Kisah Penyintas Covid-19: Ultah Adlan Hanya Bisa Memandang dari Jauh (4)

Persiapan vaksin oleh tenaga kesehatan. Foto: Hotli Simanjuntak/readers.ID

Setiap kali mereka datang mengantarkan paket atau apa pun ke rumah, ucapan mereka selalu sama, “Cepat sembuh ya bun, pi. Aku kangen.” Sungguh, bisa memandang mereka tanpa bisa memeluk itu sangat menyakitkan.

Itulah ucapan anaknya, Adlan setiap kali mengantarkan makanan ke rumah saat Endah Lismartini, seorang jurnalis penyintas Covid-19 bersama suaminya. Setiap kali Adlan muncul, Endah hanya bisa mamandang dari jauh. Ingin rasanya memeluk anaknya, tetapi itu hal terlarang saat seseorang sudah dinyatakan positif virus corona.

Berita Terkait:

Tulisan ini readers.ID kutip dari laman pribadi Endah Lismartini, tentunya sudah mendapatkan izin sebelum berita ini ditayangkan. Ini sebuah kisah seorang penyintas Covid-19 menjalani hari-harinya selama Isoman dengan berbagai tantangan setelah dirinya dinyatakan positif terinfeksi virus corona.

Endah bercerita. Hari ke delapan Isoman. Saya bangun dengan kondisi tubuh yang lebih bugar. Entah karena sudah waktunya mual dan pusing selesai, entah karena efek wedang jahe panas.

Hari itu saya bangun tanpa rasa mual dan pusing. Lega sekali rasanya. Apalagi mulut yang pahit juga mulai mereda. Meski rasa makanan tetap tak karuan, tapi kondisi mulut mulai mendingan. Hal yang bikin bahagia, penciuman mulai balik. Meski samar, saya sudah bisa membaui minyak kayu putih. Yaayy, Alhamdulillah. Senangnya luar biasa.

Saya bahagia, ini sudah masuk hari ke-8. Saya hanya butuh bersabar dua hari lagi dan setelah itu isoman akan selesai. Hari ke-8 saya nikmati dengan kelegaan. Rasanya aneh, dan tak percaya. Tiga hari sebelumnya terasa kepayahan dan drop. Tapi di hari ke delapan, banyak gejala yang menghilang. Pusing dan mual hilang, pilek juga sudah hilang, sakit tenggorokan dan demam sudah tak ada lagi. Tinggal sesekali batuk, meski agak kering dan bukan batuk berdahak lagi.

Saya bersyukur karena merasa tubuh saya jauh lebih bugar dibanding kemarin. Semoga ini adalah tanda-tanda kesembuhan. Seharian saya menikmati kondisi tubuh yang nyaman dan nyaris tanpa keluhan. Menikmati angin dan udara segar dan menikmati makanan. Apalagi penciuman juga mulai berfungsi lagi.

“Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kamu dustakan?” Ya Allah, senang luar biasa. Takjub, tapi saya memang merasa jauh lebih segar dibanding hari sebelumnya. Saya melalui hari ke delapan isoman dengan badan yang lebih ringan dan jauh lebih nyaman.

Hari ke 9, saya semakin merasa sehat. Karena sudah jenuh terlalu banyak rebahan dan nyaris tanpa aktivitas, saya memutuskan untuk melakukan sesuatu. Lupa baru melalui fase berat, saya lalu berbenah rumah, cuci piring, menyikat kamar mandi, menyapu, dan terus bekerja sampai rumah kembali terlihat kinclong, bersih dan nyaman.

Lalu karena merasa sudah lebih baik, saya main gitar dan bernyanyi beberapa lagu. Lalu instal aplikasi We Sing, saya karaokean. Terasa terengah-engah, tapi rasa senang membuat saya mengabaikan rasa itu.

Bahagia rasanya merasa tubuh kembali bugar. Hal paling luar biasa adalah hari ke sembilan isoman, saya bisa kembali mencium aroma, bukan lagi samar-samar, dan kembali bisa merasakan lapar.

Rasanya nikmat betul bisa makan karena lapar, bukan karena harus makan untuk bertahan dan menjaga kesehatan. Saya merasa sembuh sudah semakin mendekat.

Oi ya, sepanjang kami isoman, kondisi suami terlihat lebih ringan dibanding saya. Ia masih bisa masak, membelah kelapa, mencuci pakaian, bahkan olahraga ringan. Jauh lebih baik dibanding kondisi saya yang lebih banyak tiduran dan merasakan berbagai gejala yang membuat tubuh tak nyaman dan saya kepayahan.

