Jejak Garuda Indonesia di Aceh

Jejak Garuda Indonesia di Aceh
PT Garuda Indonesia merenovasi replika pesawat RI 001 Seulawah di Lapangan Blang Padang mei 2018 lalu. Pesawat replika cikal bakal pesawat Garuda Indonesia ini direnovasi dengan memperbarui cat pesawat tersebut. readers.id | Hotli Simanjuntak.

Di sudut Lapangan Blang Padang pesawat itu berdiri kokoh. Tubuhnya berwarna biru, di atasnya tertulis Indonesia Airways. Kalimat Persembahan Rakyat Atjeh menempel pada bagian pintu, sementara di bagian belakang bertuliskan RI-001 dengan bendera merah-putih.

 Itu adalah monumen replika Pesawat Seulawah RI 001 terletak di Lapangan Blang Padang, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh menjadi tonggak sejarah kebangkitan kedirgantaraan di Nusantara.

Monumen pesawat itu berada 1 kilometer dari pusat kota Banda Aceh, merupakan replika pesawat pertama milik Indonesia yang dibeli dengan bantuan dana dari rakyat Aceh secara sukarela.

Jejak Garuda Indonesia di Aceh
PT Garuda Indonesia merenovasi replika pesawat RI 001 Seulawah di Lapangan Blang Padang mei 2018 lalu. Pesawat replika cikal bakal pesawat Garuda Indonesia ini direnovasi dengan memperbarui cat pesawat tersebut. readers.id | Hotli Simanjuntak.

Pesawat itu memiliki panjang badan 19,66 meter, rentang sayap 28.96 meter, digerakkan dua mesin Pratt & Whitney berbobot 8.030 kg, mampu terbang dengan kecepatan maksimum 346 km/jam.

Selain berjasa dalam perjuangan Indonesia meraih kedaulatan, pesawat ini juga merupakan cikal bakal maskapai penerbangan di Indonesia.

Pada jaman itu, pesawat RI 001 ini berperan dalam mengangkut senjata, mengantar perjalanan Presiden Soekarno dalam membangkitkan semangat para pemuda dan membantu menyebarkan berita perjuangan dan kedaulatan Indonesia ke berbagai daerah hingga ke PBB.

Pesawat sumbangan Aceh inilah yang menjadi pesawat angkut pertama Indonesia dengan nama Indonesian Airways beroperasi di Burma, dan menjadi cikal bakal lahirnya Garuda Indonesia.

Dalam catatan sejarah Indonesia merebut kemenangan saat melawan penjajahan Belanda. Tak terlepas dari perjuangan rakyat ikut membantu negeri demi meraih kemerdekaan.

Salah satu bukti nyata itu lahir dari jiwa masyarakat Aceh yang ikut menyumbangkan harta kekayaannya demi membeli pesawat terbang pertama di Indonesia.

Jejak Garuda Indonesia di Aceh
PT Garuda Indonesia merenovasi replika pesawat RI 001 Seulawah di Lapangan Blang Padang mei 2018 lalu. Pesawat replika cikal bakal pesawat Garuda Indonesia ini direnovasi dengan memperbarui cat pesawat tersebut. readers.id | Hotli Simanjuntak.

Aceh menjadi daerah yang memiliki peranan penting, melalui hasil sumbangan dan gotong royong bersama, Bung Karno menerima sumbangan dari masyarakat Aceh sebanyak 120.000 dolar Singapura dan 20 kg emas murni.

Sehingga dapat membeli dua pesawat terbang yang diberi nama Seulawah R-001 dan Seulawah R-002, yang merupakan cikal bakal maskapai Garuda Indonesia Airways (GIA).

Nyank Sandang (92) pria berusia senja tinggal di Gampong Lhuet, Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya, menjadi saksi sejarah yang ikut menyumbang harta kekayaannya sebanyak 100 perak dari hasil menjual sepetak tanah seluas 40 tanaman pohon kelapa.

Nyak Sandang merupakan salah seorang dari sekian banyak masyarakat Aceh yang ikut menyumbangkan uang untuk pembelian pesawat. Ia begitu semangat saat mengisahkan perjuangannya bersama sang Ayah yang kala itu menjual tanah untuk membantu negeri.

Nyak Sandang masih menyimpan rapi bukti dokumen berupa obligasi yang merupakan surat pernyataan hutang dari pemerintah Indonesia  terhadap dirinya. Sumbangan modal pembelian pesawat itu akan dikembalikan beserta dengan pemberian hadiah dalam kurun waktu 40 tahun.

Semua keterangan dalam surat itu bertuliskan dengan ejaan lama seperti Tanda Penerimaan Pendaftaran, Matjam Hutang, Djumlah Hutang, dan Wedana Kewadanan atau Bupati Kabupaten.

Serta memuat jenis hutang, jumlah, nama yang mendaftarkan, tahun dan tanda tangan penerima. Bagian isinya ditulis dengan pensil sementara pada bagian tanda tangan menggunakan pulpen.

Nyak Sandang mengisahkan, saat ia masih berusia 23 tahun kala itu,  bersama orang tuanya dan seluruh warga berkumpul di masjid Lamno.

