Kolom : No Limit

kolom readers ilustrasi no limit
Gambar: ilustrasi no limit

DI ANTARA transisi hidup manusia, akan mendapati episode menjadi sosok dewasa dan orang tua. Meski barangkali itu tidak menghampiri setiap orang, namun kenyataannya peristiwa menjadi dewasa dan tua, menjadi salah satu fase paling membahagiakan bagi banyak orang. Kesan itu saya dapati ketika bertemu banyak orang tua selama satu tahun setengah terakhir. Menjadi orang tua dan bahagia.

Bukan tanpa alasan saya tertarik menyampaikan hal ini. Narasi ini memang sangat saya pikirkan. Setelah saya bertemu dengan sesosok orang tua yang menurut saya tidak saja baik dan bertanggung jawab, juga sangat menikmati perannya sebagai orang tua sebagai sahabat bagi anak-anaknya dan siapa saja yang menurutnya berpotensi untuk “diselamatkan”.

Bermula ketika saya bertemu Pak Hanif, seorang pensiunan guru SMA yang kini berprofesi menjadi supir transportasi online. Secara kebetulan suatu hari saya menggunakan jasa transportasi online tempat ia bekerja. Mulai sejak saya naik mobilnya, dia menyapa dengan sangat sopan, mempersilakan saya duduk, mendengar penjelasan saya, memastikan lokasi yang akan saya tuju, lalu berangkat.

Awalnya di sepanjang perjalanan tidak ada percakapan, selain wajahnya yang saya lihat terus terlihat senyum, dan sikap ramah yang ia tunjukkan. Saya pun membuka pembicaraan.

“Mohon maaf, Pak, biasanya Bapak mangkal di disini?”

“Tidak, rumah saya jauh dari sini Pak, hanya kebetulan tadi saya mengantar penumpang dekat masjid ini,” jawabnya.

Saya tersadar, saat saya memesan transportasi online bakda shalat dzuhur, Pak Hanif juga disana. Pantas cepat, saya membatin.

“Jadi Bapak salat di sini juga tadi?” saya menyambung obrolan kami.

“Iya Pak, biasanya kalau sudah zuhur saya langung off-kan aplikasi dan menuju masjid terdekat di manapun saya berhenti mengantar penumpang. Setelah salat, kemudian saya makan masakan yang sudah disiapkan istri. Biasa saya duduk makan di warung kopi dekat masjid, jika di sekitarnya ada warung kopi. Jika tidak, saya makan di dalam mobil dengan membuka semua kaca agar mobilnya tidak bau makanan, lalu istirahat dan mengaktifkan aplikasi lagi,” katanya sambil tersenyum.

“Selalu begitu, Pak?”

“Iya, Insya Allah sepanjang waktu salat, kecuali subuh, karena saya subuh di masjid dekat rumah,” katanya tersenyum.

Percakapan panjang saat mengantar saya menuju sebuah bengkel, saya merasa Pak Hanif bukan tipikal orang tua biasa. Dari penuturannya saya ketahui putra-putrinya ada lima. Anak pertamanya berkarir di Jakarta sebagai teknisi sebuah maskapai penerbangan. Anak kedua dan ketiga bekerja sebagai akuntan di Jakarta, anak keempat bekerja sebagai guru di Bandung, dan anak kelima sedang menyelesaikan pendidikan strata 2 di Universitas Syiah Kuala di Banda Aceh.

Apa yang membuat ia begitu semangat bekerja? Semua anak sudah mandiri dan menikah, ia hanya mencukupi kebutuhan bersama istrinya. “Apa yang kurang ya?,” pikir saya dalam hati lalu saya lontarkan dengan bahasa yang sangat pelan.

“Tidak ada yang kurang, Pak. Alhamdulillah cukup. Tapi ini bentuk syukur saya pada Allah. Dulu setiap ada kemudahan kita bisa berbagi dan bisa memenuhi apa yang saya ingin berikan pada anak-anak. Setelah pensiun saya juga masih ingin bisa berbagi pada yang lain,” katanya.

Ia memiliki banyak anak asuh. Meski mengaku tidak ngoyo dalam bekerja pascapensiun, tapi ia tetap merasa senang bisa memenuhi kebutuhan 7 anak asuhnya yang sedang menyelesaikan sarjana.

“Kita tak boleh lemah dan harus bisa mengatakan ‘no limit’ pada diri kita sendiri, dalam berbuat kebaikan,” katanya.

“Jangan sampai memberi batasan pada sebuah niat yang baik,” sambungnya.

Semua diniati sebagai ibadah. “Jika masih bisa, tenaga masih kuat, jangan malas, jangan gengsi, kecuali sakit, itu baru perlu istirahat. Jika ada keperluan dengan istri, saya tinggal off-kan aplikasi, maka kami bisa jalan-jalan kemana pun kami mau,” katanya dengan senyum.

Saya merasa “tertampar” dengan jawabannya. Kemuliaan hati dari sosok orang tua yang tak dibuat-buat. Menjadi tua hanya persoalan waktu, tapi bermanfaat harus sepanjang waktu. “Kita kerjakan yang Allah suka,” katanya lagi.

