Kolom | Istriku, Kau Seorang Pahlawan

Ilustrasi. Foto by rmol.id

“Tolong lihat jam, tepat pukul 17.00 WIB, 15 menit dari sekarang, kalau tidak lahir juga kita bawa ke rumah sakit,” kata Bidan detik-detik akhir menengangkan saat lahiran anak pertama saya, Selasa (20/4/2021).

Saat itu jam menunjukkan pukul 16.30 WIB. Suasana dalam ruangan bersalin mulai senyap, tak ada yang bicara, semua fokus dengan tugas masing-masing. Hanya dengusan nafas istri yang terdengar, sedang berjuang mengejan untuk melahirkan.

Bulir-bulir peluh di kening Bidan Leni Liana, Amd.Keb, yang membantu persalinan istri saya mulai membasahi wajah. Padahal kipas angin menghembus kencang. Berputar-putar seakan-akan tau semua dalam ruangan itu sedang butuh pendingin.

Sebelumnya Bidan Leni banyak bercanda, bicara lucu untuk memecahkan ketegangan, kini hanya diam dan fokus membantu persalinan, wajahnya tampak sedikit tegang meskipun tetap releks dan sesekali memberikan motivasi kepada istri saya.

“Ngejan terus, yang kuat, macam orang marah,” pinta Bidan Leni menyemangati. Berkali-kali Bidan Leni meminta seperti itu, sejak ia sudah menggunakan celemek dan sarung tangan medis sekitar pukul 15.00 WIB. Kata Bidan Leni, bila sudah menggunakan celemek, itu pertanda hendak melakukan pertolongan.

Hingga pukul 16.30 WIB, istri juga masih terus berusaha sekuat tenaga untuk mengejan. Namun tetap saja belum berbuah hasil. Saya, Cek Bit dan Bidan Leni terus memberikan motivasi dan semangat pada istri, agar mengejan lebih kuat dengan mengatur pernafasan yang baik.

Tiba-tiba Bidan Leni pasang ‘alarm’, dia meminta untuk mengingatkan bila hingga pukul 17.00 WIB juga tidak lahir, maka harus segera dilarikan ke rumah sakit.

Sebelumnya bawaan saya santai, tenang. Tiba-tiba sedikit merasa panik. Wajar dong nyaris panik, melihat istri saat melahirkan. Seakan-akan berdosa melihat istri berjuang antara hidup dan mati melahirkan anak pertama kami.

Bagi yang masih ada ibu, jagalah dia, rawatlah dia, jangan pernah bikin sakit hati seorang ibu yang telah melahirkanmu. Seorang ibu mempertaruhkan nyawa saat melahirkan kita. Berbaktilah kepadanya, jangan pernah sedikitpun menyakiti hatinya.

Bagi ibunya yang telah tiada, kirimkan doa walau hanya membaca surat Alfatihah setelah salat. Berziarahlah sembari membacakan doa dan yasin di pusara ibu. Meskipun gunung emas sebesar gunung Seulawah kita berikan, belum bisa menggantikan perjuangannya saat melahirkan kita.

Yah, kita lanjut cerita ya. Biar mengurai ketegangan sedikit, hehehehe.

Saat itu kepala istri di pangkuan saya. Mmmmmm…., awalnya kaki saya sempat pegal karena tidak bergerak. Bayangkan lebih dua jam hanya duduk bersila dengan kepala istri di pangkuan. Tetapi itu tidak seberapa sakitnya istri saat sedang mengejan lebih dua jam, belum lagi sakitnya saat proses kontraksi sekitar 18 jam.

Saat itu saya mulai gelisah. Dalam hati saya terus berdoa, semua apa yang saya hafal saya bacakan. Surat Al Fatihah, Al Ikhlas dan lainnya terus saya bacakan dengan keras, sembari saya usap-usap kepala istri dan pipinya.

Seakan-akan dunia sudah berakhir. Dalam hati saya berucap. “Sayang, yang kuat ya, jangan biarkan abang tinggal sendiri. Masih banyak kisah yang belum kita toreskan, ada banyak cita-cita kita belum kita raih. Banyak kisah yang belum kita tuliskan. Termasuk cita-cita agar anak kita menjadi penghafal Quran”.

Makanya, bagi suami sayangi istri. Jangan sakiti dia, apa lagi melakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Ingat, anak mu itu saat dilahirkan, harus berjuang hidup dan mati. Jangan “ringan tangan”, sedikit-sedikit pukul istri. Itu perbuatan tercela, bimbing istri bila salah, karena kita suami kepala rumah tangga yang membimbing istri dan anak ke jalan yang baik dan benar.

Lima belas menit waktu penentuan. Bidan Lini mulai tengkurap  di ranjang. Istri terus berusaha mengejan sekuat tenaga. Tangan Cek Bit di sebelah kanan istri diremas sama istri hingga berbekas. Sabar juga ya Cek Bit, terimakasih ya Cek Bit, semoga Allah membalasnya segala kebaikannya, yang ikhlas tangannya dalam penguasaan cengkraman istri saya.

