Impian Akkral Jadikan Aceh Destinasi Wisata Halal

Agam Aceh sekaligus Duta Wisata Indonesia 2021, Muhammad Akkral. Foto: Dok. Instagram @muhammadakkral_

Agam Aceh Muhammad Akkral (20) masih belum percaya menjadi sosok pemecah kebuntuan untuk pertama kali membawa Piala Bergilir Duta Wisata Indonesia 2021 ke bumi Serambi Mekkah.

Ia berhasil keluar menjadi yang terbaik dalam kontestasi salah satu ajang pemilihan duta prestisius di negeri ini setelah persaingan ketat antara delegasi 34 provinsi se-Indonesia yang diselenggarakan di salah satu hotel di Mataram, Nusa Tenggara Barat pada Minggu (7/11/2021) malam lalu.

“Masih belum percaya. Dan saya bersyukur sekali kepada semua pihak yang membimbing dan mendukung saya berjuang sampai di titik ini,” kata Akkral saat diwawancara readers.ID, Senin (15/11/2021).

Akkral bersama Salwa Nisrina Authar Nyakcut Daulat (Inong Aceh) telah terpilih menjadi Duta Wisata Indonesia Tahun 2021 usai bersaing ketat melawati berbagai tahap selama enam hari di NTB.

Adapun juara 2 Pemilihan Duta Wisata Nasional 2021 disabet oleh tuan rumah, Nusa Tenggara Barat. Sedangkan juara 3 diraih oleh Provinsi Bangka Belitung.

Diketahui sebelumnya Muhammad Akkral merupakan perwakilan Agam dari Kota Banda Aceh. Ia dinobatkan sebagai Agam Aceh 2021 dalam ajang Pemilihan Agam Inong Aceh 2021 yang diselenggarakan di salah satu hotel di Banda Aceh, Jumat (22/10/2021) lalu.

Menjadi juara di tingkat provinsi, ia melanjutkan peruntungan dengan berkompetisi ke tingkat nasional dan terpilih sebagai Duta Wisata Nasional 2021. Akkral bercerita, punya impian menjadi duta wisata sejak duduk di kelas 2 SMA dulu.

Pria kelahiran Sigli, 7 April 2001 itu mengaku dulunya sebagai sosok penakut dan tidak berani berbicara di depan umum. Bahkan saat duduk di bangku SLTP tepatnya di SMPS Unggul Yayasan Pendidikan Pembinaan Umat (YPPU) Sigli, Akkral mengaku minim sekali berkontribusi, baik secara akademis maupun aktivitas sosial.

Baru kemudian saat beranjak ke bangku SLTA tepatnya di SMAN 3 Unggul Sigli, Akkral aktif melakukan pengembangan diri dengan masuk ke organisasi dan mengikuti berbagai seminar-seminar serta komunitas yang bersifat positif di luar sekolah.

“Dari yang dulunya gak PD-an, suka ngomong belibet dan cepat-cepat, saat SMA saya kemudian belajar cara public speaking, berusaha meningkatkan kapasitas diri dan berupaya memberikan kontribusi untuk sekolah serta daerah,” ungkap Akkral.

Mengawinkan Sport Tourism dan Halal Tourism

Duta Wisata Indonesia asal Aceh ini juga diketahui sebagai atlet bulu tangkis dan punya hobi smash ‘bulu ayam’ itu sejak SD. Saat duduk di bangku sekolah, Akkral sempat menjuarai pertandingan bulu tangkis se-kabupaten/kota Sigli dan mewakili Pidie di ajang Popda dan PORA.

Terpilih menjadi duta wisata, Akkral punya keinginan besar mengawinkan konsep Sport Tourism (olahraga berbasis wisata) dengan Halal Tourism (wisata halal) sebagaimana yang digaungkan pemerintah daerah maupun pusat untuk Aceh.

Baca Juga:

Ia mencontohkan, misal anak-anak muda yang berolahraga atau jogging di Lapangan Blang Padang. Tak ada salahnya merekam dan mengabadikan aktivitasnya di media sosial dengan suasana dan kultur Aceh yang sangat kental di tempat tersebut.

Kemudian sambil beristirahat saat jogging, lanjut Akkral, teman-teman bisa mencicipi atau review makanan-makanan khas Aceh di sana sambil posting di media sosial yang nantinya membuat publik dari luar tertarik dan berdampak bagi peningkatan kunjungan wisatawan ke Aceh.

Terlebih menurutnya di era sekarang yang serba digitalisasi, melalui media sosial akan sangat mudah memperkenal kekayaan objek wisata khususnya Aceh dan Indonesia ke mata dunia, asal dikonsep dengan baik, menarik dan kekinian.

