Kondisi Lingkungan Genting, Butuh Jurnalis Investigasi

Foto IST

Sumatera Tropical Forest Journalism (SFTJ) dan Yayasan Orangutan Sumatera Lestari-Orangutan Information Centre (YOSL-OIC) mengelar pelatihan jurnalistik investigasi di Explore Sumatera River Camp Sei Bingai, Langkat, Sumatera Utara.

Pelatihan tersebut diikuti oleh para jurnalis yang berasal dari Sumatera Utara dan Aceh, baik televisi, cetak dan media online. Para jurnalis yang mengikuti pelatihan jurnalistik investigasi ini juga tergabung dalam komunitas penggiat dan peduli lingkungan hidup.

Founder YOSL-OIC, Panut Hadisiswoyo mengatakan, pelatihan jurnalistik investigasi ini sangat dibutuhkan dalam sebuah gerakan konservasi yang saat ini dihadapkan dengan berbagai persoalan.

“Dengan pelatihan jurnalistik investigasi ini kiranya membangun sebuah gerakan jurnalistik yang sistemik untuk membangun sebuah upaya konservasi,” kata Panut, dalam keterangan tertulis, Selasa (23/11/2021).

Panut menuturkan, kondisi saat ini sangat genting hingga diperlukannya langkah serius dan nyata dalam upaya konservasi, salah salah satunya ialah harus adanya peran jurnalis untuk menghadapi persoalan ini.

“Kondisi sekarang ini sangat urgent, kita butuh muatan jurnalis yang profesional untuk menghadapi segala persoalan. Semoga pelatihan jurnalistik investigasi ini menjadikan jurnalis yang profesional dan berintegritas,” ucapnya.

Di samping itu, Direktur STFJ, Rahmad Suryadi menyebutkan, kegiatan pelatihan ini diselenggarakan oleh kolaborasi STFJ dengan YOSL- OIC. Pemateri merupakan wartawan senior Tempo, Mustafa Silalahi yang kaya pengalaman melakukan jurnalistik investigasi dan Produser Watchdoc, Indra Jati.

“Tujuan pelatihan jurnalistik investigasi ini sebagai upaya kita untuk berperan dalam mengawal konservasi bisa berjalan dengan baik. Banyak harapan agar para jurnalis berperan dalam konservasi. Sebab, dunia, hutan, satwa saat ini kondisinya sekarang tidak dalam keadaan baik-baik saja,” tutur Rahmad.

Rahmad menjelaskan, banyaknya kasus konflik satwa dengan manusia juga menjadi tantangan untuk memberikan pemahaman agar kasus serupa tak terus terjadi lagi. Seperti belakangan ini terjadinya harimau atau belalai gajah terjerat hingga berujung kematian.

“Ini tidak boleh terjadi lagi. Peran kita sangat besar dalam konservasi ini. Semoga dengan pelatihan ini memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada masyarakat agar konservasi dapat lebih baik lagi,” ujarnya.

Sementara, Mustafa Silalahi menambahkan bahwa dalam peliputan investigasi harus dilakukan riset dan berbagai hal sebelum melakukan investigasi.

“Untuk melakukan liputan investigasi harus terlebih dahulu melakukan riset, mencari data awal, perencanaan liputan, pengumpulan informasi atau bukti verifikasi dan analisis, serta konfirmasi,” tandasnya.[acl]

Total
4
Shares

Tinggalkan Balasan

Previous Article

Gaikindo Optimis Penjualan Kendaraan 2021 Tercapai Target

Next Article

Senator Aceh: Revisi UU Pemilu Dinilai Mendesak

Related Posts
Read More

Kata Gen-Z Soal Vaksin

Wajahnya tertutup masker hitam sambil menenteng beberapa lembar kertas menuju meja skrining. Sesekali ia menyeka rambutnya sembari membuang…