Sekitar pukul 11.00 WIB tahun 1948 seluruh masyarakat Lamno tumpah ruah memenuhi perkarangan masjid. Mereka berkumpul menyambut kedatangan gubernur Aceh Teugku Muhammad Daud Beureueh yang memimpin masa itu.

Maksud kedatangan Daud Beureueh atau disapa Ayah Daud oleh  masyarakat saat itu untuk menyampaikan hasil musyawarah bersama Bung Karno yang terbang ke Tanah Rencong untuk meminta bantuan rakyat Aceh pada Juni 1948.

Soekarno mengadakan pertemuan dan bermusyawarah bersama Daud Bereueh,  para tokoh-tokoh pejuang dan masyarakat pengusaha di Aceh Hotel.

Dalam pertemuan itu, Bung karno mencetuskan ide dan sekaligus menantang jiwa patriotisme rakyat Aceh untuk meneruskan dan melestarikan perjuangan kemerdekaan.

Bung karno dalam musyawarah itu mengharapkan terkumpulnya sejumlah dana perjuangan untuk membeli sebuah pesawat terbang yang sangat diperlukan.

Jejak Garuda Indonesia di Aceh
PT Garuda Indonesia merenovasi replika pesawat RI 001 Seulawah di Lapangan Blang Padang mei 2018 lalu. Pesawat replika cikal bakal pesawat Garuda Indonesia ini direnovasi dengan memperbarui cat pesawat tersebut. readers.id | Hotli Simanjuntak.

Beberapa hari setelah musyawarah itu kemudian Daud Bereueh berkunjung ke Lamno. Di hadapan warga, Daud Bereuh menyampaikan hasil musyawarah bahwa Indonesia sedang membutuhkan pesawat dan masyarakat diminta ikut membantu menyumbangkan uang untuk pembeliaannya.

Masyarakat yang  hadir di sana tumpah ruah, tidak hanya masyarakat biasa tetapi juga di hadiri ulama yang menjadi panutan masyarakat di Lamno yaitu Teugku Muhammad Idarus atau Abu di Sabang.

“Setelah Daud Bereueh kembali ke Banda Aceh. Masyarakat sepakat menyumbangkan uang membeli pesawat dengan kemampuan masing-masing,” kata Nyak Sandang.

“Kemudian Abu Disabang juga merespon seruan tersebut dan turut mengajak seluruh masyarakat Lamno untuk saling menyisihkan uang seiklhasnya. Ulama Lamno itu menyampaikan bahwa masyarakat janganlah bersedih karena ikut menyumbangkan uangnya,” lanjut Nyak Sandang.

“Orang tua saya waktu itu memiliki luas tanah ukuran 40 batang pohon kelapa. Tanah dijual seharga 100 rupiah uang hasil penjualan itu semuanya kita serahkan. Karena kami gembira sekali bisa ikut membantu,” tambahnya. 

Sistem pengempulannya kata Nyak Sandang, tergantung pada kampung masing masing-masing. Setelah terkumpul diserahkan ke Bupati,  uang itu tidak ada paksaan seberapa ikhlas.  “Semua masyarakat waktu itu sangat senang dan terharu bisa ikut menyumbang.”

Bagi setiap warga yang telah ikut menyumbang, perjanjian yang disampaikan Ayah Daud dalam jangka 40 tahun sumbangan modal pembelian pesawat akan dikembalikan beserta dengan pemberian hadiah.

Meski telah menyumbang sejumlah harta kekayaannya masa itu, Nyak Sandang mengaku dirinya tak terpintas sedikit pun mengharapkan balasan, ia bersama seluruh masyarakat Lamno memberikan bantuan masing-masing dengan penuh rasa keikhlasan dan bangga.

Menurut Nyak Sandang, pembelian pesawat itu dulunya dipergunakan untuk menerobos blokkade Belanda dimana situasi tanah air kala itu sedang mengalami kepungan politik blockade ekonomi dan militer dari pihak Belanda.

Sehingga pesawat ini dulunya menjadi jembatan yang menghubungkan antara pemerintah pusat di Yogyakarta dengan PDRI dj Suliki dan Kutaraja. Rute Adisucipto-Yogyakarta-Halim Perdana Kusuma, Palembang, Pekan Baru, Medan dan lapangan Blang Bintang di Banda Aceh.

Jejak Garuda Indonesia di Aceh
PT Garuda Indonesia merenovasi replika pesawat RI 001 Seulawah di Lapangan Blang Padang mei 2018 lalu. Pesawat replika cikal bakal pesawat Garuda Indonesia ini direnovasi dengan memperbarui cat pesawat tersebut. readers.id | Hotli Simanjuntak.

“Kami begitu semangat tua maupun muda demi membantu perjuangan negeri,” ujar Nyak Sandang menceritakan kisahnya dengan penuh semangat.

Para pemuda khususnya di Lamno, Aceh Jaya, meluapkan rasa kesenangan saat melihat R-001 melintasi langit Aceh dengan ramai-ramai keluar rumah menghadap ke langit sambil meneriakkan merdeka.

