Melihat Pembuatan Keukarah, Kue Khas Aceh yang Mulai Langka

Tangan Masyitah (31) tak pernah tetap, kepalanya menunduk ke arah kompor yang ada di depannya. Ia begitu fokus membuat Keukarah, tak sekalipun memalingkan pandangan ke arah pengunjung yang datang ke acara Festival Kopi Kutaraja.

Jika Masyitah kehilangan fokus maka Keukarah bikinannya akan gosong. Proses membuat Keukarah tidak terbilang lama, satu Keukarah bisa matang dalam waktu beberapa detik saja.

Masyitah warga Blang Krueng, kecamatan Baitussalam, Aceh Besar, ikut ambil bagian dalam pagelaran Festival Kopi Kutaraja yang digelar di Amel Convention Hall, Ulee Kareng, Banda Aceh. Minggu, (28/2/2021).

Amatan readers.ID, sejumlah pengunjung tampak begitu antusias menyambut acara Festival Kopi Kutaraja meski di tengah kondisi Covid-19. Mereka tak hanya menikmati kopi saja, tetapi juga ikut menyaksikan perlombaan pembuatan kue khas Aceh. Seperti Timphan, Apam Kuah Tuhe, dan Keukarah

Menariknya, untuk pengrajin Keukarah hanya diikuti oleh salah satu peserta dari Koperasi Industri Tanyoe Aceh (KITA) yang diwakili Masyitah.  Keukarah adalah kue khas Aceh yang berbentuk lonjong atau segitiga, dan serupa dengan sarang burung, juga seperti serabut kelapa.

Keukarah merupakan kudapan khas Aceh yang wajib dihidangkan saat perayaan acara-acara sakral seperti resepsi pernikahan, serta acara adat lainnya.

Masyitah menceritakan, awal mulanya ia menjadi pengrajin Keukarah ialah saat masih masih duduk di bangku sekolah dasar (SD). Menurutnya, saat ini Keukarah merupakan salah satu kue tradisional Aceh yang sudah langka sekali untuk didapatkan.

“Sekarang tidak banyak lagi orang Aceh yang menjadi pengrajin Keukarah,” kata Ibu dua anak itu.

Keukarah dibuat menggunakan tepung beras, gula pasir, dan air mineral dengan takaran tertentu kemudian diaduk dalam wajan.  Sedangkan untuk proses pembuatannya, menggunakan tempurung kelapa yang sudah dilobangi, lalu diisi tepung yang sudah diaduk, selanjutnya baru dituangkan dalam kuali.

Uniknya, tempurung kelapa yang digunakan merupakan tempurung yang dipilih, supaya ketika dilobongi tidak pecah dan hancur.

“Tempurung kelapa itu harus dilobangi menjadi 9 lobang. Tak bisa lebih dan tak bisa 8 lobang. Nanti tempurungnya tidak mau keluar,” tutur Masyitah.

Hal itu merujuk kepada kebiasaan orang-orang Aceh terdahulu. Makanya, sampai sekarang metode pembuatannya masih sama.

“Biasanya, dalam 1 kilogram tepung beras bisa menghasilkan 100 biji Keukarah,” jelas Masyitah.

Sementara itu, Kepala bidang  Pemasaran Pariwisata Disbudpar Aceh, Ramadhani Sulaiman, mengatakan Festival Kopi Kutaraja dilaksanakan guna menyampaikan informasi kepada wisatawan luar dan masyarakat, bahwa Aceh bisa bangkit dari keterpurukan akibat pandemi Covid-19.

“Kita melakukan promosi pariwisata melalui event ini berbasis kombinasi antara offline dan online,” ujar Ramadhani

Dikatakan Ramadhani, pihaknya tetap ingin menjaga kesehatan dari pandemi Covid-19. Namun, di sisi ekonomi juga perlu dibangkitkan dan tingkatkan kembali. Karena menyangkut dengan keberlangsungan hidup.

Karena itu, dalam acara ini tetap mengutamakan  protokol kesehatan melalui konsep CHSI atau 4K, kebersihan, kesehatan, keselamatan dan juga kelestarian lingkungan.

Ramadhani menuturkan, Pemerintah Aceh sudah menyusun kalender off event. Jadi, sepanjang tahun 2021 ada 70 event yang akan digelar oleh pemerintah Aceh melalui Disbudpar.

“Semua event tersebut akan kita gelar sesuai dengan kondisi di lapangan,” sebutnya.

Selain itu, lanjut Ramadhani, Disbudpar tidak akan memaksa melaksanakan event jika kondisi tidak nyaman bagi masyarakat. Artinya, Disbudpar akan melakukan pagelaran event dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

“Tahun ini sudah kita gelar event Aceh Milenial, dan itu berjalan sukses. Ini merupakan event kedua di tahun ini,” ungkapnya.

Festival Kopi Kutaraja ini, kata Ramadhan,  basicnya adalah minuman seperti kopi, ada pameran kopi, roasting competition (kompetisi roasting kopi), Aceh food festival, dan ikut dihibur oleh talenta-talenta muda Aceh. Kemudian, didukung oleh event-event lomba membuat kue khas Aceh.

Perlombaan membuat kue tradisional diikuti oleh beberapa koperasi Masyarakat yang ada di Banda Aceh dan Aceh Besar. Tak hanya itu, dalam event ini Disbudpar juga ingin memberikan edukasi kepada semua pelaku kopi di Aceh. Terutama kepada anak-anak muda untuk menjadi pengusaha kopi, barista, dan membuka usaha kopi.

“Kita berharap pemuda Aceh betul memahami dan belajar konsep meracik kopi, menjual kopi, dan mempromosikan kopi Aceh dengan sajian-sajian uniknya, serta dengan cita rasa tinggi,” pungkas Ramadhani.

Total
6
Shares

Tinggalkan Balasan

Previous Article

Foto: Festival Kopi Kutaraja di Tengah Pandemi

Next Article

Aceh Harus Pertahankan Pilkada 2022

Related Posts