Menang di Masa Sulit

Menang di Masa Sulit
Gambar: Ilustrasi (freepik)

 “SAYA percaya bahwa motivasi maju adalah kunci keberhasilan individu dan tim. Penyebab utama tim tidak mencapai hasil yang optimal adalah kurangnya motivasi dan terobosan yang kuat. Bagaimana mungkin kita bisa menemukan gairah dalam berkreativitas bila motivasinya tidak ada. Jika kita berada dalam motivasi yang kuat, itu artinya kita memiliki ‘bahan bakar’ yang baik dalam berproses, kemudian terbang dengan ‘kepak sayap yang kita desain’, dalam arti lain.”

Kalimat panjang dan tegas itu mengalir ibarat air berjalan tanpa hambatan dari sosok anak muda 30-an tahun itu. Ia duduk berkisah di hadapan saya. Bercerita panjang tentang pengalaman dan tantangan-tantangan yang ia hadapi. Untuk sosok yang masih sangat muda ketika memulai karier bisnisnya, ini bukanlah kisah sederhana. Tidak sesederhana tulisan ini. Namun sarat dengan penguatan-penguatan. Saya merasakan itu saat mendengarkan kisahnya.

“Bekerja dalam tim dan memilih tim yang tepat juga merupakan faktor kunci. Menciptakan visi dan arah yang menarik sangat penting untuk semangat tim. Lalu membangun relasi yang benar dengan rekan kerja menjadi sangat penting. Memiliki lingkungan kerja yang tepat memfasilitasi gairah bekerja yang tinggi. Insya Allah berhasil dan sukses,” demikian ia menyambung kisah.

Kuncinya adalah mendapatkan formula yang tepat di sebanyak mungkin area yang kita jejaki. Menjaga orang -orang yang membantu kita bekerja, seperti tim kita yang memiliki motivasi tinggi adalah kunci untuk membawa apapun yang kita lakukan ke tingkat kesuksesan berikutnya.

Belajar dari apa yang disampaikan anak muda itu, saya merasa seperti menemukan harapan dari berbagai hal. Bukan saja karena kisahnya yang sangat inspiratif, namun juga caranya menyelesaikan masalah ketika bertemu tantangan. Tenang, tidak grasak-grusuk, mencari referensi yang tepat, bertanya dan berdiskusi dengan senior, dan tidak lupa memimta nasehat.

Diakhir percakapan, ia mengatakan sesuatu kepada saya.

“Saya minta nasehat dari Abang, apa yang harus saya perbaiki dalam pandangan Abang?”

Kalimat itu keluar dari bibirnya.Saya kaget! Nasehat dari saya? Saya tertawa lepas. Bagaimana mungkin anak muda ini minta nasehat saya? Siapa saya? Apa yang kurang dari dia? Tidak ada rasanya. Ia lama belajar di Estonia, Eropa. Belajar tentang perusahaan, dunia start-up, komunikasi dan media. Bagi saya itu lebih dari cukup. Apalah arti nasehat saya dibandingkan semua itu. Tapi ia meminta sekali lagi dengan senyum tapi serius.

Saya terdiam sejenak. Lalu saya katakan, kalau saya tidak memiliki nasehat khusus untuknya. Kalaupun saya mengatakan sesuatu, tidak lebih itu karena saya menggunakan hak saya sebagai orang yang lebih tua saja. Sebagai orang yang lebih tua saya hanya mengingatkan, agar ia tetap semangat seperti sekarang, tetap menjadi orang yang kooperatif, tetap jujur dan sudah selesai dengan diri sendiri, juga bisa bertemu dengan dirinya sendiri. Sosok yang rendah hati dan semangat belajar pada anak muda ini membuat saya berfikir, bahwa masih banyak harapan di negeri ini, bila pemuda seperti ini makin banyak dari sisi jumlah dan kapasitasnya.

Perkara bertemu dengan diri sendiri menjadi bahan percakapan kami selanjutnya. Semua bahan diskusi tercurahkan. Apapun pertanyaan yang muncul tentang kegalauan, karier, relasi, bisnis, semua tergantung value (nilai-nilai kehidupan) yang kita bangun.

Kenapa? Karena setiap orang yang hendak menjalankan sesuatu dengan serius, mestinya mengenal dirinya sendiri dengan serius pula. Ini hal yang sangat penting. Zaman sekarang semua orang gampang mengakses informasi melalui teknologi yang ada. Banyak buku, podcast, video di YouTube, seminar, webinar dan banyak hal yang memungkinkan setiap orang untuk belajar. Namun jika tidak mengenal dirinya, tentu sulit untuk memastikan apa maunya diri. Jika sudah begitu biasanya gampang sekali ikut arus, ikut trend, dan condong rapuh dalam melakukan sesuatu atas nama bisnis.