Tiba-tiba Bidan Leni, sebelumnya hanya diam dan fokus berusaha memperlancar persalinan meminta kepada saya. “Tolong jaga kesadaran”.  Saya sempat bingung, apa yang harus saya lakukan.

Tiba-tiba teringat beberapa bacaan yang pernah saya baca. Agar istri tetap sadar dan tidak pingsan. Saya pun mencoba untuk menenangkan dia dan mengalihkan perhatian. Saya terus mengajak istri bicara sembari saya elus-elus pipi dan kepalanya untuk menyemangati.

Saya saat itu tetap berusaha tenang, karena penting bila darurat, saya harus cepat mengambil keputusan yang tepat, tentunya sesuai saran Bidan. Meskipun harus jujur, saya mulai panik.

Bahkan, nenek yang sedikit ‘cerewet’ dalam ruang persalinan sedari awal menunggu di sudut kanan saya. Terpaksa saya mintanya keluar, agar suasana ruang persalinan fokus.

“Nenek tunggu di luar aja, tolong papah nenek sebentar keluar,” pinta saya pada tiga orang calon bidang yang sedang praktek yang ikut membantu persalinan istri, ikut juga diamini oleh Bidan Leni.

Berkali-kali saya bimbing istri untuk mengatur pernafasan. Bila ingat sekarang jadi lucu. Karena saat saya membimbing cara pernafasan, saya juga ikut mengatur pernafasan dan juga ikut seperti istri sedang mengejan.

Tepat pukul 16.45 WIB. Bidan Leni kembali berucap. “Sekali lagi ngejan yang kaut”. Istri pun semakin bersemangat. Meskipun saya sempat lihat mata sempat terbalik, hanya terlihat bola mata putih. Tetapi sejak awal Bindan Leni meminta saya menjaga kesadaran. Saya terus berbicara dan menenangkan istri.

Saat itulah, tiba-tiba Bidan Leni berhasil mengeluarkan anak laki-laki pertama kami dan seketika saya merasa lega dan bahagia. Langsung saya tatap mata istri dan dia pun sempat melempar senyum.

Rasa suka cita itu tak berlangsung lama, tak sampai satu menit. Suasana kembali tegang, karena ternyata si buah hati kami tidak menangis. Berbagai upaya pertolongan pertama dilakukan Bidan Leni.

Lalu Bidan Leni meminta tiga calon bidan tadi hanya bengong melihat proses persalinan  untuk segera mengambil tabung oksigen dan alat Suction. Calon bidan tadi bergegas keluar ruangan sembari berlari kecil membawa semua peralatan yang diminta Bidan Leni.

Suction pump merupakan alat yang digunakan untuk menghisap berbagai jenis cairan. Suction pump biasanya terdapat dua jenis yaitu portable dan juga jenis unit yang besar. Sedangkan yang dipakai sama Bidan Leni adalah Suction pump portable.

Bidan Leni bergegas membersihkan tenggorakan dan hidung anak pertama saya yang baru lahir dengan alat Suction. Lalu memasang selang oksigen di hidung. Saat itulah anak pertama saya, yang saya beri nama Muhammad Alfarezel Arfan menangis keras.

Kami pun semua tersenyum sumringah. Tampak Bidan Leni tersenyum bahagia. Kami pun mengucapkan syukur dan ucapan Alhamdulillah setelah melewati proses persalinan yang menegangkan itu.

Dalam hati saya berucap, “Istriku, kau adalah pahlawan bagi ku hari ini”. Tak ada sesuatu yang bisa menggantikan jasamu saat melahirkan putra pertama kita. Ingat wahai para suami, istri mu itu telah bertaruh nyawa, ingat wahai semua, ibu kita dulu juga bertaruh nyawa saat melahirkan kita.

Terlebih dulu sebelum teknologi ada. Proses persalinan pasti jauh lebih berat. Di tengah alat teknologi sudah tersedia, seorang ibu juga harus berjuang mati-matian melahirkan. Terimakasih istriku, jasamu kelak akan dibalas Allah Swt dengan pahala yang melimpah.

Anak pertama kami lahir dengan berat badan 4.100 gram alias 4,1 Kg dan panjang badan 53 centimeter, lingkaran kepala 34 centimeter.

Kurang dari 24 jam saya langsung meminta kepada Bidan Leni agar diberikan Imunisasi Hepatitis B (HB-0), agar imun tubuhnya kelak bisa lebih tahan dari berbagai serangan virus. Ternyata, Bidan Leni juga sudah mempesiapkan. Katanya, bila ada orang tua menolak diimunisasi, dia meminta untuk menandatangani surat pernyataan. []

Total
1
Shares

Tinggalkan Balasan

Previous Article

Tabrani: Orang Tua Jangan Lepaskan Anak Belajar Daring Sendiri

Next Article

Karier Politik Ganjar di Ujung Tanduk

Related Posts
kolom readers ilustrasi no limit
Read More

Kolom : No Limit

DI ANTARA transisi hidup manusia, akan mendapati episode menjadi sosok dewasa dan orang tua. Meski barangkali itu tidak…