Kisah Penyintas Covid-19: Penyemangat Saya Sembuh Adalah Anak-Anak (5)

Lansia Enggan Vaksinasi Covid-19, Ini Saran Psikolog
Vaksin Sinovac. readers.id | Hotli Simanjuntak

Setelah Endah Lismartini, seorang jurnalis di ibu kota Jakarta melewati Isolasi Mandiri (Isoman) selama 14 hari, lebih lama sebagaimana disaranan dokter hanya 10 hari. Endah bersama suamunya Wanda Faisal Aziz melakukan tes PCR. Meskpun awalnya sempat ragu-ragu, karena takut masih positif.

Kisah ini readers.ID kutip dari laman pribadi Endah Lismartini, tentunya sudah mendapatkan izin sebelum berita ini ditayangkan. Ini sebuah kisah seorang penyintas Covid-19 menjalani hari-harinya selama Isoman dengan berbagai tantangan setelah dirinya dinyatakan positif terinfeksi virus corona.

Tulisan ini merupakan bagian terakhir kisah Endah melakukan Isoman selama 14 hari. Untuk membaca kisah sebelumnya dapat diklik link berita di bawah ini.

Setelah dinyatakan positif Covid-19. Endah berbagi pengalamannya di media sosial menyampaikan, dokter mengatakan saya cukup 10 hari isoman, dan setelah itu bisa langsung swab PCR untuk memastikan kondisi virus di dalam tubuh saya. Tapi saya memilih menuntaskan isoman hingga 14 hari. Wanda Faisal Aziz juga begitu.

Minggu, 11 Juli 2021 adalah hari ke 14 isoman saya dan suami. Sejak hari ke 10 hingga hari ke 14 saya ketat memantau kondisi sendiri. Hingga tanggal 11 Juli, sesak masih terasa dan masih agak sulit bicara lama-lama. Duduk dan berdiri sudah lumayan bisa lebih lama. Duduk sudah bisa lebih dari 30 menit, berdiri sudah bisa lebih dari 20 menit. Meski masih ada sesak, tapi saturasi oksigen sudah mencapai 98.

Senin, 12 Juli, kami ke RS BMC Mayapada Bogor untuk tes PCR. Saat registrasi ulang (karena sudah mendaftar online dan membayar) petugas memberitahu, hasil PCR tidak akan menyertakan hasil CT Value. Sebab pihak laboratorium sudah kewalahan karena overload warga yang melakukan tes PCR.

Saya setuju, dan berharap hasil negatif sehingga CT value tidak dibutuhkan. Faisal sempat ragu-ragu, khawatir hasilnya masih positif. Tapi ternyata proses sudah tidak bisa dibatalkan. Akhirnya ia juga tes swab bersama saya.

Selesai tes saya mengajak Faisal keliling Bogor naik motor. Senang rasanya bisa menikmati udara pagi dan keluar dari masa isoman 14 hari yang hanya berkutat di dalam rumah sendiri. Hari itu kondisi kota Bogor sangat nyaman. PPKM yang diberlakukan membuat pergerakan publik sangat minim.  Angkot yang biasa merajai kota kecil ini hanya terlihat melintas satu dua.

Pagi ini, langit biru cerah, kendaraan pribadi yang terlihat juga sangat sedikit sehingga udara menjadi jauh lebih bersih. Plus hembusan angin yang menyegarkan. Sungguh, saya bahagia masih bisa menikmati kembali udara segar di luar ruangan.

Hampir tiga jam kami naik motor berputar keliling kota Bogor, sekadar melepas rindu dengan udara luar. Begitu saja sudah bikin saya bahagia, terutama jika mengingat 17 hari terakhir (3 hari gejala awal + 14 hari isoman) yang saya lalui. Saya berdoa semoga hasil PCR saya dan suami segera negatif dan kami bisa kembali “normal.”

Puas berkeliling, saya mampir ke rumah kakak saya. Rindu pada Adlan dan Mimi sudah tak tertahan. Sampai di rumah kakak saya, senyum lebar Mimi langsung membuat saya meleleh. Bahagia banget bisa berdekatan kembali dengan anak sendiri. Berpelukan dengan Mimi sekarang tak nyaman buat saya. Tingginya yang menjulang membuat saya yang tenggelam dalam pelukan dia, bukan dia yang tenggelam dalam pelukan saya. Hehehehe.

