Kolom: Teladan dari Lumba-Lumba

Setiap waktu menunggu dalam sebuah perjalanan yang saya tempuh baik dengan moda udara, laut  dan darat, sering saya gunakan untuk merenungi banyak hal. Perenungan dalam perjalanan menjadi “rekreasi” alternatif versi saya, untuk sejenak menepi dari hiruk pikuk aktivitas bernilai yang cukup padat, termasuk membersamai keluarga.

Tak jarang, perenungan itu bermuara menjadi narasi syair, sajak, bahkan catatan tulisan panjang. Seperti yang saya rasakan ketika berada dalam sebuah perjalanan laut dari Banda Aceh menuju Sabang, bersama rekan yang lain.

Menggunakan Express Bahari, saya duduk di kelas Eksekutif. Di atas kursi yang nyaman dengan nomor EB 5F, saya duduk bersebelahan dengan jendela. Melihat awan-awan berwarna biru yang tersusun indah, gunung yang tinggi menjulang, membuat jiwa saya seperti terbuai dengan pesonannya.

Kali ini saya benar-benar beruntung. Dapat “rezeki nomplok”, kalau kata orang Sumatera. Melihat sekelompok ikan lumba-lumba menari-nari berlompat-lompatan dari dalam lautan ke permukaan gelombang, meningkahi riak-riak air laut dengan lompatan mereka yang unik dan indah. Sebagian darinya saya foto dengan camera gawai.

Sangat dekat terlihat, seekor lumba-lumba seperti memimpin dan berada di posisi depan. Kepala dan badannya meliuk-liuk mengikuti irama gelombang air laut yang muncul, di sepanjang perjalanan di sisi kanan kapal yang saya tumpangi. Sementara sekitar delapanan ikan lumba-lumba lainnya terlihat berbaris membuat atraksi mereka di belakang lumba-lumba besar yang memimpin di depan. Bukan seperti sirkus yang pernah saya saksikan secara langsung, bergerak dengan dipandu pawangnya, tapi gerakan yang saya lihat di lautan lepas, benar-benar naluri lumba-lumba yang penyayang dan selalu membuat senang orang yang melihat.

Sekilas saya berpikir itu seperti kebetulan. Namun sekitar lima belas menitan sekelompok lumba-lumba itu terus menampakkan diri, membentuk barisan indah dan saling menjaga keselarasan. Atraksi mereka seperti mengirimkan pesan kepada yang melihat, termasuk saya, beginilah sejatinya, yang disebut kompak dan  selaras. Semua seperti saling menjaga, tidak rebutan di depan, tapi tetap ikhlas dan menjadi hebat meski di belakang namun tetap terlihat mengagumkan.

Melompat dan berbaris, lumba-lumba yang berada di belakang seperti mengelola dan menunjukkan kekuatan diri siap dipimpin sebelum memimpin di depan. Tanpa saya sadari meski dalam wadah lautan yang sangat luas, tapi performa mereka lompatan demi lompatan, sangat rapi dan membuat saya berdecak kagum.

Gerakan lumba-lumba yang selaras itu, mengingatkan saya pada sebuah buku yang pernah saya baca. Judulnya Be Open, tulisan David Viscott, yang membahas tentang kepemimpinan. Konon memimpin sama dengan mengatur dan mengelola barisan.

Semua orang yang sedang memimpin barisan, seperti layaknya lumba-lumba itu, harus memberikan instruksi yang jelas disertai keterbukaannya dalam sepanjang perjalanan. Apalagi bila memimpin, sejatinya terbuka untuk menyampaikan semua hal yang sedang ia jalankan agar diketahui oleh orang lain. Agar orang lain tidak keliru dan merasa ambigu pada apa yang mereka dengar dan saksikan, ketika mereka dipimpin.

Keterbukaan di sini bukan berarti sebagai pemimpin, anda mengatakan semua kekurangan anda di depan umum. Bukan pula anda harus diam dan menerima semua penghinaan orang lain, tentu tidak seperti itu. Keterbukaan itu penting agar membantu siapapun bisa bercermin dengan jernih,  punya tolak ukur atau pembanding yang baik dan layak dipercaya.

Kejernihan inilah yang baiknya anda latih dengan menjaga perilaku anda agar selaras dengan ucapan dan esensi kebaikan. Sehingga ibarat cermin, cahaya yang dipantulkannya itu tidak buram atau terganggu pancarannya.

