Melaut Keluar Batas Negara, Nelayan: Jumlah Ikan di Laut Aceh Sedikit

Para nelayan Aceh yang tiba di Jakarta, Sabtu lalu usai dibebaskan pengadilan India. (Dok. Kementerian Luar Negeri)

Berkat kerja sama dengan berbagai pihak, Pemerintah Aceh berhasil membebaskan 28 nelayan Aceh yang telah menjalani masa penahanan 11 bulan di India.

Polisi pengawal pesisir pantai India, Durgabai Deshmukh semula menangkap 28 nelayan Aceh itu pada 3 Maret 2020 lalu. Mereka dituduh melanggar batas teritorial. Mengendarai kapal KM BST 45, para nelayan melaut hingga berada di jarak 55 mil dari daratan Pulau Nikobar.

“Atas upaya advokasi Kedutaan Besar Republik Indonesia, Pemerintah Aceh dan PSDKP-KKP RI, Pengadilan Andaman memutus bebas para nelayan itu pada 16 Januari 2021,” kata Kepala Badan Penghubung Pemerintah Aceh, Almuniza Kamal, Sabtu (30/1/2021) lalu.

Catatannya, sepanjang 2020 hingga kini sedikitnya 160-an nelayan Aceh menyalahi teritorial kelautan negara lain. Sehingga mereka mendapat sanksi penahanan oleh otoritas setempat, seperti yang terjadi di Myanmar, Thailand, dan India.

Salah seorang nelayan yang bebas, Mansur Mustafa (52) merasa bersyukur tetap dalam keadaan sehat selama menjalani penahanan di India. Pihak keamanan setempat, kata dia, memperlakukan para nelayan dengan baik dan disiplin. Mereka juga tidak kekurangan makanan di sana.

Terkait peristiwa penangkapan yang ia alami, Mansur mengaku salah.

Kata dia, para nelayan terpaksa melaut hingga keluar batas negara lantaran jumlah ikan di perairan Aceh tidak banyak lagi.

“Tapi di kawasan luar (tempat 28 nelayan tertangkap), ikan masih banyak,” terang laki-laki asal Trienggadeng, Pidie Jaya itu.

Terlepas dari itu, ia berterima kasih kepada seluruh pihak yang telah mengupayakan kebebasan mereka di India. “Terutama kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan, KBRI Indonesia di India, Pemerintah Aceh, serta pihak lainnya yang telah mengupayakan kebebasan kami,” ujarnya.

Berikut nama-nama 28 nelayan Aceh tersebut:

  1. Afdharuddin, Sigli, Pidie,
  2. Mansur Mustafa, Trienggadeng, Pidie Jaya,
  3. Samsul Kahar Kaoy, Sigli, Pidie,
  4. Basri Jeunieb, Bireuen,
  5. Ferri, Neuheun Aceh Besar,
  6. M Amin Ismail, Peulimbang, Bireuen,
  7. Amri, Batee, Pidie,
  8. Irwan, Peulimbang, Biruen,
  9. Safwadi, Samalanga, Bireuen,
  10. Hendra Syahputra, Sigli, Pidie,
  11. Husaini, Meurahdua, Pidie Jaya,
  12. Sabarullah, Trienggadeng, Pidie Jaya,
  13. Tarmidi, Rawa, Pidie,
  14. Samudi, Batee, Pidie,
  15. Muhammad Tawakal, Pandrah, Bireuen
  16. Basri, Syiah Kuala, Banda Aceh,
  17. Sulaiman Daud, Neuheun, Aceh Besar,
  18. Hayatullah, Batee Pidie,
  19. Helmi Arahman, Samalanga, Bireuen,
  20. Saiful Abu Bakar, Peureulak, Aceh Timur,
  21. Muhammad Zaini, Panga, Aceh Jaya,
  22. Sofyan Lotan, Batee, Pidie,
  23. A Karim, Batee, Pidie,
  24. Muhib Muddin, Batee, Pidie,
  25. Husaini, Lhoksumawe,
  26. Ulul Azmi, Kota Binjei, Aceh Timur,
  27. Al Fazil, Samalanga, Bireuen,
  28. Sulaiman, Lampulo, Banda Aceh. (Fd)
Total
18
Shares
1 comment

Tinggalkan Balasan

Previous Article

Tiba di Jakarta, 28 Nelayan Aceh Jalani Isolasi

Next Article
Setelah Pulih, Harimau Terjerat Kaki di Aceh Tenggara Dilepasliarkan

Danau Putra kembali Menghirup Udara Liar

Related Posts