Bisnis tidak hanya menyangkut passion, tapi juga bagaimana melawan confussion! Atau kebingungan yang sering muncul tanpa kita minta. Bagi setiap pelakunya yang mengenal kemauan dan dirinya sendiri bisa menjadi modal besar untuk maju dan bertahan dimasa sulit.

Memetik percakapan saya dengan sosok anak muda diawal cerita ini mengingatkan saya pada modal besar bagi setiap orang dalam menghadapi masa krisis. Selain talenta, passion, dan mengenal diri sendiri, kreativitas adalah satu hal yang tetap harus dijaga dan dipelihara.

Orang cenderung menganggap kreativitas sebagai aksi solo yang misterius, padahal tidak. Kreativitas akan bisa membuat kita bertemu dan melibatkan banyak orang dari berbagai disiplin ilmu yang bekerja sama secara efektif untuk memecahkan banyak masalah besar.

Kreativitas harus hadir di setiap tingkat di setiap bagian. Bukan hanya di level pekerja, namun juga di level pemimpin. Para pemimpin memilah-milah banyak ide untuk menemukan ide yang sesuai dengan keseluruhan yang koheren — yang mendukung — semua yang dianggap sulit bahkan sangat sulit, untuk kemudian dipecahkan, diurai menjadi sebuah jalan keluar dengan pisau kreativitas.

Kreativitas akan membentuk kita mencari jalan keluar dan juga berpikir orisinal. Untuk menuju ke level ini, kita juga harus melawan arus, kecenderungan berhadapan dengan risiko yang tentu saja lebih mudah diucapkan dari pada dilakukan. Jika Anda ingin menjadi orisinal, orang-orang kreatif harus mau menerima ketidakpastian, bahkan ketika tidak nyaman, risiko besar dan gagal.

Orang-orang yang memiliki kreativitas biasanya juga datang dari orang-orang berbakat. Yang tidak mudah, tentu saja, adalah membuat orang-orang berbakat bekerja sama secara efektif dengan satu sama lain. Itu membutuhkan kepercayaan dan rasa hormat, diperoleh dari waktu ke waktu.

Apa yang dapat kita lakukan adalah membangun lingkungan yang memelihara hubungan saling percaya dan saling menghormati serta melepaskan kreativitas setiap orang. Jika kita melakukannya dengan benar, hasilnya adalah komunitas yang bersemangat di mana orang-orang berbakat setia satu sama lain dalam pekerjaan kolektif mereka, semua orang merasa bahwa mereka adalah bagian dari sesuatu yang luar biasa, dan semangat serta pencapaian mereka menjadikan komunitas itu magnet bagi orang-orang berbakat. Dalam proses ini tentu saja ada hal istimewa yang dibutuhkan setiap orang yang belajar memimpin diri sendiri, yaitu mengelola dan mengembangkan kreativitas yang ia miliki.

Satu tahun lebih “dirundung”pandemik covid-19, dunia seakan sesak dengan banyak persoalan baru. Banyak hal menjadi anomali. Namun jika ingin terus bertahan dalam masa sulit, tetaplah menjaga kreativitas. Mengeluarkan sesuatu yang baru dimasa sulit? Kenapa tidak! Menyitir ucapan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, Sandiaga Uno, ketika saya dengar dalam sebuah kunjungan kerjanya di Aceh: “Bisnis yang hebat adalah bisnis yang lahir dimasa sulit.” Ayo jaga kreativitas Anda. Kita lawan masa sulit ini.[]

Penulis: Hendra Syah, Akademisi dan Pelatih Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM)

Total
0
Shares
1 comment
  1. Terimakasih Readers.ID. Kolom yang keren dan sangat bermanfaat dibaca. Salam kenal buat penulis. Saya senang membaca tulisan bapak

Tinggalkan Balasan

Previous Article

Menpora Janji Bantu Bangun Kantor-Kompleks TC PSSI

Next Article

Anggota DPR Soroti Menteri Ikut Keliling Daerah Kampanye Caketum Kadin

Related Posts
kolom readers ilustrasi no limit
Read More

Kolom : No Limit

DI ANTARA transisi hidup manusia, akan mendapati episode menjadi sosok dewasa dan orang tua. Meski barangkali itu tidak…