Untuk terbuka, tentu saja butuh proses dan kesiapan mental untuk menerima kritikan. Karena tidak semua orang punya semangat dan berani dikritik. Ketika proses itu normal, dan kepekaan diri tumbuh pada banyak hal yang terjadi di sepanjang perjalanan, biasanya seseorang akan memperoleh kemampuan untuk bisa memahami akibat dari sesuatu aktivitas yang ia lakukan, apakah itu dari pikiran, ucapan atau perbuatan fisik.

Kemampuan semacam itu timbul dengan berkembangnya keterbukaan, kepekaan pada lingkungan, kebersihan hati melihat dan menyikapi sesuatu, ketenangan batin termasuk keikhlasan dalam menjalani hidup.

Seorang sahabat baik yang turut serta dalam perjalanan saya tiba-tiba berkomentar.

“Kemampuan terbaik yang perlu dimiliki dalam perjalanan siapapun baik dalam bekerja dan bekerjasama adalah kemampuan untuk menghapuskan stigma buruk pada banyak hal yang dirasakan, jika belum pernah dialami langsung. Kita bisa contoh ya, pada apa yang kita lihat langsung pada lumba-lumba yang berjalan bersama-sama itu. Apalagi ini langsung di lautan luas, bukan di kolam sirkus,” katanya memecah keheningan lamunan saya.

Dengan mengandalkan insting kemampuan “ala ikan”, mereka tetap bisa mengendalikan diri dan memberi contoh baik untuk kita bercermin dan inilah kemampuan batin yang sesungguhnya yang harus kita temukan, katanya lagi.

“Wah, menarik komentarmu,” kata saya.

“Cara pandang yang keliru bisa saja berdampak fatal bagi apapun yang kita nilai yang hanya mengandalkan kata orang,” katanya lagi.

Saya terdiam. Lama saya berpikir sebelum menjawab komentarnya.

“ Lalu apa maknanya, jika orang memiliki cara pandang yang keliru?” kata saya.

“Begini, sebenaranya tersedia cukup ruang untuk mengelola kerentanan kita dalam memandang dan menyikapi sesuatu, agar cara pandang kita tidak salah atas sesuatu apapun. Jangan terus berharap pada orang lain agar mereka berbuat baik dan terus memberi contoh teladan. Namun kebalikannya kitalah yang harus dengan semangat dan bersusah payah untuk terus melakukan yang terbaik, terlepas itu akan menjadi contoh baik atau tidak bagi orang lain. Orang-orang yang selalu berkomentar salah atas apa yang dilakukan oleh orang lain, mungkin bisa jadi dianya juga harus kita selamatkan,” katanya lagi.

“Bagaimana mungkin, tidak mengenal apa yang orang lain lakukan, namun kita bisa sebenci-bencinya pada apa yang kita reka,” katanya.

Bermula dari melihat atraksi lumba-lumba, ternyata ulasan sahabat saya menjadi sedalam itu.

Tidak terasa, perjalanan hampir sampai. Waktu menjejakkan kaki di Pulau Weh pun tinggal 20 menit lagi. Kami masih larut dalam diskusi hangat tentang memimpin, dipimpin, dan contoh baik, termasuk apa yang harus dilakukan seorang pemimpin ketika semua orang yang ia pimpin tidak peduli.

Sejatinya, bisa jadi pemimpin akan depresi. Namun, bagi seorang pemimpin yang mengenal dirinya sendiri, tentu akan terus mengambil keputusan baik dan memberikan contoh yang baik, meskipun sedang berada dalam situasi sulit.

Termasuk ketika negeri ini masih diuji oleh deraan pandemi Covid-19. Kelelahan, dan emosi — serta lingkungan yang bergejolak — dan tiba-tiba pekerjaan menjadi lebih sulit secara eksponensial, tentu akan turut memberikan dampak pada apa yang sedang kita kerjakan sepanjang waktu ini.

Namun, apakah keputusannya kita harus berhenti? Tentu tidak. Di sepanjang masa sulit itupun kita tak boleh berhenti untuk memberikan contoh baik. Yang perlu diingat, masa menjadi pemimpin, hanya ketika kita diserahkan amanah memimpin. Setelah itu orang lain akan mengingat legacy yang kita tinggalkan. Apakah itu berupa contoh baik atau bukan. Jika belum punya contoh baik, masih ada waktu mengubahnya. Lakukanlah. Bukan karena ingin populis. Tapi karena anda harus menjadi baik.[]

Total
8
Shares

Tinggalkan Balasan

Previous Article

Anggota DPR RI Minta PPKM Darurat Diperpanjang hingga 17 Agustus 2021

Next Article

Mahasiswa Minta Sikap Tegas DPRA Terkait Kinerja Pemerintah Aceh

Related Posts