Marzuki Hasan, Maestro Seudati Aceh yang Mendunia

Marzuki Hasan seorang maestro tari Seudati. Dok. Istimewa

Marzuki Hasan merupakan seorang Maestro tari (Seudati) Indonesia yang lahir dan besar di Gampong Meudang Ara, Blangpidie, Aceh Barat Daya,  tahun 1943. Di jiwa lelaki itu mengalir darah seni yang begitu kuat.

***

Suara parau Marzuki Hasan (79) terdengar dari balik sambungan telepon ketika ia memberikan salam. Lembut sapaannya begitu hangat di Senin malam (22/21) itu.  Meski sudah berusia senja tapi gaya bicaranya masih jelas, lugas, dan bersemangat.

Sejak kecil Marzuki  sudah mulai berkiprah di dunia tari khususnya Seudati dan Saman. Kebiasan orang Aceh dulu, katanya, sering mengadakan lomba-lomba Seudati dan Saman antar Gampong.

Dari kebiasaan itulah Marzuki dan anak-anak Aceh tempo dulu gemar dan aktif dalam berkesenian di bidang tari. Baik tari duduk, hikayat, bersyair (Meuca’e), seudati, dan saman.

Marzuki menghabiskan masa kecilnya di Gampong Meudang Ara. Darah seni yang mengalir di tubuhnya diturunkan oleh orang tua. Sang ibu yang pandai bersyair menjadi guru pertama dalam melantunkan syair-syair Aceh. Dari sanalah awal mula ia belajar seni tutur Aceh dan tari duduk.

Di Gampong Meudang Ara, Marzuki kaya akan berbagai pertunjukan seni tari. Perlombaan tari tradisional sering diselenggarakan. Biasanya pertunjukan itu berlangsung lama dari pagi hingga sore hari.

Di kampungnya bahkan di Aceh pada umumnya waktu itu ada kebiasaan anak laki-laki tidur di Meunasah. Hal ini yang membuat dirinya selalu rindu kepada kampung halaman.

Semasa duduk di bangku sekolah dasar (SD), Marzuki mulai mengikuti perlombaan tari Seudati dan Saman dari kampung ke kampung. Hingga sampai di bangku sekolah menengah pertama (SMP) ia makin aktif mengguluti dunia tari tradisi tersebut.

Selesai menamatkan pendidikan SMP, Marzuki lanjut ke jenjang sekolah menengah atas (SMA). Setelah duduk dibangku SMA, berbagai perlombaan terus ia ikuti. Di usia itu, Marzuki mulai aktif dengan penari-penari dewasa. Keahliannya sebagai pelantun hikayat-pun semakin matang.

Tari Seudati bagi Marzuki bukan sekadar hobi. Seudati telah menjadi dunianya. Sebab, melalui tari Seudati ia dapat mengungkapkan rasa beragama, etika, heroik, kritik, dan kebersamaan serta semangat pembangunan bangsanya. Melalui tarian (khususnya Seudati), dosen Institut Kesenian Jakarta (IKJ) itu mengungkapkan rasa cintanya pada budaya Indonesia yang ia siarkan ke berbagai negara.

Menuntut Ilmu di Pulau Jawa

Tahun 1965, Marzuki melanjutkan studi di Jurusan Olahraga di IKIP Yogyakarta (sekarang, Universitas Negeri Yogyakarta). Di kota pendidikan itu ia terus mengembangkan bakatnya. Dari Yogyakarta ia mulai melakukan pertunjukan tari Seudati dan memberikan pelatihan tari tradisi Aceh kota-kota di pulau Jawa, seperti Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Sekian lamanya malang-melintang di Yogyakarta dalam penuh ragam pengalaman sebagai seorang mahasiswa membuat Marzuki tak luput dari semangat yang dibawanya dari kampung halaman.

Di Yogyakarta Marzuki harus berjuang dan berkutat dengan keadaan yang tidak begitu berpihak padanya. Ia kerap mendapatkan kesulitan dalam membiayai hidup dan biaya kuliahnya. Nasib tak baik sering menimpanya kala itu.

“Di Yogyakarta, kehidupan mahasiswa Aceh saat itu begitu memprihatinkan,” kata Marzuki, saat berdiskusi dengan readers.ID.

