Jalan Panjang Ibnu Arhas: Dari Musisi, Penceramah hingga Politisi

Ibnu Arhas bin Tgk Abdurahman bin Harun, musisi Aceh era 80-an. Foto: Muksal Zainal/readers.ID

Semilir angin bertiup ke sudut-sudut perumahan warga. Kicau burung menjadi irama di siang kelabu yang menaungi pemukiman di kawasan Panteriek, Lueng Bata itu, Kamis (11/2/2021).

Di satu komplek perumahan, seorang lelaki senja tampak sedang membenarkan pompa air di teras rumahnya. Ia lah Ibnu Arhas bin Tgk Abdurahman bin Harun, musisi fenomenal Aceh era 80-an.

Penikmat musik religi dan dangdut Aceh tentu tidak asing dengan sosok pelantun lagu ‘Paroh Tuloe’ dan ‘Nostalgia Aceh’ ini. Hingga kini pun suaranya masih dikenali masyarakat. Deretan lagunya juga masih bertebaran di berbagai platform media sosial.

Ibnu Arhas lahir di sebuah desa kecil pinggiran selat Malaka, desa Meunasah Paya, Kecamatan Trienggadeng, Pidie Jaya, Aceh, 1952 silam. Ia mulai berkiprah di dunia tarik suara ketika masih berusia dini.

Anak ke empat dari sembilan bersaudara ini lahir dan besar dari keluarga yang sederhana. Minatnya di dunia tarik suara sudah ia jejaki semenjak kanak-kanak. Ketika masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) misalnya, Ibnu Arhas mulai mengisi panggung-panggung dakwah kampung sebagai pelantun kasidah. Saat itulah pertama kalinya ia tampil di depan orang ramai.

“Dulu saya bisa tampil di atas panggung waktu itu berkat dukungan dan relasi dari kakeknya. Sang kakek ketika itu menjabat sebagai Geuchiek,” katanya saat ditemui readers.ID.

Memasuki usia remaja, Ibnu Arhas sudah lebih dikenal di masyarakat. Sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP), ia mulai sering tampil duet bersama Idris, adik kandungnya.

“Ketika itu tampil di atas panggung adalah hal yang langka. Apalagi di Aceh saat itu adalah mula-mula baru adanya microphone. Itu yang menjadi kebanggaan bagi ibu ke saya,” ujar sahabat akrab Rhoma Irama tersebut.

Lirik-lirik lagu Ibnu Arhas sebagiannya merupakan syair gubahan para pendahulu yang penuh dengan khasanah kehidupan dan pesan moral. Di samping sarat makna, syair-syair tersebut juga dipilih dari suku kata yang beragam.

“Selain lagu ‘Nostalgia Aceh’, tambang yang paling populer waktu itu adalah ‘Paroh Tuloe’,” jelasnya.

Tidak mudah menjadi penyanyi di Aceh pada masa itu. Selain tempat rekaman yang langka, transportasi di Aceh juga masih amat terbatas. Bahkan, di Aceh saat itu belum ada dapur rekaman seperti sekarang.

Semenjak kecil pula, Ibnu Arhas pernah bercita-cita menjadi bintang film besar. Namun, niat itu berbenturan dengan keinginan Abu-nya yang lahir dari latar belakang pesantren. Meski ia tetap bersikukuh pada cita-cita itu.

Hasrat Jadi Bintang Film

Setelah menamatkan sekolah menengah pertama, Ibnu Arhas hijrah ke Banda Aceh untuk melanjutkan pendidikan di SPMA, atau setara SMA kini. Namun, lantaran kondisi sakit, ia pun gugur dalam tes seleksi. Ibnu muda akhirnya memilih masuk ke sekolah menengah atas.

Tamat dari SMA, Ibnu Arhas berencana untuk melanjutkan pendidikan ke salah satu fakultas di Banda Aceh. Tapi, di lain sisi gejolak seni mulai mengikat batinnya. Pun, ia juga amat berhasrat ingin menjadi bintang film di Jakarta. Bermodal ambisi di dunia tarik suara yang juga begitu besar, ia pun hijrah ke ibu kota.