Pertemuan dengan Pak Hanif membuat saya berpikir konsep ‘no limit’ yang pernah saya baca dan dengarkan dalam sebuah training pengembangan kapasitas tahun 2017 lalu. Meski sudah sangat familiar dengan dua suku kata itu, namun melihat prakteknya secara nyata masih sangat jarang sekali dalam aktivitas keseharian manusia. Melihat jawaban-jawaban Pak Hanif, saya membaca perubahan hidup membawanya tetap baik, bukan sebaliknya.

Bicara fakta bahwa perubahan hidup ini sering kali diharapkan sesuai dengan mau kita dan menyenangkan serta tidak banyak membawa gejolak kehidupan. Namun prakteknya ketika membaca banyak artikel dan kisah orang tua di beberapa referensi, saya banyak melihat kehidupan beberapa orang tua yang masih saja direpotkan oleh ketidakmandirian anak-anak meraka.

Sepanjang hidup mereka masih ada yang dibebani dengan anak-anak yang tidak mandiri dan memiliki ketergantungan pada orang tua. Mulai dari perkara menentukan sesuatu, memecahkan masalah sampai dengan dukungan keuangan atau financial support. Menyedihkan memang. Bahkan ada yang hidup dalam “pelukan” orang tuanya sampai mereka berkeluarga dan memiliki banyak anak. Semua masih menengadahkan tangan pada orang tua.

Persoalannya tidak hanya berhenti disitu. Banyak kisah sepasang suami istri di masa tua yang masih saja dihadapkan pada perkara-perkara depresi dan kecemasan akan perjalanan hidup mereka, hingga secara mendalam menjadi beban baru yang “menghantui” sepanjang perjalanan menua mereka. Terkesan memang ‘no limit’ pedulinya kepada anak, tapi bukan ‘no limit’ yang positif.

Menjadi orang tua dan menua. Kedua transisi yang tidak dapat dipisahkan. Dampak yang ditimbulkan oleh perubahan transisi itu ada yang berbuah bahagia dan ada yang berbuah kisah sedih. Kisah pertemuan saya dengan Pak Hanif adalah kisah yang menyenangkan. Saya belajar betul pada setiap fase yang dia hadapi.

Kata Pak Hanif lagi, transisi kehidupan telah membawa banyak orang terlibat dan melewati tiga fase. Yang pertama adalah apa yang saya sebut “perpisahan”, di mana orang yang melalui transisi ini melepaskan kehidupan masa lalu yang mereka tinggalkan menuju masa baik. Yang kedua adalah fase “tengah yang berantakan”, di mana orang tersebut melepaskan kebiasaan, pola pikir, dan gaya hidup lama, dan mulai menciptakan yang baru. Yang ketiga adalah “awal baru”, di mana orang tersebut memperkenalkan diri baru mereka. Fase-fase ini paralel dengan baik dengan tantangan dan peluang yang dihadapi, seperti menjadi ayah dan orang tua yang menua. “Itu perlu semangat positif menghadapi dan menjalankannya”, kata Pak Hanif.

Tak terasa saya seperti masuk ruang belajar selama menumpang mobil yang disetir Pak Hanif. Terlihat sekali ia memang sosok guru yang baik dan penuh motivasi. Sampai di tempat yang dituju, saya turun dari mobil Pak Hanif. Sebuah mobil kijang merek Innova yang dibeli pascapensiun, yang katanya digunakan sebagai moda bisnis dan memanjakan keluarga. Saya turun dari mobilnya dengan banyak sekali pertanyaan di kepala.

Sebagai seorang pekerja, sebagian orang memiliki kecenderungan untuk mendefinisikan pencapaian dengan cara yang sangat spesifik, yaitu kesempurnaan total dan menyeluruh setiap saat. Bahkan ada yang tidak mau menurunkan standar, tetap ingin terlihat super power dan tidak mau “turun level” sedikitpun untuk bisa memahami banyak hal yang perlu diselesaikan di “lantai dasar”. Padahal bisa saja memperluas cakupan ‘no limit’ tentang apa yang memenuhi syarat sebagai cikal-bakal memenangkan banyak hal di tengah-tengah kehidupan kita. Mencapai hasil yang diinginkan tidak selalu dalam kendali Anda, jadi perluas definisi kesuksesan Anda dengan memasukkan ‘no limit’ secara positif dengan versi yang bisa kita bangun sendiri.

Keseimbangan kerja-keluarga dan kebermanfaatan adalah sesuatu yang mengacu pada persepsi individu tentang sejauh mana ia mengalami hubungan yang positif antara peran dalam pekerjaan dan dalam keluarga, di mana hubungan tersebut dipandang sebagai sesuatu yang kompatibel dan berada pada keseimbangan satu sama lain. Seperti sebuah titik tumpu yang mengukur bobot pergeseran waktu harian dan alokasi energi antara kehidupan pekerjaan dan keluarga, istilah “keseimbangan” memberikan sebuah metafora untuk menyeimbangkan gagasan dan relasi menuju kebermanfaatan. Kita perlu membangun kembali ‘no limit’ untuk mencapai hal itu.[]

Penulis: Hendra Syah, Akademisi dan Pelatih Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM)

Baca Juga Kolom Lainnya

Total
0
Shares

Tinggalkan Balasan

Previous Article

Skenario Perebutan Sisa Tiket 16 Besar Euro 2020

Next Article

Erick Thohir Berharap PT PPI Putar Roda Perdagangan Nasional

Related Posts
Read More

Kolom: DNA Belajar

APABILA telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak…