Memburu Celah di Balik Tangsi

Suspected drugs dealer. Photo: Hotli Simanjuntak/readers.ID

Aksi penyelundupan narkoba jenis sabu ke lembaga pemasyarakatan (lapas), sudah jamak terungkap di Aceh. Setidaknya sepanjang awal tahun 2021 ini, sudah tiga kali narkoba jenis sabu ditemukan di dalam penjara.

Praktis, tempat yang seharusnya ditakuti para bandar narkoba itu, kini seakan tak punya marwah lagi.

Terakhir, penyelundupan sabu terjadi pada Kamis lalu (1/4/2021). Sejumlah barang bukti berupa 79 paket sabu seberat 148,30 gram, 1 bungkus plastik klip berisikan plastik tembus pandang serta 3 kaca pirek ditemukan di kamar mandi Lapas Kelas II B Langsa. Dalam penggeledahan itu, diamankan seorang napi bernama Dedi Satria.

Berdasarkan pengakuannya, sabu-sabu dibeli dari temannya berinisial B seharga Rp45 juta dengan tujuan untuk diedarkan di dalam lapas.

Sebelumnya, kasus serupa telah terjadi di Lapas Kelas II A Banda Aceh, pada Sabtu (27/3/2021). Sedikitnya 10 paket sabu seberat 49 gram dipasok melalui dua cup jus alpukat ke Lapas IIA Banda Aceh. Penyelundupan itu berhasil digagalkan oleh dua sipir perempuan yang semula curiga dengan warna paket yang terlalu kental.

Usut punya usut, sabu itu diantar oleh pengunjung bernama Zulfahmi kepada napi bernama Khairul. Total sabu itu senilai Rp25 juta. Andai berjalan mulus, ia akan meraup untung sekitar Rp10 juta dari bisnis sabu di dalam lapas tersebut.

Mundur lagi ke belakang, penyelundupan sabu juga pernah terungkap di awal tahun, tepatnya pada Minggu (31/1/2021). Kepala Lapas Meulaboh, Sayid Syahrul saat itu mengonfirmasi pihaknya mendapati pelaku NR mengonsumsi sabu di dalam ruang tahanan dan menyita barang bukti seberat 0,5 gram beserta alat isap.

Mengutip Antara, Syahrul mengatakan, sabu diduga diperoleh pelaku dengan cara dilempar dari luar komplek lapas.

Singkat cerita, seluruh napi tadi sudah diproses kembali oleh Polres di wilayah masing-masing untuk pengembangan lebih lanjut. Terutama, perihal dugaan peredaran bisnis sabu di lapas tempat tersangka diciduk.

Lapas Overload hingga Dugaan Relasi Petugas dan Napi

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Inspirasi Keluarga Anti Narkoba (DPP IKAN), Syahrul Maulidi mengatakan, penyebab berjalannya dugaan bisnis sabu di lapas dipicu oleh berbagai masalah.

“Salah satunya disebabkan oleh overload (kelebihan beban) kapasitas di lapas,” kata Syahrul Maulidi saat dihubungi readers.ID, Kamis (8/4/2021).

Hal ini dibenarkan oleh data Divisi Pemasyarakatan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Aceh. Hingga tulisan ini diturunkan, sudah 8.200-an napi yang menghuni lapas di Aceh, jauh melebihi kapasitas seharusnya yang hanya mampu menampung 4.300 napi.

“Rumitnya lagi, sudah kelebihan kapasitas, napi dengan kasus narkoba ini mendominasi. Dari semua penghuni lapas di Aceh, sebanyak 70-80 persen merupakan napi kasus narkoba. Bisa dibayangkan penghuni lapas didominasi oleh kasus narkoba, berarti para bandar, kurir, berkumpul semua di situ,” jelas Syahrul.

Kian bertahannya peredaran sabu di lapas, tambahnya, juga disebabkan oleh dugaan adanya relasi pertemanan antara napi dan petugas.

“Para napi dihukum antara empat hingga 20 tahun penjara, tentu ini akan menimbulkan rasa pertemanan antara napi dan petugas, sebab mereka bertemu setiap hari di sana,” ungkap Syahrul. Seharusnya setiap petugas lapas dirotasi dalam periode tertentu, agar peluang negatif itu bisa dicegah.

Syahrul mengumpamakan, pertemanan itu bisa saja diawali adanya oknum petugas yang bermasalah dengan keuangan atau keluarganya sendiri. Hal itu kemudian terdengar oleh para bandar di dalam lapas.

“Bandar itu kemudian memberikan tawaran, lalu timbullah kerja sama. Sehingga ketika mereka memasukkan narkoba atau melakukan kejahatan narkotika dalam lapas, mungkin bisa saja ada terjadi hal semacam itu. Kemungkinan seperti itu,” ungkap Syahrul.

…selanjutnya

Total
7
Shares

Tinggalkan Balasan

Previous Article

Meski Pandemi, Ini Alasan Warga Tetap Antusias Datang ke Masjid Raya

Next Article

Pembelajaran Tatap Muka di Banda Aceh Tetap Berlangsung Selama Ramadan

Related Posts