Adlan sedang tidur, saya menuju kamar dan berdiri di sebelah kasur. Saya panggil dengan nada pelan. Adlan perlahan membuka mata, kaget mendapati saya di sebelahnya. “Bunda? Bunda?” teriaknya bernada tak percaya. Saya tertawa. Ia langsung melompat dari kasur, memeluk saya erat dan lama. “Aku kangen bunda,” ujar lelaki kecilku itu. Hari isoman ke 10 saya, dia ulang tahun ke 12. Tapi saya masih kesulitan menganggap dia mulai bergerak meninggalkan masa kanak-kanak. Huft.

Saya tak khawatir datang ke rumah abang saya dan memeluk anak-anak. Kami sudah 14 hari isoman, dan hari kami datang adalah hari ke 15, atau hari pertama setelah 14 hari isoman. Menurut perkembangan terakhir dari WHO dan CDC, setelah 14 hari isoman, virus sudah tak menular lagi. Meskipun masih positif, itu terjadi karena lab tidak bisa membedakan virus aktif dan virus yang sudah tak sempurna.

Besoknya, kabar bahagia kami terima. Saya dan suami dinyatakan negatif Covid-19. Ya Allah, bahagia rasanya. Bersyukur tak terkira karena kami bisa melalui 14 hari yang tak mudah dan akhirnya terbebas dari virus ini. Tak mudah buat saya, karena mengalami gejala yang cukup berat, mulai dari kehilangan selera makan, mulut yang terasa pahit, hilang penciuman, hingga pusing, mual dan muntah berkali-kali. Juga sedikit sesak nafas. Khusus sesak nafas, sampai sekarang masih terasa, terutama jika saya beraktifitas berat.

Apalagi saat saya sakit, beberapa kabar duka juga saya terima. Setiap kali membuka Facebook, maka berita duka berseliweran. Sedih setiap ada status yang diawali dengan “innalillahi wa inna ilaihi rojiun.” Saya pernah menangis diam-diam ketika mendapat kabar isteri teman yang meninggal karena Covid setelah dua hari dirawat.  Saya tahu, perjuangan melawan Covid-19 tak mudah, dan saya sedang mengalami proses yang sama.

Sebelumnya, cerita tentang bagaimana sulitnya proses mendapatkan rumah sakit dan ambulans dilalui dengan berat oleh teman saya dan istrinya. Mereka butuh lebih dari 24 jam untuk bisa mendapatkan rumah sakit dan ambulans. Lalu cerita berakhir duka. Saya ikut terpukul dan sedih luar biasa.

Selain kabar duka, banyak juga status yang secara terbuka mengumumkan terinfeksi Covid. Tak hanya dirinya sendiri, tapi juga dengan suami atau isteri, dengan anak, bahkan satu keluarga.

Semoga teman-teman yang terinfeksi kuat, dan bisa melalui ini semua. Buat saya, yang menjadi semangat terkuat untuk sembuh adalah anak-anak. Setiap melihat mereka, di tengah kesedihan mendapat kabar duka, keinginan sembuh langsung meninggi. Saya akan menang berperang dengan Covid-19, demi Mimi dan Adlan.

Cerita soal sulitnya mendapatkan ambulans, ditolak rumah sakit karena UGD sudah over load, tak bisa mendapat ruang perawatan, hingga kesulitan mendapatkan oksigen menjadi berita harian.

Padahal, ini bagian dari informasi yang tak ingin saya dengar. Sementara saya sedang mengalami situasi yang sama, sedih rasanya mendapat kabar duka yang bertubi-tubi. Itu sebabnya saya puasa medsos selama menjalani isoman. Saya juga sempat tak langsung merespon jika ada yang kirim whatsapp. Istirahat fisik dan pikiran, sangat penting buat saya.

Berita seperti itu juga yang membuat saya memutuskan isoman di rumah, dengan harapan saya tak akan melalui situasi sangat berat sehingga harus ke rumah sakit. Sepertinya saya tak sanggup jika harus melihat bagaimana pasien dengan gejala Covid berdesakan di ruang UGD, berhari-hari menunggu agar dapat kamar perawatan sambil menyaksikan pasien lain yang meregang nyawa. Duh, saya pasti tak kuat melihatnya dan mengutip istilah kekinian, “bisa kena mental.”