“Ketika mendengar suara pesawat dari kejauhan, semua masyarakat keluar rumah melihat ke atas dan kita selalu mengatakan itu dia pesawat sumbangan kita sudah pulang merdeka,” tegasnya.

Ia berpesan untuk generasi saat ini diharapkan masih menyimpan rasa nasionalisme yang kuat dari dalam diri. “Ketika pemuda zama dulu begitu dengan rasa penuh cinta terhadap negara maka saya harap anak muda sekarang juga masih memiliki rasa itu,” sebutnya.

Jejak Garuda Indonesia di Aceh
PT Garuda Indonesia merenovasi replika pesawat RI 001 Seulawah di Lapangan Blang Padang mei 2018 lalu. Pesawat replika cikal bakal pesawat Garuda Indonesia ini direnovasi dengan memperbarui cat pesawat tersebut. readers.id | Hotli Simanjuntak.

Nyak Sandang Bertemu Presiden

Nyak Sandang, kakek asal Aceh yang ikut patungan membeli pesawat Indonesia pertama pada tahun 1950-an, bertemu dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Pertemuan berlangsung di Istana Kepresidenan, Jakarta Rabu (21/3/2018)  pukul 18.25 WIB. Nyak Sandang diantar oleh dua orang anaknya.

Dalam pertemuan itu anak Nyak Sandang melaporkan soal kondisi kesehatan ayahnya. Nyak Sandang ada masalah pada penglihatan, yakni matanya mengalami katarak.

Dalam pertemuannya dengan Presiden Joko Widodo Nyak Sandang meminta 3 permintaan. Kakek asal Aceh yang ikut patungan membeli pesawat Indonesia pertama pada tahun 1950-an.

Nyak Sandang pun mengutarakan beberapa permohonan kepada Presiden. Salah satunya mengenai bantuan untuk operasi katarak. Jokowi langsung mengabulkan permintaan itu.

“Baik nanti saya uruskan untuk kataraknya. Katarak kan operasi ringan, besok tolong dicek ke rumah sakit untuk kataraknya,” kata Jokowi saat itu.

Kemudian Nyak Sandang meminta agar dibuatkan masjid di kampungnya di Lamno, Aceh. Terkait hal tersebut, Jokowi mengatakan akan mengirimkan tim terlebih dahulu untuk mengecek lokasi di sana.

Selanjutnya Nyak Sandang mengutarakan permintaan yang ketiga. Yakni, untuk menunaikan ibadah haji.

Jejak Garuda Indonesia di Aceh
PT Garuda Indonesia merenovasi replika pesawat RI 001 Seulawah di Lapangan Blang Padang mei 2018 lalu. Pesawat replika cikal bakal pesawat Garuda Indonesia ini direnovasi dengan memperbarui cat pesawat tersebut. readers.id | Hotli Simanjuntak.

Garuda Renovasi Replika Pesawat RI 001 Seulawah

PT Garuda Indonesia meresmikan wajah baru replika pesawat RI 001 Seulawah di Lapangan Blang Padang, Selasa (1/5/2018). Pesawat replika cikal bakal pesawat Garuda Indonesia ini direnovasi dengan memperbarui cat pesawat tersebut.

Sejak April Garuda Indonesia merenovasi pesawat bersejarah itu melalui PT GMF Aero Asia. Pesawat replika tersebut sudah lama tak direnovasi, sehingga warna sudah memudar dan sekarang sudah terlihat indah setelah dicat kembali.

Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman memberikan apresiasi atas kepedulian Garuda Indonesia yang merenovasi monumen penting sejarah dirgantara bangsa Indonesia.

Jejak Garuda Indonesia di Aceh
PT Garuda Indonesia merenovasi replika pesawat RI 001 Seulawah di Lapangan Blang Padang mei 2018 lalu. Pesawat replika cikal bakal pesawat Garuda Indonesia ini direnovasi dengan memperbarui cat pesawat tersebut. readers.id | Hotli Simanjuntak.

“Semangat masyarakat Aceh berkontribusi untuk perjuangan kemerdekaan RI tidaklah sekedar dengan tenaga dan pikiran semata, tetapi juga berupa material, dan salah satunya adalah pesawat Dakota RI-001 Seulawah ini,” kata Aminullah Usman, Selasa (1/5/2018) lalu.

Pihak Garuda Indonesia menjelaskan untuk renovasi monumen cikal bakal dunia kedirgantaraan Indonesia  menurunkan tujuh teknisi terbaik yang dimilikinya, pengerjaan renovasi replikasi pesawat ini rampung pada 16 April 2018 lalu dengan waktu 14 hari.

Adapun sejumlah pekerjaan yang mereka lakukan antara lain penggantian pintu dan jendela pesawat, memperbaiki korosi pada bagian badan, sayap dan ekor pesawat.[acl]

Total
19
Shares
1 comment

Tinggalkan Balasan

Previous Article

KMP Aceh Hebat 2 Mulai Berlayar ke Sabang

Next Article
Peta Bisnis BSI Paska Restu OJK

Peta Bisnis BSI Paska Restu OJK

Related Posts