Marzuki juga tak kunjung menyelesaikan studinya di IKIP Yogyakarta lantaran faktor ekonomi. Setelah melanglang buana sedikit lama di kota pendidikan tersebut akhirnya ia memilih untuk hijrah ke Ibu kota Jakarta.

Memasuki tahun 1970, Uki sapaan akrab Marzuki pindah ke Jakarta dan bertemu dengan sesama seniman Aceh. Saat itulah ia mulai meyakini bahwa seni tari baginya bukan sekadar hobi, tapi telah menjadi dunianya. Ketika itu, studinya tak kunjung selesai.

Di Jakarta, Marzuki mengawali kehidupan dengan berniaga di kedai kelontong. Sembari berdagang, ia juga aktif belajar dan melatih tarian Aceh, serta mulai bergabung dengan para seniman Aceh yang ada di Jakarta.

Kemudian, di tahun 1973 pak mulai menjadi Dosen di Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) yang kini menjadi Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Di LPJK Marzuki mengajar mata Kuliah Kesenian Aceh, khususnya Seudati dan seni vocal. Pelajaran seni vocal ini terumatam dalam tari tradisional Aceh.

“Waktu pertama tiba di Jakarta saya sering aktif di Taman Ismail Marzuki,” kisah Marzuki.

Sampai kini, Marzuki masih hafal betul dengan lirik-lirik dan irama syair Aceh. Saat di Jakarta ia langsung berkecimpung dengan seniman-seniman Aceh yang ada di Ibukota.

Mula-mula Marzuki melatih di PBVSI, namun jiwanya tetap tertarik pada seni tari. Lalu ia meninggalkan pekerjaan tersebut dan memilih mengajar tari Seudati. Banyak pekerjaan yang menjamin menghampiri Marzuki muda saat itu. Namun, semuanya ditolak. Sebab bertentangan dengan hati nuraninya.

Di usia mudanya, Marzuki sudah menguasai beberapa seni tradisional Aceh seperti Malelang, Pho, Hikayat, Saman, dan Seudati.  Pho merupakan seni tari asal Meulaboh Aceh Barat. Sedangkan tari Malelang kata Marzuki, merupakan seni tari yang khusus dimainkan oleh gadis-gadis ketika menjelang acara-acara resepsi pernikahan. Malelang tersebut masuk dalam jenis seni tutur.

“Asal seni Pho dari Malelang. Seni tutur ini identik saat acara boh kaca darabaroe (memakai inai pengantin perempuan),” jelas Marzuki.

Menjadi Dosen Tari di Institut Kesenian Jakarta

Di Tahun 1975, Marzuki menjadi Dosen tetap di IKJ. Dari itulah ia menjadi sosok penting dalam seni tari Indonesia. Ketika meniti hidup di ibu kota negara, Marzuki aktif mengisi panggung seni di Jakarta.  Di samping kesibukannya mengajar dan mengisi panggung formal, ia tetap terus belajar dan melatih diri.

Tahun 1983, 1884, 1987, 1990 hingga 2020 Marzuki sudah malang-melintang pulang pergi keluar negeri menjadi tamu undangan dalam setiap festival seni, festival kebudayaan, serta konferensi antar negara terkait dengan seni tari.

Tak hanya itu, seiring berjalannya waktu Marzuki andil sebagai penari (Seudati) di istana negara ketika acara-acara kenegaraan berlangsung. Ia menjadi penghibur para tamu undangan dari berbagai negara.

Lelaki berperawakan lemah lembut itu sudah ke mana-mana, dan berkeliling dunia. Ia memperkenalkan Seudati ke seluruh dunia, seperti Amerika Serikat, Afika, Paris, Italy, Inggris, Australia, Lebanon, Abu Dhabi, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, bahkan Marzuki tak mengingatkan lagi negera-negara mana yang pernah ia tapaki. Bahkan ia sudah berkali-kali diundang oleh negara-negara maju tersebut.

Ia terakhir ke Eropa pada tuhan 2017 saat itu ada festival seni tari di New York dan Washington. Marzuki diundang oleh para petinggi-petinggi di berbagai negara di dunia.

Di Asia Tenggara sendiri, bukan menjadi hal yang jarak lagi bagi Marzuki. Ia juga pulang pergi ke China, Korea dan Jepang, Philipina, Thailand, serta Brunae Darussalam dalam urusan seni tari. Bahkan hampir semua festival tari di dunia, ia selalu mendapatkan undangan untuk mewakili Indonesia.