“Konsepnya kayak FYP (for you page) di Tiktok-lah, kalau menarik dan hal-hal positif terus kita tampilkan dari Aceh, maka wisatawan domestik dan global akan menyorot daerah kita, mau berkunjung menghabiskan uangnya ke sini,” ungkap Akkral.

Sektor wisata menurutnya masih sangat berkontribusi untuk pertumbuhan ekonomi masyarakat, terutama di wilayah sekitar objek destinasi wisata yang dikunjungi. Selain itu, kunjungan wisatawan juga berkontribusi menjadi pendapatan asli daerah (PAD).

Untuk itu, lanjutnya, perlu terus dilakukan edukasi kepada masyarakat agar publik Aceh menjadi sadar wisata, baik itu dengan menjaga keramahtamahan terhadap wisatawan yang berkunjung, menjaga sampah dan kebersihan lingkungan serta menerapkan konsep wisata halal secara menyeluruh dan berkesinambungan.

Agam Aceh yang merupakan Duta Wisata Indonesia itu juga mengungkapkan keresahannya terhadap pandangan negatif yang selama ini ditabalkan oleh sebagian orang terhadap Aceh, mulai dari penerapan syariat Islam hingga kasus anjing canon yang terjadi beberapa waktu lalu.

Menurutnya, citra Aceh yang sebenarnya harus betul-betul ditunjukan dan dikampanyekan kepada publik bahwa penerapan syariat di Serambi Mekkah ini benar-benar ramah kepada siapapun dan menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi.

“Cita-cita saya, Aceh bisa dikenal sebagai objek wisata halal ramah muslim dan ramah terhadap siapapun,” ungkap Akkral.

Tugas Berat Rebranding Wisata Aceh

Pria yang merupakan mahasiswa semester V Jurusan Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh ini mengaku, punya tugas berat ke depan dalam mempromosikan berbagai potensi wisata yang ada di Aceh dan belum terlihat ke publik.

Meski demikian, ia percaya Aceh akan sampai pada titik di mana mencapai kejayaan dari sektor pariwisata bila semua pihak bersama-sama mendorong kebangkitan wisata di Aceh menjadi destinasi ramah dikunjungi baik untuk wisatawan domestik maupun wisman.

“Saya punya impian besar agar Aceh bisa menjadi objek destinasi wisata halal terbaik dunia. Lombok, mereka masyarakatnya sangat sadar wisata. Saya yakin sekali Aceh bisa, karena kita punya banyak keunikan,” ungkap Akkral.

Selanjutnya, menurut Akkral perlu didorong masyarakat Aceh agar terus teredukasi mengenai pariwisata dan percaya bahwa semakin banyak pengunjung datang ke Aceh maka semakin besar pula kontribusi ekonomi yang bisa diberikan, baik kepada pelaku usaha di sekitar objek wisata, maupun terhadap pendapatan daerah.

Ia berujar, budaya Aceh yang kental dengan tradisi Islam tentu akan menjadi nilai jual wisata halal di mata dunia bila dirawat dan di-branding dengan baik serta terkonsep. Ia mencontohkan, Tari Saman misalnya yang sudah ditetapkan dan diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia tak benda.

Kemudian museum tsunami yang hanya ada dua di dunia, salah satunya di Aceh. Museum tsunami menjadi monumen yang diperuntukkan sebagai destinasi wisata untuk mengenang bencana sekaligus bahan refleksi mengingatkan akan kebesaran Tuhan.

Belum lagi kata Akkral, Aceh sebagai daerah yang punya kejayaan dan kegemilangan di masa lalu. Sejarah ini dapat dijadikan sebagai nilai jual untuk dijadikan alasan kunjungan wisatawan melalui monumen-monumen peninggalan yang dirawat dan dijaga dengan baik oleh pemerintah, masyarakat dan khususnya terus dikampanyekan oleh anak-anak muda melalui dunia virtual.

“Ingat, Aceh pernah menjadi kerajaan nomor lima terbesar di dunia pada masa lalu. Anak-anak muda Aceh di masa kini, kita punya kesempatan untuk bangkit kembali, bangun dan berikan kontribusi positif untuk daerah. Aceh ini butuh kita agar bisa lebih bermartabat,” pungkasnya. [acl]

Total
3
Shares

Tinggalkan Balasan

Previous Article

Foto Feature: Perawatan Gajah Terluka

Next Article

Gibran akan Beri Sanksi Terhadap Guru Pelanggar Prokes

Related Posts
Read More

Kata Gen-Z Soal Vaksin

Wajahnya tertutup masker hitam sambil menenteng beberapa lembar kertas menuju meja skrining. Sesekali ia menyeka rambutnya sembari membuang…