Jika KLB Demokrat Sukses, Bagaimana Nasib Panggung Politik AHY?

Jika KLB Demokrat Sukses, Bagaimana Nasib Panggung Politik AHY?
Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Foto: instagram/agusyudhoyono/

Internal Partai Demokrat semakin panas. Pasalnya, sejumlah pendiri dan politikus Partai Demokrat semakin solid menggugat kepemimpinan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) .

Adapun upaya gugatan itu akan dibuat dalam penyelenggaraan Kongres Luar Biasa (KLB) untuk menyelamatkan partai berlambang mercy itu. Lalu, bagaimana nasib panggung politik AHY jika KLB itu sukses dilaksanakan dan tujuannya berhasil?

“Jika diakui tentu panggung politik AHY makin kecil dan tak memiliki kendaraan politik secara mandiri,” ujar Direktur IndoStrategi Research and Consulting Arif Nurul Imam, Rabu (24/2/2021).

Menurut Arif, membuat KLB tentu merupakan hal tidak begitu rumit. “Terlepas kemudian pesertanya bukan pemegang suara atau utusan pengurus di tingkat daerah. Yang menentukan selanjutnya adalah legalitas dari KLB tersebut apakah diakui Kemenkumham atau tidak,” pungkasnya.

Sekadar diketahui, sebelumnya AHY mengungkapkan isu upaya kudeta Partai Demokrat. AHY mengungkapkan gabungan pelaku gerakan upaya pengambilalihan kepemimpinan Partai Demokrat itu terdiri dari lima orang.

Adapun AHY sebelumnya juga pernah maju sebagai calon Gubernur DKI Jakarta dalam Pilkada 2017 bersama Sylviana Murni, namun perolehan suara mereka anjlok. Belakangan ini, AHY disebut-sebut masuk bursa Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2024 mendatang.

Tanpa SBY, Tak Ada Partai Demokrat di Indonesia

Kepala Badan Komunikasi Strategis DPP Partai Demokrat, Herzaky Mahendra Putra menyatakan, Demokrat adalah partai tokoh. Dalam dinamika politik, partai ini dibuat untuk mendorong Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi Presiden.

“Dengan kata lain, SBY adalah alasan pembentukan Partai Demokrat. Tak ada SBY, tak bakal ada Partai Demokrat di Indonesia,” kata Herzaky kepada wartawan, Selasa (23/2/2021).

Herzaky mengatakan, sekarang ada orang-orang yang dulu diajak untuk melengkapi syarat administrasi pembentukan partai, tiba-tiba merasa Partai Demokrat ada karena dirinya. Besar karena dirinya.

“Mereka itu bukan saja menderita cacat pikiran, memandang sejarah secara anakronistik, tapi juga punya ego jauh lebih besar dari tubuhnya sendiri,” katanya.

Lebih lanjut Herzaky mengatakan, dulu yang ikut berjuang bersama SBY, juga sudah mendapat ganjaran. Ada yang dipercayai menjadi menteri dan banyak pula yang menjadi anggota legislatif.

Menurutnya, dalam sejumlah krisis yang dialami partai, yang paling genting adalah pada 2014. Saat itu, figur SBY yang mampu menyelamatkan partai. “Kala itu, sejumlah kader melakukan kesalahan dan mengakibatkan ambruknya elektabilitas partai,” kata Herzaky.

Lebih jauh ia mengatakan, tanpa SBY, elektabilitas Partai Demokrat pada pemilu 2014 tinggal 3% karena dirusak oleh sejumlah kader. Dalam situasi itu, SBY turun tangan, dan Demokrat mampu mendapat 10%. Meski turun, tapi tidak terlalu curam. Turun, tapi sebagian karena faktor SBY yang tidak dapat kembali dicalonkan menjadi presiden untuk ketiga kali.[acl]

Sumber: sindonews.com

Total
11
Shares

Tinggalkan Balasan

Previous Article
Pengamat: Revisi UU ITE Harus Mewakili Kepentingan Masyarakat

Pengamat: Revisi UU ITE Harus Mewakili Kepentingan Masyarakat

Next Article

Seleksi JPT Pratama Memasuki Tahap Akhir

Related Posts