Di Tahun 1980, Marzuki kembali ke Aceh dalam agenda penelitian dan kajian tentang seni tradisi Aceh. Bahkan, ia juga kerap menemani teman-temannya yang berkeinginan untuk meneliti tentang seni tari Aceh.

Hubungannya dengan Kepala Rumah Tangga Istana Negara

Marzuki sudah menjadi penari di Istana negara semenjak era Soeharto dan sampai dengan Presiden Joko Widodo sekarang. Berkat hubungan emosionalnya dengan kepala Rumah Tangga Istana negara membuka jalan lempang atas seni tari Aceh yang bersemayam di jiwanya.

Ia menjadi penari kita menyambut para tamu kenegaraan dari berbagai negara. Hal itu menjadi daya tarik, sehingga Marzuki diundang ke berbagai negara di Asia, Eropa dan Afrika dalam misi seni tari tradisional.

Hari berganti minggu, minggu bertemu bulan, dan tahun pun silih bergantian. Marzuki menjadi bagian penting bagi negara Indonesia di bidang seni tari tradisional. Hal itu pula yang membuat dirinya bisa bertemu dengan orang-orang penting dan tokoh-tokoh besar di Istana negara.

Dengan tekad, semangat dan kemampuan yang dimiliki, Marzuki menjadi sosok yang dicari dan dibutuhkan banyak orang. Terutama mahasiswa yang mengambil tesis atau kajian menyangkut dengan seni tari Aceh khususnya Seudati.

Keramah-tamahan Marzuki membuat ia disegani dan menjadi sosok penting di Institut Kesenian Jakarta, bahkan di dunia tari Indonesia dan dunia sampai dengan hari ini. Padahal, kata Marzuki ia sudah beberapa kali meminta izin untuk berhenti mengajar lantaran faktor usianya. Namun, para Dosen di IKJ tetap memintanya untuk mengajar.

Sampai dengan kini, Marzuki masih menetap Jalan Kintamani 2 No. 45 RT 04 RW 12, Perum Bumi Bekasi Baru Utara Rawalumbu Utara Pengasinan Bekasi.

Kelebihan Seni dan Budaya Aceh

Menurut Marzuki, ada beberapa unsur kelebihan seni dan budaya yang ada bersama orang Aceh. Sehingga ruh seni Aceh itu hidup sampai dengan hari ini.

Unsur pertama, kata Marzuki Agamis, syair-syair yang digunakan oleh orang Aceh merupakan rasa bermunajat kepada Tuhan. Di samping menjadi dakwah bagi kita bersama. Unsur agamis tersebut tidak akan lepas dari orang Aceh.

Kedua, unsur heroik. Sifat kepahlawanan dan perjuangan orang Aceh tak bisa dipungkiri. Semangat inilah yang tak dapat dipisahkan dari orang Aceh.

Ketiga, jelas Marzuki adalah unsur solidalitas. Orang Aceh itu begitu solid. Hal itu masih melekat pada orang Aceh sampai dengan hari ini.

Unsur keempat kebersamaan. Rasa persaudaraan dan kebersamaan rakyat Aceh tak dapat diputuskan oleh siapapun.

Kelima unsur disiplin. Orang Aceh pada dasarnya adalah orang-orang yang disiplin dalam berbagai hal. Baik dalam tari, kehidupan, serta dalam pekerjaan. Pun, amat displin dalam menuntut ilmu.

Keenam unsur humoris. Di samping sifat agamis, heroik, dan disiplin, orang Aceh juga memiliki sisi humoris. Sifat humoris ini dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari orang Aceh yang begitu mudah akrab dengan siapapun.

Dalam sejarahnya, kata Marzuki, Seudati memiliki andil besar dalam peradaban kebudayaan Aceh. Dulu, ketika orang Aceh hendak berperang maka ada acara pelepasan: Pelepasan itu diiringi dengan Seudati. Bahkan, ketika kembali dari medan perang para pahlawan juga disambut dengan seudati.

“Kita tidak bisa mempungkuri tari seudati Aceh,” kata Marzuki.

