Kata Gen-Z Soal Vaksin

Suasana antrian vaksinasi COVID-19 di gedung Banda Aceh Convention Hall – Roni readersID

Wajahnya tertutup masker hitam sambil menenteng beberapa lembar kertas menuju meja skrining. Sesekali ia menyeka rambutnya sembari membuang pandangan ke pintu ruang khusus, tempat di belakang kursi tenaga kesehatan (nakes) yang bertugas menerima registrasi.

“Silakan masuk dek,” panggil seorang nakes dari pintu sana, ada spet suntik vaksin Covid-19 melekat di tangannya. Pria yang akrab disapa Kiram ini masuk ke ruang khusus itu mengikuti perintah sang nakes.

Adalah Syaiful Kiram (19), generasi Z (Gen Z) asal Medan yang sedang menyelesaikan kuliah di UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Ia mengaku sempat khawatir dan takut sebelum divaksin Covid-19 sebagaimana orang-orang pada umumnya.

“Tegang juga sih di awal. Namanya juga disuntik ya, siapa yang nggak takut. Tapi sebenarnya biasa saja, tidak sakit,” ungkap Kiram saat ditemui readers.ID di gedung Banda Aceh Convention Hall, Kamis (25/11/2021).

Ia berujar, selama ini dirinya belum divaksin karena takut dengan berbagai kabar yang beredar di media sosial seperti Instagram, Facebook dan grup WhatsApp berupa informasi hoaks yang dialami orang-orang usai divaksin Covid-19.

Meski demikian, setelah datang langsung ke tempat imunisasi untuk disuntik cairan vaksinasi Covid-19, mahasiswa UIN Ar-Raniry itu mengaku lega dan mulai melupakan kabar-kabar negatif soal vaksin selama ini.

Menurutnya, terkontaminasi informasi hoaks dari vaksin sangat mengganggu mentalnya. Bila sudah kena mental terkait konspirasi vaksin, ia berujar seperti pengalaman dirinya saat ini yang baru mau divaksin dosis pertama di penghujung tahun 2021.

Kemudian Kiram juga mengaku, alasan utamanya divaksin Covid-19 karena tugas kuliah yang mengharuskannya survei ke Sabang. Bila tak divaksin, ia khawatir bakal dicegat di pelabuhan dan tak diizinkan masuk feri untuk pelayaran ke salah satu kota yang jadi destinasi wisata di Aceh itu.

“Banyak pemberitahuan di media sosial wajib vaksin kalau mau ke Sabang, makanya ini buat jaga-jaga,” ungkap Kiram sesekali melihat layar gawainya.

Meski demikian, Gen Z asal Medan yang sedang berkuliah di Banda Aceh ini percaya kalau vaksin adalah bagian dari ikhtiar melindungi dirinya dan orang-orang disekitarnya dari risiko penularan Covid-19.

“Iya, kalau itu saya percaya,” ucapnya yakin sembari mengangguk.

Suasana antrian vaksinasi COVID-19 di gedung Banda Aceh Convention Hall. Foto: Roni/readers.ID

Pendapat lainnya datang dari Cut Salma H.A (22), wanita asal Bireuen yang akrab disapa Salma ini mengaku alasan divaksin karena ingin mendukung pemerintah mempercepat berakhirnya pandemi Covid-19.

Salma berujar, vaksin dan taat protokol kesehatan (prokes) masih menjadi ikhtiar ampuh dalam melindungi diri dari penularan virus ini. Lebih lanjut, vaksinasi yang masih digratiskan oleh pemerintah membuatnya terpacu untuk segera disuntik vaksin Covid-19.

“Takut kalau suatu saat tiba-tiba harus bayar dan belum sempat vaksin,” ungkapnya melalui pesan tertulis kepada readers.ID, Rabu (1/12/2021).

Bahkan Salma ikut meyakinkan orang tuanya kalau vaksinasi aman dan tidak berisiko selama tubuh sehat dan menjaga asupan gizi yang cukup, baik sebelum atau sesudah dilakukannya penyuntikan vaksin Covid-19. 

Tak hanya orang tua, teman-teman di lingkungannya pun ikut mendapat wejangan dari Salma untuk segera melakukan vaksinasi. Tak ada salahnya, kata Gen Z dari Bireuen ini, mengikuti dan menaati anjuran pemerintah untuk vaksinasi selama itu baik.

“Lagi pun, status halal vaksin seperti sinovac ini, sudah jelas. Beberapa ustaz dan ulama juga sudah memberikan pendapat,” ungkap dia.

