Menanti Kerja Polisi Mengungkap Tabir Kematian Gajah di Aceh Jaya

Gajah sedang di mandikan di Pusat Pelatihan Gajah Saree, Aceh Besar. Foto: Hotli Simanjuntak

Januari 2021, genap sudah satu tahun kasus kematian lima ekor gajah sumatra (Elephas maximus sumatrensis)  di Desa Tuwi Peuriya, Kecamatan Teunom, Kabupaten Aceh Jaya. Namun, sampai kini tabir kematian satwa lindung itu belum mampu disingkap. Kinerja kepolisian sedang diuji.

Saat itu, kabar kematian lima ekor gajah mengejutkan dunia konservasi di Aceh dan nasional. Gajah termasuk satwa lindung yang sangat terancam punah. Aceh menjadi harapan dunia dalam melindungi satwa kunci itu, namun kematian demi kematian terus terjadi.

Lima bangkai gajah itu ditemukan di area perkebunan sawit warga. Bangkai tidak utuh, hanya menyisakan tulang belulang. Setelah diidentifikasi oleh tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, kelima gajah itu, dua ekor jantan, dua betina, dan satu tidak diketahui, sebab tulang banyak yang raib.

Dari sisa-sisa tulang itu, diperkirakan gajah yang mati usia dewasa. Namun, tidak ditemukan dua pasang gading di sana. Ini menjadi alibi bahwa ada keterlibatan jaringan perdagangan organ satwa lindung dalam kematian lima  gajah itu.

Foto: readers.ID

Anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) Yahdi Hasan kepada Readers.id, Selasa (2/2/2021), mengatakan dia curiga gajah-gajah itu sengaja dibunuh untuk diperdagangkan. Yahdi mendesak kepolisian segera mengungkap modus dan menangkap dalang kematian “Po Meurah” itu.

“Sangat kita sesalkan, gajah itu mati secara tidak wajar. Kasus ini harus diungkap,” kata Yahdi politisi Partai Aceh itu.

Saat itu, Polisi Resor Aceh Jaya bergerak cepat. Sehari setelah penemuan bangkai gajah, mereka menggelar perkara. Barang bukti disita dan memeriksa para saksi. Namun, sampai kini belum tuntas.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Aceh Jaya Ajun Komisaris Polisi Miftahuda Dizha Fezuono mengatakan kasus ini adalah tunggukan di 2020 yang harus dia tuntaskan. Dizha bertugas di Polres Aceh Jaya pada Oktober 2020 menggantikan Iptu Bima Nugraha Putra.

“Kasus tunggakan 2020 menjadi fokus kerja kami. Semua berkas penyelidikan kami telaah kembali, saya komitmen kasus ini selesai,” ujar Dizha.

Dizha mengatakan dari keterangan para saksi mengarah kepada dua orang yakni SD dan AM. Kedua orang ini dianggap sebagai saksi kunci, namun telah ditetapkan dalam daftar pencarian orang, lantaran mangkir saat dipanggil ke kantor polisi.

Keterangan dua orang ini akan membuka tabir modus dan siapa dalang di balik kematian gajah-gajah tersebut. Bukan hanya itu, keterangan dari mereka berpotensi membuka jaringan perdagangan satwa lindung. “Gadingnya hilang, ini artinya ada potensi praktik perdagangan satwa dalam kasus ini,” ujar Dizha.

Dizha meminta kepada SD dan AM untuk menyerah diri ke polisi. Sebab polisi tidak akan berhenti memburu mereka sampai tertangkap. “Kami masih melakukan pendekatan persuasif, namun bisa saja dengan tindakan tegas dan terukur,” kata Dizha.

Dalam banyak kasus, tindakan tegas dan terukur adalah melepaskan tembakan pada bagian kaki target supaya tidak melarikan diri atau menyerang petugas.

Foto: readers.ID

Sebelumnya Direktur Fauna Flora Aceh Dewa Gumay mengatakan polisi belum bekerja maksimal untuk mengungkap dalang kematian lima ekor gajah di Aceh Jaya. Dewa menilai setahun waktu yang sangat panjang untuk memburu saksi atau target operasi.  Dewa mempertanyakan keseriusan polisi untuk menyelesaikan kasus tersebut.

Dewa menambahkan, pengungkapan kasus itu akan menjadi pintu masuk bagi polisi untuk mengungkap jaringan perdagangan organ satwa lindung.

“Selama perdagangan satwa lindung masih ada, perburuan akan sulit dilawan, sebab ada permintaan pasar yang besar,” kata Dewa.

Dewa mengatakan kejahatan terhadap satwa lindung adalah extra ordinary crime atau kejahatan luar biasa, sebab populasi gajah sangat sedikit.  Akan tetapi perlindungan dan penegakan hukum tidak menunjukkan kondisi darurat. Perburuan dan konflik gajah dengan manusia belum terbendung. Akibatnya, satu demi satu gajah di Aceh mati.

Bahkan bukan hanya gajah liar, gajah jinak sekalipun yang dirawat di pusat mitigasi konflik satwa juga mati. Contohnya, gajah jinak bernama Ollo di CRU Sampoiniet Aceh Jaya dan gajah jinak bernama Otto, di CRU Cot Girek mati.

Padahal gajah jinak selalu dalam perawatan BKSDA Aceh. Lebih sadis lagi, gajah jinak bernama Bunta, di CRU Serbajadi, Aceh Timur mati karena diracun.

Adapun sejak 2016 hingga 2020 jumlah gajah mati 42 ekor. Penyebab kematian 57 persen karena konflik, 33 persen mati alami, dan 10 persen karena perburuan.

Diperkirakan populasi gajah di Aceh tersisa 539 ekor yang terebar di 15 kabupaten dan kota. Kawasan seperti Pidie, Aceh Timur, Bener Meriah, dan Aceh Jaya paling dominan penyebarannya.

Dalam diskusi akhir tahun dengan Forum Jurnalis Lingkungan (FJL) Aceh, Kepala BKSDA Aceh Agus Arianto mengatakan kasus kematian 5 ekor gajah di Aceh Jaya sepenuhnya kewenangan polisi. Namun, BKSDA Aceh selalu membantu saat polisi membutuhkan informasi dan keterangan ahli.

Di luar kasus itu, Agus mengajak semua elemen di Aceh untuk sama-sama terlibat melindungi gajah, satwa kharismatik di Aceh. Jika tidak dilindungi dengan serius, suatu saat gajah hanya tinggal nama. Lebih buruk lagi generasi mendatang akan mengenang gajah sebagai dongeng pengantar tidur.

Total
15
Shares
1 comment

Tinggalkan Balasan

Previous Article

Kesbangpol Aceh Tidak Ikut Terlibat (4)

Next Article
Bola Liar Dana Hibah 100 OKP

Bola Liar Dana Hibah 100 OKP

Related Posts