Menurut Marzuki, perkembangan budaya Aceh dari masa ke masa masih utuh, tiada duanya. Tiada yang berubah, hanya zaman saja yang berubah, namun budaya Aceh masih seperti dulu. Sebab hubungan persaudaraan orang Aceh antar sesama masih terjalin sampai dengan hari ini.

Selain itu, Marzuki berpesan kepada generasi Aceh di manapun, baik di Aceh atau di luar Aceh untuk tetap mencintai budaya sendiri. Apabila kita mencintai budaya kita sendiri maka kita juga bisa menghargai budaya orang lain.

“Bila tidak ada rasa cinta kepada budaya sendiri, maka akan sulit untuk kita berkembang,” Imbuh Marzuki.

Kenangan saat Berkeliling Dunia dalam Pertunjukan Seudati

Dilansir laman resmi kemdikbud.go.id (29/12/2017) Berkar tangan apik Marzuki, tari tradisional Aceh berhasil berjumpa dengan penonton di empat benua. Tahun 1984, ia menampilkan pertunjukan tari tradisi di Amerika Serikat dan Jerman. Ia juga pernah selama 40 hari keliling Amerika Serikat untuk pertunjukan tari Seudati.

Di Eropa, Marzuki melakukan pertunjukan keliling untuk tari Rampai Aceh. Pak Uki juga diundang ke Amerika Latin, Kanada, Nikaragua.

Marzuki juga sempat diundang ke Konferensi Orang-orang Kaya Se-Dunia di Davos, Switzerland. Pertunjukan yang paling membekas baginya adalah saat diundang dan tampil pada acara 50 Tahun Konferensi Asia Afrika di Namibia. Di sana ia diminta mengajari penduduk setempat untuk tampil menari di depan para pemimpin negara yang menghadiri konferensi tersebut.

Dengan kemampuan bahasa Inggris yang terbatas, Marzuki memberikan pengajaran dalam bahasa Inggris, bahasa Indonesia dan bahasa Aceh. Namun rupanya tantangan itu membuat dirinya dan peserta memiliki kedekatan tersendiri. Alhasil, pertunjukan mereka mendapat sambutan meriah dari hadirin.

Kenangan manis lainnya, saat ia menampilkan pertunjukan tari di Harare yang sedang mengalami konflik. Karena keadaan tersebut, banyak media internasional hadir di negara Zimbabwe tersebut. Tak diduga kehadiran media dalam situasi konflik itu memberi dampak positif terhadap liputan pertunjukannya.

Liputan pertunjukan tarian yang dibawakan Marzuki tayang tiga hari berturut-turut di CNN. Tak heran bila kemudian Duta Besar RI di Zimbabwe menemui Putra kelahiran Blangpidie itu untuk mengucapkan terima kasih karena dianggap telah mengangkat wajah budaya Indonesia di panggung dunia.

Antara Tari Tradisi dan Kreasi

Secara umum musik yang pokok pada seni tradisi Aceh bersumber dari vokal dan bunyi musik body yang dihasilkan oleh gerak tari. Walaupun, memang beberapa di antaranya menggunakan alat musik seperti musik seurune kalee (menyerupai terompet dimainkan dengan ditiup), rapai (menyerupai rebana dimainkan dengan cara dipukul), geundrang (genderang), dan canang (menyerupai kenong atau gong kecil).

“Keselarasan antara tarian dan syair sangat erat. Antara irama dan power harus harmonis. Adanya perpaduan antara vokal dan gerak itulah yang menjadi tontonan seni tari Aceh, musik hanya satu dua saja,” jelas Marzuki

Marzuki menciptakan tarian yang berakar dari tradisi Aceh antara lain tarian Hu yang dalam bahasa Aceh bermakna merah menyala. Hu juga dapat bermakna Allah. Tarian Hu berkisah tentang manusia yang diturunkan dalam keadaan berkeluh kesah.

Hu menyala-nyala 

dalam tubuh

Hu menyala-nyala

Isi’m Jalullah 

Nama tubuhku

Limpah cahaya

Nur jeup-jeup anggota

Dhaem khaem sereuta Allahu. 

Adapun karya yang paling menyentuh rasa kemanusiaannya adalah tarian Meusaboh Hatee (menyatukan hati). Tarian ini ia gubah setelah melakukan penelitian di barak-barak pengungsian yang terpapar tsunami pada 2004 silam.