Menurut Salma penting sekali upaya percepatan vaksinasi di seluruh daerah se-Indonesia, khususnya di Aceh. Sebab kata dia, terlihat secara kentara statistik penurunan kasus terkonfirmasi positif secara nasional antara sebelum dan setelah dimulainya vaksinasi.

“Keliatan banget sekarang, status positif covid sudah mulai berkurang setelah banyak warga yang mau divaksin,” ungkapnya.

Pernyataan Salma diamini oleh data tren vaksinasi dalam empat bulan terakhir (Juli-Oktober). Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 RI mempublikasikan, secara nasional terjadi penurunan jumlah yang terkonfirmasi positif dan kematian akibat COVID-19 seiring peningkatan vaksinasi.

Data yang diakses readers.ID melalui situs KawalCovid19 pada 2 Desember 2021, capaian vaksinasi terus meningkat. Pada Juli 2021 sebanyak 17.834.441 (dosis I) dan 7.092.639 (dosis II), Agustus sebanyak 16.059.056 (dosis I) dan 15.412.838 (dosis II).

Kemudian capaian vaksinasi pada September 2021 sebanyak 27.956.370 (dosis I) dan 15.284.020 (dosis II), Oktober sebanyak 28.401.711 (dosis I) dan 22.486.240 (dosis II).

Sementara total kasus terkonfirmasi positif di Indonesia terus menurun. Pada Juli 2021 sebanyak 1.231.386 kasus, Agustus sebanyak 680.143 kasus, September sebanyak 125.303 kasus dan Oktober sebanyak 29.254.

Selanjutnya, total kasus kematian akibat Covid-19 di Indonesia juga ikut menurun. Pada Juli 2021 sebanyak, 35.628 orang, Agustus sebanyak 38.904 orang, September sebanyak 8.916 orang dan Oktober sebanyak 1.466 orang.

Data terbaru per 2 Desember 2021 pukul 18.00 WIB, total capaian dosis pertama sebanyak 141,198,379 (67.80 persen) dan dosis kedua sebanyak 97,629,905 (46.88 persen) dengan dari total target 208.265.720 orang yang divaksin.

Sementara jumlah total yang terkonfirmasi positif sejak kasus pertama di Indonesia yakni 4.256.998 kasus dan jumlah total kematian akibat Covid-19 sebanyak 143.850 orang.

Antibodi alami tak cukup cegah virus

Pendapat tentang vaksinasi juga diutarakan oleh Della. Gen Z pemilik nama lengkap Cut Della Razaqna (22) ini tergerak untuk ikut vaksinasi karena disarankan bundanya.

“Disarankan bunda, katanya Della suka pergi-pergi, jadi supaya aman,” ungkap Gen Z asal Aceh Utara ini melalui pesan tertulis kepada readers.ID, Rabu (1/12/2021).

Menurutnya, vaksinasi cukup penting mengingat virus tidak cukup dicegah jika mengandalkan antibodi alami saja tanpa ikhtiar dengan imunitas tambahan melalui vaksin Covid-19.

Della berujar, bagi Gen Z lain yang saat ini belum divaksin, tak perlu khawatir dan takut dengan vaksin. Sebab vaksinasi Covid-19 tidak memberikan rasa sakit dan bahaya selama kondisi tubuh dalam keadaan sehat.

Ia mengaku saat sebelum vaksinasi merasakan ketakutan yang sama, namun bukan pada vaksinnya melainkan pada jarum suntiknya.

“Saya minta waktu untuk rileks lima detik ke dokternya sebelum disuntik. Setelah vaksin, baik-baik saja. Cuma tangan kiri agak pegal dua hari, itu wajar sih,” ungkap Della meyakinkan.

Dari sejumlah penuturan Gen Z (anak muda kelahiran rentang waktu tahun 1997-2000 an atau versi lain 1995-2010) terkait vaksinasi, mereka percaya vaksin dapat melindungi tubuh dari risiko penularan Covid-19. Kaum Gen Z ini mengaku merasakan takut bukan pada risiko atau bahaya vaksinasinya, melainkan ngeri melihat jarum suntiknya.

Hanya saja Salma lebih ekstrim, sebelum divaksin “Biasa aja hehe. Cuma ya itu, hari H sebelum vaksin bener-benar jaga kesehatan. Supaya tetap fit,” tutupnya. [acl]

Total
10
Shares

Tinggalkan Balasan

Previous Article
Foto: Humas Pemprov Aceh]

Gubernur Serahkan Rp46,39 Triliun DIPA dan TKDD ke Daerah

Next Article
Istimewa

Wakil Ketua Banggar DPR RI: Otsus Aceh Perlu Terus Dilanjutkan

Related Posts