Jeritan Siswa Desa Siron, Seberangi Sungai Demi Sekolah

Rakit bambu, transportasi masyarakat Desa Siron Blang, Kecamatan Kuta Cot Glie, Aceh Besar

Matahari berada tepat di tengah bumi. Langit di Aceh Besar bersih tak berawan. Semilir angin persawahan bertiup ke seluruh jalanan bebatuan. Debu-debu beterbangan di sepanjang jalan menuju ke jembatan ambruk Krueng Keumireu,  yang menghubungkan Desa Siron Blang, Kecamatan Kuta Cot Glie, Aceh Besar.

Canda tawa sekelompok anak-anak terdengar saling bersahutan. Suara mereka memecahkan keheningan Desa Siron siang itu. Ditambah suara gemericik air sungai yang mengalir deras di sela-sela batu, berpadu dengan suara sepatu di atas rakit bambu.

Anak-anak itu baru saja pulang sekolah. Namun, sebagian diantaranya tak langsung pulang ke rumah. Mereka menggantikan pakaiannya terlebih dahulu di tepi sungai, demi menjadi pengendali rakit bagi teman-temannya dan warga desa Siron Blang yang hendak menyeberang.

Rakit berukuran 3×1,5 meter itu dibuat dari potongan bambu dan beralas viber, khusus dibuat untuk anak-anak sebagai transportasi untuk menyeberang saat mereka sekolah. Rakit kecil itu hanya memuat sekitar sepuluh orang anak-anak.

Pasca jembatan Krueng Keumireu ambruk tiga tahun silam, transportasi masyarakat di Desa Siron Blang, Kecamatan Kuta Cot Glie, Aceh Besar, hingga kini masih lumpuh total.

Kendati jarak Desa ini hanya terpaut sekitar 15 kilometer dari kantor Bupati Aceh Besar, dan berjarak 40 kilometer dengan kantor Gubernur Aceh. Namun, selama ini tidak ada yang mendengar jeritan hati para warga Desa Siron.

Desa Siron merupakan desa pedalaman yang berada di Kabupaten Aceh Besar. Untuk menuju ke Desa Siron, memakan waktu hampir satu jam dari Kota Banda Aceh atau berjarak 60 kilometer.

Jembatan penghubung ke Desa Siron ambruk dibawa arus sungai pada Desember 2018. Selama putusnya jalur transportasi, masyarakat menggunakan perahu karet bantuan dari Pemerintah Aceh Besar untuk sementara waktu. Seiring berjalannya waktu, perahu karet itu pun diambil kembali oleh pihak terkait.

Rakit bambu, transportasi masyarakat Desa Siron Blang, Kecamatan Kuta Cot Glie, Aceh Besar

Dikarenakan debit air sungai yang sering tinggi, akhirnya warga desa Siron memilih mendirikan jembatan darurat dari batang kelapa. Sayangnya, jembatan darurat itu pun tak bertahan lama karena ambruk dibawa arus sungai.

Di tengah hari yang cerah itu,  gontai kaki para siswa serentak mengayun.  Seakan tak ada beban yang dipikul walau kenyataannya mereka harus mengarungi sungai setiap hari agar bisa tiba ke sekolah.

Mereka tetap selalu bahagia dan ceria, asa dan cita-cita mereka tak pernah pudar, meski setiap hari harus bergulat dengan sungai yang debit airnya tak menentu.

Razi (9), salah seorang siswa kelas III SD mengaku ia bersama teman-temannya tak pernah takut menyeberangi sungai dengan rakit yang dibuat dari bambu dan beralas viber tersebut. Pasalnya, tidak ada jalur lain yang bisa mereka lalui untuk bisa ke sekolah.

“Mau tak mau, kami harus menyeberangi sungai dengan rakit kecil ini,” kata Razi pada readers.ID, Jumat (19/2/2021).

Jarak sekolah dengan tempat tinggal mereka juga lumayan jauh. Mereka harus menempuh jarak 5 kilometer dengan berjalan kaki. Belum lagi setiap harinya harus bergelut dengan arus sungai yang debit airnya tinggi.

Setelah pulang sekolah, Razi tak langsung kembali ke rumah. Ia kerap membawa baju ganti, dan menggantikan seragamnya di bantaran sungai. Lalu, memilih menjadi pengendali rakit yang akan menyeberangi teman-temannya.