Sambil berlinang air mata, Marzuki mengenang perjumpaannya dengan anak-anak yang kehilangan orangtuanya. Perenungannya itu kemudian melahirkan karya tari Meusaboh hatee. Di masa penelitiannya di tanah kelahiran ia juga membuat master class selama dua minggu yang diikuti oleh para seniman Aceh.

Tujuannya, antara lain, untuk mengembangkan pengajaran tari bagi anak-anak yang menghadapi peristiwa tsunami. Master class tersebut berhasil memberikan pertunjukan tarian yang diikuti oleh 70 anak-anak yang tinggal di barak pengungsian.

Menurut Marzuki,  tari tradisi itu telah hidup ribuan tahun, daya pikatnya juga tidak bisa disamakan dengan tari kreasi. Namun, bagaimanapun, tari tradisi itu dapat dilestarikan akan sangat bergantung pada manusianya.

“Tapi saya yakin dengan anak-anak bangsa yang sangat memperhatikan tradisi,” ujar Marzuki.

Ia tidak takut tradisi akan hilang. Untuk situasi di Aceh saat ini misalnya, meskipun masyarakatnya pernah melalui masa perang yang panjang, kemudian sempat ada polemik karena adanya pelembagaan syariat Islam sehingga tarian sempat dilarang oleh ulama-ulama, akan tetapi kemudian keluar buku hijau yang menjelaskan mana yang haram dan mana yang tidak.

Lalu muncul satu pandangan yang menjelaskan bahwa yang haram bukan tariannya. Dalam sejarah masyarakat Aceh, tarian justru berfungsi sebagai dakwah mengislamkan orang-orang di Aceh. Setelah Islam berkembang, tarian menjadi milik rakyat.

“Dalam tari tradisi Aceh yang disampaikan tidak hanya soal agama, tapi juga etika, kritik, dan pembangunan,” paparnya.

Dengan demikian, ia berharap agar seniman Indonesia terus berjuang untuk seni. Berangkat dari pengalaman tampil dalam pertunjukan di berbagai negara, Marzuki  berkesimpulan: seni tari Indonesia sangat dikagumi! Karena itu pula, ia berharap agar pemerintah lebih memperhatikan dan memberikan dukungan pada seni tradisi.

“Di negara maju saja seni tradisi masih disubsidi oleh negara, akan tetapi mengapa di Indonesia tidak?” ujarnya.

Menerima Anugerah Kebudayaan

Pada Tahun 2017 Marzuki menerima Anugerah Kebudayaan untuk kategori Pencipta, Pelopor dan Pembaharu dari Kementerian Pendidikan dan kebudayaan RI.

Menanggapi anugerah kebudayaan tersebut Marzuki merasa tersanjung karena pemerintah mau memberikan perhatian. Baginya penghargaan ini juga bermakna bagi seniman lain yang memelopori dalam mengembangkan seni tradisi.

“Para pengembang seni tradisi ini sudah bekerja dari kecil hingga tua. Kebanyakan mereka tidak punya apa-apa karena mencurahkan hidupnya pada seni tradisi. Tentu untuk mereka juga penghargaan ini,” ujar Marzuki kala itu.

Keahlian yang dimiliki Marzuki  adalah penari tari tradisi Aceh dan menggubah tarian kontemporer berakar tradisi Aceh.

Sementara jenjang perjalanan karirnya dimulai sejak 1975, ia mengajar tari Aceh pada Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Di tahun 1965 memberikan pengajaran tari Aceh di Yogya, Jawa Tengah, Jawa Timur, kemudian ke beberapa negara di Benua Asia, Afrika, Eropa dan Amerika.

Adapun karya-karya Koreografi Marzuki antara lain:

Tari Rampau digubah bersama grup Cakra Donya (1978)

Tari Hu

Tari Rampai Aceh

Tari Meusaboh hatee

Sedangkan Pertunjukan: tampil sebagai Penari Rampai Aceh pada Maestro Dialog Tari yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta.

Total
6
Shares

Tinggalkan Balasan

Previous Article

Ditangkap KPK, Nurdin Abdullah: Sama Sekali Tidak Tahu, Demi Allah

Next Article

Teman Tuli Kopi, Perkenalkan Bahasa Isyarat Lewat Racikan Kopi

Related Posts