Ibnu Arhas menapaki rantau pada tahun 1974. Hasrat hatinya tak lain ingin menjadi bintang film ternama di kota metropolitan itu. Tetapi, ia tidak punya dasar yang cukup di dunia perfilman, dan akhirnya memilih menjadi pemain teater.

Di Jakarta, Ibnu Arhas juga masuk Sekolah Buana Teater selama tujuh bulan. Ia tampil di beberapa tempat. Namun tempat yang paling berkesan di ingatannya adalah Taman Ismail Marzuki.

Hasrat menjadi bintang film tak sampai di titik capaian. Tetapi semangatnya belum pupus. Bermodal tekad dan sedikit kemampuan bermain drama, Ibnu Arhas berusaha kerasan hidup di Jakarta.

“Supaya bisa tetap bertahan pada kecintaan di dunia seni yang saya cita-citakan waktu itu,” kata dia.

Ibnu Arhas mulai tampil di beberapa acara hiburan. Ia melakoni teater. Namun, di tengah meniti karier, ia mendapat pesan dari Abu melalui telegram masa itu. “Ananda segera pulang, Abu sakit berat”. Namun berita itu tak bikin hatinya tergugah, “ini hanya alasan supaya aku pulang ke kampung,” gumamnya kala itu.

Seminggu kemudian, ia teringat lagi dengan pesan itu. Tepat di tahun 1982, Ibnu pun pulang ke kampung halaman. Setiba di sana, ia melihat sang Abu terbaring sakit. Disitu ia berjanji untuk tidak kembali lagi ke Jakarta dan memilih menemani masa tua ayahnya.

Teman-teman teaternya di Jakarta terus mengirimkan kabar dan meminta Ibnu Arhas untuk segera balik ke ibu kota. Tetapi ia bersikukuh tetap tinggal di kampung menemani Abu.

“Waktu itu ada hal yang menyangga di hati Abu. Ia amat kecewa sebab saya sedikit nakal,” kisah Ibnu Arhas.

Berhari-hari kemudian, kesehatan Abu makin membaik. Ibnu Arhas mulai masuk rekaman di Robincon Record, Medan, Sumatera Utara. Di tahun 1982, ia menjadi musisi yang pertama kali masuk dapur rekaman di tanah Rencong. Hal itu tak lepas dari dukungan Nurnaini, seorang penyanyi legendaris tanah melayu. Sehingga lahirlah tambang perdana ‘Paroh Tuloe’.

“Di era itu, album-album lagu saya merebak ke seluruh penjuru Serambi Mekkah, bahkan keluar daerah dan negara-negara tetangga termasuk ke Arab Saudi,” pungkasnya.

Hampir keseluruhan lagu Ibnu Arhas bernuansa religi. Itu sebagai bentuk dakwahnya melalui syair untuk khalayak. Ada dua versi lagu yang digarap Ibnu Arhas masa itu, yakni religi dan dangdut Aceh.

Menjadi penceramah

Seiring kondisi kesehatan Abu-nya yang kian membaik, Ibnu Arhas diminta untuk berceramah di Gampong Sama Gadeng, Jeunib, Bireuen. Hal itu membuatnya kaget. Ia sempat mengira tawaran itu seolah pelecehan terhadapnya. Namun tawaran itu ternyata memang serius.

“Ini adalah Rahmat Tuhan,” ungkapnya.

Dengan rutinitasnya sebagai penyanyi dan pemain drama, undangan menjadi penceramah tentu menjadi hal yang tak terbayangkan. Tapi nasib tak ada yang tahu. Usai berceramah di Gampong Sama Gadeng, Ibnu Arhas malah menerima undangan ceramah dari daerah-daerah lainnya di Aceh.

“Pertama sekali saya menjadi penceramah di Gampong Sama Gadeng. Pengunjung waktu itu puluhan ribu orang,” kata Ibnu Arhas.

Waktu untuk ceramah jadi begitu padat. Hampir saban malam, Ibnu Arhas berceramah ke kampung-kampung di seluruh Aceh. Namanya berada di atas ingin. Selain penyanyi, ia juga dikenal sebagai penceramah kondang di Aceh.