“Kami berharap jembatan ini segera dibangun,” ujarnya.

Senyuman Razi tak pernah pudar, ia masih memegang tali rakit dengan penuh semangat serupa seorang pawang (kapten) di laut yang mengendali kemudi  hilir mudik kapal.

“Kami kalau pulang sekolah langsung menggantikan baju di sini dan menjadi penarik rakit. Kan, sayang teman-teman yang cewek tak bisa menyeberang,” imbuhnya.

Razi dan beberapa temannya hampir setiap hari menghabiskan waktu di sungai setelah pulang dari sekolah.  Kecuali, ketika debit air sungai mulai tinggi orang tua mereka melarang ke sungai bahkan ke sekolah.

Sementara itu salah warga Riza Zulaini (38), mengatakan,  jembatan itu sudah ambruk dari 2018 yang hingga saat ini tak kunjung dibangun kembali.

Zuliani menuturkan, anak-anak di Desa Siron nyebrang sungai menggunakan rakit baru selama satu bulan terakhir. Biasanya, mereka langsung berenang menyeberangi sungai dengan catatan harus membawa baju ganti.

“Pemerintah sudah beberapa kali ke sini, tapi sampai kini jambatan ini tidak segera dibangun,” kata ibu satu anak itu.

Zuliani berharap jembatan tersebut segera dibangun. Mengingat,  banyak anak-anak yang harus menyeberang sungai ketika sekolah. Belum lagi ketergantungan dan terhambatnya transportasi masyarakat dalam mencari nafkah sehari-hari.

“Di desa Siron Blang ini ada sekitar seratus rumah warga,” paparnya.

“Bayangkan selama tiga tahun jalur transportasi kami sudah putus. Pemerintah hanya berjanji untuk membangun jembatan ini, tapi sampai kini belum nampak wujudnya,” tambah Zuliani.

Zuliani menuturkan, telah berulang-kali pihak pemerintah meninjau jembatan ambruk di Desanya. Namun, sampai sekarang belum ada tanda-tanda pembangunan kembali. Dirinya sangat menyayangkan anak-anak yang masih sekolah, harus menyeberang sungai dengan resiko besar.

“Ketika debit air sungai naik, anak-anak memutuskan untuk tidak sekolah. Sebagai orangtua kami juga melarang mereka. Sebab ini terlalu berbahaya,” kata Zuliani.

Bupati Aceh Besar Mohon Bantuan ke Menteri PUPR

Di tempat terpisah, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan  Permukiman Rakyat (PUPR) Aceh Besar, Syahrial, membenarkan bahwa jembatan Krueng Keumireu atau penghubung menuju ke Desa Siron sudah sejak lama ambruk.

Syahrizal mengatakan, setelah kunjungan Bupati Aceh Besar dengan Irmawan anggota DPR-RI asal Aceh, Fraksi PKB, Bupati telah membuat surat permohonan bantuan ke Menteri PUPR untuk pembangunan jembatan.

“Sebelumnya sudah pernah dibuat surat Bupati untuk pembangunan jembatan tersebut di 2020. Namun, hasil dari Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) saat itu untuk Aceh cuma ada 3 alokasi Jembatan. Sementara Jembatan Siron tidak termasuk,” kata Syahrial.

Syahrial menjelaskan, dari awal pihaknya sudah koordinasi dengan  BPJN dan mereka telah menyiapkan desain jembatan tersebut serta juga telah diusulkan melalui APBN.

“Anggarannya berkisar 6 Milyar. Itu untuk pembangunan Jembatan Gantung Gider, yang bisa dilalui kendaraan roda 4, tak termasuk truck,” ungkapnya.

Total
9
Shares

Tinggalkan Balasan

Previous Article
Ombudsman Aceh Ingatkan PLN Tidak Padamkan Listrik Bulan Puasa

Ombudsman Aceh Ingatkan PLN Tidak Padamkan Listrik Bulan Puasa

Next Article
Kredit Rumah dan Kendaraan Tanpa DP, Cicilan Ternyata Lebih Besar

Kredit Rumah dan Kendaraan Tanpa DP, Cicilan Ternyata Lebih Besar

Related Posts