Suami, meski bergejala, tapi tak seberat saya. Dia juga mengalami batuk pilek, dan radang tenggorokan. Tapi setidaknya tidak separah saya yang sampai demam turun naik, muntah muntah dan diare.

Beliau juga rajin belanja online untuk berjaga-jaga menghadapi Covid. Karena tak konsul ke dokter, ia membeli berbagai vitamin, oxymeter, termometer, beli cairan untuk mencuci hidung, peralatan akuarium untuk membuat oksigen cadangan, sampai alat pijat karena saya selalu merasa pegal-pegal.

Kemudian di hari ke-10, hari terakhir isoman, ternyata saya malah  sesak nafas. Mungkin karena kemarin terlalu bersemangat sehingga jadi pecicilan dan kelewat gaspol, akhirnya fisik memberi peringatan.

Saya belum sembuh. Sepanjang siang hingga malam, saya merasa dada sesak dan nafas agak berat. Tapi saturasi oksigen masih aman. Meski sesak, angkanya masih 96.  Akhirnya saya istirahat lagi dan kembali rebahan.

Hingga jelang malam, kondisi sesak belum hilang. Saya lalu mengikuti saran yang banyak beredar. Ambil posisi prone, dan kembali ke wedang jahe panas. Alhamdulillah, malam hari sesak berangsur hilang.

Hari ke 10 ini juga berbarengan dengan ultah Adlan. Jauh hari sebelum saya kena Covid, dia pernah meminta agar diberikan surprise ketika dia ultah. “Apa saja deh bun, yang penting Adlan dikasih surprise,” begitu permintaannya. Dia juga sudah pesan minta dibuatkan kue tart yang banyak coklatnya. Saya sudah menyanggupi. Tapi Covid membuat saya tak bisa memenuhi permintaan Adlan soal kue.

Saya memutuskan untuk meminta tolong Annisa Nur Ramadhan, keponakan yang sedang WFH untuk membantu bikin surprise buat Adlan. Saya tahu, sudah lama Adlan penasaran dengan pizza satu meter. Maka saya minta Nisa membelikan pizza satu meter, dan diberi lilin.

Sebelum Nisa membeli pizza, pagi-pagi Adlan sempat ke rumah mengantarkan paket. Ketika dia datang, saya dan suami membuka pintu, lalu menyanyikan lagu “Happy Birthday.” Tanpa kue tart, tanpa lilin, hanya menyanyi saja. Meski berusaha mengelak, saya bisa melihat matanya yang berkaca-kaca.

Tak lama, dia wa di group kami berempat. “Bun, Pi, makasih ya surprise ultahnya.” Padahal cuma dinyanyikan lagu ulang tahun, tapi dia merasa itu sudah surprise yang mengharukan. Mungkin dia tak menduga, meski sedang isoman, bunda dan papinya tetap mengingat ultahnya. Dan Adlan tak tahu, ada surprise yang lebih seru sudah disiapkan.

Dan, dua jam kemudian Mimi mengirimkan foto dan video Adlan yang sedang meniup lilin di atas pizza satu meter. Tak lama, Adlan wa lagi. “Bun, Pi, ini siapa yang pesan?” ia bertanya. Saya bertanya balik, “Adlan senang enggak?” “Senang bangeeeetttttt. Makasih ya Bun, Pi,” demikian jawabnya.

Saya lega dan senang. Adlan masih bisa bahagia di hari ultahnya, meski kue coklat yang ia pesan tak bisa saya buatkan dan kami tak bisa memeluknya.  Ini mungkin bagian tersedih dari perjuangan isoman melawan Covid 19. Tak bisa memeluk anak sendiri. Hanya bisa saling memandang, dan “kiss bye.”

Setiap kali mereka datang mengantarkan paket atau apa pun ke rumah, ucapan mereka selalu sama, “Cepat sembuh ya bun, pi. Aku kangen.” Sungguh, bisa memandang mereka tanpa bisa memeluk itu sangat menyakitkan.[Bersambung]

Total
1
Shares

Tinggalkan Balasan

Previous Article

Foto Feature: BNN Tangkap Penyeludup Narkoba Internasional

Next Article

Presiden Blusukan Bagikan Sembako dan Paket Obat untuk Masyarakat

Related Posts
Read More

Kata Gen-Z Soal Vaksin

Wajahnya tertutup masker hitam sambil menenteng beberapa lembar kertas menuju meja skrining. Sesekali ia menyeka rambutnya sembari membuang…