Penyangga Karier

Hasrat untuk terjun ke dunia tarik suara tak mendapat restu dari Abu. Bahkan ada teguran yang amat mendalam dari almarhum ayahnya saat Ibnu Arhas memilih jadi musisi. Tapi, bentuk kekecewaan itu tidak diungkapkan.

“Abu sangat lama memendam rasa kecewanya waktu itu. Baru ia ungkapkan ketika saya sudah pulang dari Jakarta,” kisahnya.

Harapan Abu memang bertolak belakang dengan cita-citanya. Orang tuanya berharap Ibnu Arhas menjadi seorang yang alim dengan jadi penceramah, bukan penyanyi. Jalan yang dipilih oleh Ibnu Arhas di masa muda dianggap salah oleh ayahnya. Namun, ia tetap berusaha meyakinkan dengan berbagai cara.

“Abu seorang pemuka agama dan guru ngaji serta terpandang di kampung halaman, itu alasannya,” kata Ibnu Arhas.

Namun, arus kehidupan juga pengaruh masa muda telah membawanya menjadi penyanyi pertama yang masuk dapur rekaman di Tanoh Rencong. Ia condong ke dunia tarik suara,dari itulah, sampai-sampai keliru dalam merencanakan masa depan di hari tua,” singkatnya.

Menjadi Politisi di Tahun 1985

Seiring waktu, nama Ibnu Arhas semakin dikenal sebagai penceramah kondang di Aceh. Tak Tak lama kemudian, memasuki tahun 1985, ia ditawari menjadi bagian dari partai politik, kala itu Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Ia diundang oleh ketua DPC PPP Pidie yang dijabat oleh Majid Rahmat (alm) atau yang dikenal Let Majid.

Tawaran itu ditulis dalam secarik surat yang berbunyi,

“Ananda Ibnu Arhas segera berangkat ke Sigli. Ananda akan dididik menjadi Juru kampanye (Jurkam) Partai Persatuan Pembangunan (PPP).”

Ibnu Arhas segera bertolak ke Sigli. Ia menerima tawaran tersebut. Pada tahun 1986, Ibnu Arhas resmi bergabung dengan PPP, menjabat sekretaris Generasi Muda Persatuan (GMP) Pidie. Ia mulai memperlebar relasi ke sejumlah politisi dari Aceh hingga nasional.

Menjelang tahun 1987, Ibnu diminta PPP untuk maju sebagai anggota DPRD tingkat II atau DPRK di kabupaten Pidie. Kariernya mulus, ia langsung terpilih sebagai wakil rakyat kala itu. Tepat pada bulan Juli di tahun yang sama, Ibnu Arhas dilantik menjadi Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten Pidie.

“Bayangkan. Dari musisi, penceramah, lalu menjadi anggota dewan? Tak lebih seperti rusa masuk kampung,” katanya.

Tahun 1992, Ibnu Arhas menjadi pengurus PPP wilayah Aceh serta diusung menjadi DPRD tingkat I atau DPRA. Sampai di sini, ia tidak terpilih. Namun, Ibnu tetap konsisten berada di partai. Ia ditunjuk sebagai bendahara PPP wilayah Aceh saat itu.

Ia berhasil lima tahun kemudian. Ketika kembali diusung ke DPRD tingkat I, Ibnu terpilih jadi wakil rakyat. Waktu itu pemilihan DPRA tidak seperti sekarang. Di masanya, yang dipilih adalah partai yang mayoritas memiliki kekuatan dan pengaruh yang besar.

Sejak terjun ke politik di usia 34 tahun, aktivitasnya di dunia tarik suara nyaris tidak ada lagi. Ibnu disibukkan dengan pekerjaan dan amanat yang sedang diembannya kala itu.

“Dulu menjadi dewan tidak sama dengan sekarang. Kalau sekarang jadi dewan enak sekali. Ada Aspirasi (POKIR), ada rumah dinas, mobil, dan lain sebagainya,” kata lelaki yang pernah menjabat sebagai sekretaris komisi C DPRD tingkat I Aceh itu.