Hari ini, Jumat 16 Juli 2021, saya merasa sudah sehat kembali. Sedikit sesak ketika selesai beraktifitas berat masih terasa. Tapi beberapa teman penyintas memberi semangat dan meyakinkan saya, biasanya lama kelamaan sesak akan hilang sendiri, yang penting rutin melakukan olah raga ringan.

Ada beberapa teman penyintas yang mirip dokter. Tiap hari bertanya kabar, bagaimana kondisi saya hari ini, apa yang dirasakan, gejala apa saja yang masih dialami, lalu berbagi tips yang mereka lakukan ketika mengalami kondisi yang sama. Alhamdulillah, punya teman-teman baik yang selalu menguatkan dan memberi dukungan. Dan itu adalah bagian dari keberuntungan hidup yang wajib disyukuri.

Tiga hari bergejala dan 14 hari isoman, saya melaluinya dengan doa dan keyakinan saya akan sembuh. Tuhan mengabulkan, dan memberi saya kesempatan untuk kembali sehat. Sekarang saya sudah sehat, tapi masih adaptasi dengan kondisi tubuh.

Untuk sementara, pesanan cake dan puding saya tolak dulu. Mohon maaf pelanggan setia, saya izin istirahat dulu ya. Sampai kapan libur? Saya tak bisa memastikan. Tapi segera setelah saya merasa sanggup mengerjakan pesanan, saya akan memberi kabar.

Buat teman-teman yang sedang terpapar Covid, ayo sembuh. Ingat, Covid-19 memang sedang menggila. Tapi jumlah yang sembuh dan kembali sehat jauh lebih banyak. Bagi yang kehilangan keluarga, kerabat, dan teman karena Covid-19, saya menyampaikan ikut sedih dan berdukacita mendalam. Semoga kita semua bisa melalui badai ini. Saya mengingat kalimat populer yang beredar selama pandemi ini, “kita berada dalam badai yang sama, meski di kapal yang berbeda.”

Sejak awal, saya memilih tak banyak memberitahu kabar ini karena pertimbangan ingin istirahat dan privasi. Bahwa kemudian kabar menyebar, itu sudah di luar kendali. Kemudian, saya memutuskan menuliskan kisah ini karena saya sudah kembali sehat, dan ini juga menjadi terapi untuk saya segera pulih. Berharap, apa yang saya lalui dan saya ceritakan ini bisa bermanfaat untuk yang lain.

Untuk teman-teman yang mengirimkan aneka macam, terima kasih tak terhingga saya haturkan. Begitu juga dengan teman-teman yang tak putus mendoakan lewat pesan whatsapp. Beberapa mengatakan, “cuma ini saja yang bisa aku kasih.” Buat saya, kepedulian, perhatian dan cinta yang tersembunyi dari balik aneka kiriman dan doa itu tak bisa disebutkan, “cuma ini saja.” Hal yang tersembunyi dari itu, sangat tak ternilai.

Untuk seluruh teman-teman yang mengikuti cerita saya ini, sejak bagian pertama hingga bagian lima, semoga ada hikmah yang bisa diambil. Silakan dibagikan jika tulisan ini dirasa akan memberi manfaat pada yang lain.

Terima kasih untuk jempol, komentar doa dan semangat yang teman-teman tuliskan. Mohon maaf tak semua bisa saya balas satu persatu. Tapi, emotikon yang diberikan, juga doa dan kalimat penuh semangat itu memberi dampak yang sangat besar untuk saya dan suami. Memberi keyakinan bahwa ini semua akan berlalu. [Selesai]

Total
7
Shares

Tinggalkan Balasan

Previous Article

Dampak Ekonomi Bila PPKM Darurat Diperpanjang

Next Article

428 Warga Binaan Rutan Kelas II B Banda Aceh Jalani Vaksinasi Covid-19

Related Posts
Read More

Kata Gen-Z Soal Vaksin

Wajahnya tertutup masker hitam sambil menenteng beberapa lembar kertas menuju meja skrining. Sesekali ia menyeka rambutnya sembari membuang…