

Di kawasan Jalan Teungku Bakurma, Gampong Cot Cut, Kuta Baro, sisa pembuangan itu seolah memburamkan pematang sawah yang ada. Plastik-plastik menyimpan bau tak sedap itu berjejer di sepanjang jalan hingga beberapa meter.

Pemandangan tak sedap itu pun diakui warga setempat begitu mengganggu dan berisiko menimbulkan kerusakan lingkungan.

“Mengganggu pemandangan, selain itu bisa menyebabkan kerusakan lingkungan juga,” ucap Teguh, warga Gampong Cot Cut, Selasa (16/2/2021).

Ia menduga oknum yang membuang sampah di desanya bukanlah warga setempat. Sebab, dirinya pernah melihat ada oknum yang meletakkan sisa pembuangan tersebut.

“Dua kali saya pernah lihat, ketika melintas kawasan itu, ada pengendara motor dengan sengaja berhenti dan membuang sampah di situ,” kata dia.

Teguh tak bisa berbuat banyak kala itu, sebab oknum tak bertanggung jawab tersebut langsung berlalu ke arah yang berlawanan dengannya.

“Seharusnya masyarakat sudah mulai meningkatkan kesadaran terhadap pengaruh buruk pembuangan secara sembarang,” ujarnya sedikit berang.

Warga melintas di antara sampah yang berserakan di kawasan Jalan Teungku Bakurma, Kecamatan Kutabaro, Aceh Besar. readers.ID | Muhammad

Mengingat seringnya warga membuang sampah di kawasan desanya, pemuda Gampong Cot Cut ini berharap pemerintah menyediakan tempat pembuangan sampah sementara. “Minimal pemerintah menyediakan tempat sampah sebagai salah satu alternatifnya,” harapnya.

Dari Cot Cut, readers.ID beranjak ke kawasan Gampong Neuhen, Kecamatan Masjid Raya tepatnya di Jalan Laksamana Malahayati.

Di kawasan ini juga kerap terlihat sisa pembuangan ‘ntah milik siapa’ dan selalu berserakan hingga ke bahu jalan. Bau busuknya memudarkan suasana teduh pepohonan rindang yang memayungi kawasan itu.

Meski petugas kerap melakukan pembersihan, namun sisa pembuangan itu selalu hadir kembali dengan aroma busuk yang menyengat.

Masih menyusuri Jalan Laksamana Malahayati, dari Gampong Neuhen menuju kawasan Gampong Cadek, Kecamatan Baitussalam, mata kita juga akan dijajakan hal serupa. Sisa pembuangan ‘ntah milik siapa’ itu –jika dilihat secara teliti– akan selalu menghiasi bahu jalan raya dan sela-sela pemukiman warga di jalan lintas menuju bekas kerajaan besar di Aceh, yakni Kesultanan Lamuri, di Lamreh.

Bahkan, pemandangan itu juga terlihat hingga memasuki lorong di Gampong Baet, Kecamatan Baitussalam. Padahal larangan membuang sampah telah ditulis oleh perangkat desa pada spanduk berukuran 1,5 meter yang didirikan di lorong yang tembus menuju Gampong Rukoh, Kecamatan Syiah Kuala tersebut.

Sampah yang berserakan di kawasan Jalan Blang Bintang Lama, tepatnya di Gampong Tungkob, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar. readers.ID | Muhammad

Tak hanya di Baet, tulisan larangan membuang sampah juga tertera di Pasar Lambaro Angan, Kecamatan Darussalam. Padahal tempat itu hanya diperuntukkan bagi para pedagang menempatkan sisa pembuangan pasar.

“Masyarakat Dilarang Buang Sampah di Sini. Tempat Ini Khusus Pedagang Lambaro Angan Kalau Ada Kedapatan Kami Ambil Tindakan,” demikian peringatan tersebut. Spanduk berukuran dua meter itu dibuat oleh Ketua Pasar Lambaro Angan.