Semasa ia menjabat, anggaran Aceh begitu kecil. APBD-nya hanya 2,2 triliun. Apalagi selepas bencana Tsunami di Aceh, anggaran daerah mulai naik dari tahun ke tahun, ditambah lagi dengan dana Otsus (otonomi khusus).

Namun, sebagai sosok yang pernah berkecimpung di dunia seni dan politik, Ibnu mengaku keduanya jauh berbeda.

“Seni itu indah. Jadi tidak akan padu dengan politik,” terangnya.

Menurut Ibnu, seni tidak akan meleset. Kerja seni ibarat membangun rumah, jika ada yang miring atau tidak cocok pasti dibenarkan. Sedangkan politik, kata dia, sama sekali tak tahu menahu. Selepas sesuatu dibangun, keseimbangan dan kelayakan menjadi hal yang ke sekian, bukan utama.

“Di dunia politik, jangankan hak rakyat. Misal ada hak malaikat. Hak malaikat sekalipun berani diembat,” tukasnya.

Baginya, yang justru tidak dapat dipisahkan adalah dakwah dan seni. Pengalamannya menempuh berbagai hal dalam hidup, memang membuktikan bahwa keduanya selaras dan saling mendukung.

Harapan untuk Generasi Masa Depan

Ibnu Arhas mengapresiasi kreativitas anak muda Aceh hari ini. Para pelaku seni tarik suara yang menghiasi blantika musik tanah rencong, menurut dia, mampu mengangkat musik Aceh sehingga didengar oleh orang-orang Aceh yang berada di luar.

“Bahkan bisa dinikmati oleh orang-orang luar yang mencintai Aceh,” kata dia.

Ia berharap generasi ini selalu menjaga marwah dan harga diri orang Aceh. Termasuk soal karya. Ia mengaku gusar dengan fenomena cover lagu, yang sering kali dilakukan tanpa seizin pemilik karya aslinya.

“Mengcover lagu-lagu orang tanpa izin. Itu yang tidak kita sukai,” ujar Ibnu Arhas.

Ia menambahkan, ada etika di dunia tarik suara. Menurut dia bisa mengcover lagu orang lain, tapi harus sertakan nama si pembuat lirik. Sebab tidak mudah dalam membuat lirik lagu. Dari pengalamannya, proses membuat lirik tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Seorang pencipta lirik harus menentukan serta memilih suku kata dan bahasa yang kaya.

Sarannya, pelaku musik Aceh harus selalu produktif dan kaya dengan kreativitas, apalagi dalam urusan membuat lirik. Pelajari dengan giat untuk bisa menyusun lirik lagu yang padu dengan irama musik.

“Lirik dan musik itu harus serasi, meski berpadu dengan irama. Sebelum menulis atau membuat lirik, kita harus paham dulu materinya. Warna musik dengan warna lirik harus menyatu,” papar Ibnu Arhas.

Tak hanya itu, sebuah lagu harus memiliki ruh. Ia menyebutnya monumental, di mana sebuah lagu akan hidup dari masa ke masa, tidak lenyap ditelan zaman.

Kini, di usia tuanya Ibnu Arhas menjalani hari seperti biasa. Bermodal sepeda motor bututnya, ia melakoni rutinitas dari rumah ke mesjid. Ibnu juga masih mengisi pengajian serta khutbah Jumat.

Selama pandemi melanda, Ibnu Arhas memilih tetap di rumah, ada beberapa undangan ceramah sebenarnya. Namun, kerana kondisi negeri sedang tak menentu undangan tersebut dibatalkan.

“Saya melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk diri sendiri dan berguna untuk orang banyak,” tuturnya.

Kini, Ibnu Arhas tinggal di sebuah rumah sederhana yang ia terima sebagai bantuan pasca bencana Tsunami di Aceh, 2004 silam.

Total
11
Shares

Tinggalkan Balasan

Previous Article

PKS Dukung Pelaksanaan Pilkada 2022

Next Article
Sekjen DPP Demokrat soal Polemik Wagub Aceh: Partai Koalisi Harus Kompak 

DPP Demokrat: Seharusnya Gubernur Pimpin Advokasi Pilkada Aceh 2022

Related Posts