Agus, salah seorang pedagang mengatakan, jika dirinya pernah melihat oknum warga membuang sampah di tempat mereka. Akan tetapi, ia tidak berani menegur karena merasa segan.

“Ada juga warga yang membuang sampah di sini, walaupun gak sering. Kita gak berani larang juga. Tapi ketika ada petugas pasar biasanya langsung ditegur,” ucap Agus, pada Selasa (16/2/2021).

Aceh Besar Terlalu Luas, Namun Fasilitas Terbatas

Keluhan warga mengenai sampah harusnya mendapatkan perhatian serius dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Aceh Besar. Lalu bagaimana tanggapan mereka mengenai sisa pembuangan ‘ntah milik siapa’ itu?

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Aceh Besar, Syukri mengatakan, guna menghindari penumpukan sampah, pihaknya selalu melakukan pengangkutan setiap hari di sejumlah titik di atas.

“Tiap hari kita kelola, kita lakukan pengangkutan pengambilan,” kata Syukri, ketika dikonfirmasi readers.ID, pada Rabu (17/2/2021).

Produksi sampah di Kabupaten Aceh Besar sendiri dikatakan Syukri, mencapai 200 ton per hari. Permasalahan timbul ketika pihaknya hanya bisa menangani sekitar 60 ton per hari. Artinya, lebih kurang ada 140 ton sampah yang tidak bisa ditangani oleh pemerintah dan dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir di kawasan Blang Bintang maupun Jantho.

Sampah yang berserakan di kawasan Pasar Lambaro Angan, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar. readers.ID | Muhammad

Mengatasi hal itu, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Aceh Besar telah melakukan berbagai upaya. Salah satunya dengan memberikan sosialisasi berupa edukasi cara mengelola sampah kepada warga.

“Kita sudah pernah sosialisasi. Karena sekarang untuk menyediakan fasilitas, diwajibkan menggunakan dana desa. Apa itu untuk pengadaan truk sampah, tong sampah, tetapi selama desa belum menyediakan kita bantu fasilitasi,” ujar Syukri.

Keterbatasan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Aceh Besar untuk mengatasi sampah hingga sampai daerah pelosok juga jadi kendala. Oleh karena itu, peran perangkat desa dalam menjaga lingkungan, dikatakan Syukri, sangat dibutuhkan.

Kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kebersihan dengan tidak membuang sampah sembarang, dinilai masih minim.

“Kendala secara umum karena Aceh Besar itu kan luas. Fasilitas yang digunakan oleh pemerintah kan masih terbatas. Kemudian kesadaran masyarakat, maaf-maaf belum begitu maksimal,” ungkapnya.

Demi mencegah warga membuang sampah terutama di lokasi yang telah dibersihkan, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Aceh Besar mengakui telah memasang imbauan pelarangan.

Selain itu, bagi desa yang belum mampu menangani permasalahan sampah, Syukri menyampaikan agar perangkat desa berkomunikasi dengan pihaknya. “Telah kita sampaikan melalui spanduk, pertemuan-pertemuan, selalu kita mengajak masyarakat untuk aktif dan terlibat dalam pengelolaan persampahan,” kata Syukri.

“Kemudian kalau ada permasalahan sampah yang belum tertangani dan belum mampu dikelola oleh gampong atau desa boleh berkomunikasi dengan dinas lingkungan hidup,” tutupnya.[acl]

BACA JUGA: 

Hari Peduli Sampah: Pentingnya Pendidikan Sampah Sejak Dini (2)

Foto Feature: Sampah dan Polemiknya

Total
6
Shares

Tinggalkan Balasan

Previous Article
Ada 215 negara saat ini sedang membutuhkan untuk mendapatkan vaksin Covid-19 untuk memutuskan mata rantai pagebluk virus corona di masing-masing negara.

Jokowi: Vaksin Covid-19 Jadi Rebutan 215 Negara

Next Article
Anies Sebut Limpahan Air Bogor dan Depok Penyebab Banjir DKI

Anies Sebut Limpahan Air Bogor dan Depok Penyebab Banjir DKI

Related Posts