Mengatasi Krisis Pangan dengan Urban Farming Ala kamiKITA

Mengatasi Krisis Pangan kamiKITA
Deretan pipa penampung sayuran hidroponik, yang dikelola komunitas kamiKITA. readers.ID | Rianza

Hampir genap satu tahun pandemi Covid-19 hadir dalam kehidupan manusia. Hingga saat ini, belum jelas kapan virus mematikan itu berakhir. Tidak hanya menyerang sistem kesehatan semata, dampak virus asal Wuhan, China itu bahkan mendera sektor ekonomi. Pengaruhnya ditandai dengan terjadinya kelesuan pada sistem produksi, meroketnya harga berbagai kebutuhan dan minimnya ketersediaan bahan pangan.

Kondisi keterbatasan gerak disertai krisis pangan memunculkan ide kreatif. Sebagian masyarakat berusaha memanfaatkan lahan kosong untuk bertani di celah padatnya perkotaan. Konsep ini dikenal dengan urban farming, atau bertani ala kota. Metode ini kerap dimanfaatkan oleh siapa saja yang ingin berkebun di lahan terbatas.

Berada di salah satu sudut ibu kota Banda Aceh, dikelilingi bangunan dan agak mengasing dari keriuhan suasana, sekelompok warga mendirikan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) kamiKITA. Lembaga ini bergerak membangun tempat sebagai media untuk melakukan kegiatan ramah lingkungan dan mendatangkan finansial, dengan cara bercocok tanam.

“Awalnya sebenarnya tidak sengaja untuk mendirikan ini. Tapi, untuk berusaha bertahan di tengah kondisi pandemi Covid-19, kami dan kawan-kawan di Yayasan Sumber Utama berpikir bagaimana cara untuk membuat tempat dengan basis ramah lingkungan dan bisa dimanfaatkan untuk mengatasi krisis pangan di tengah pandemik,” kata Henny Cahyanti, koordinator kamiKITA , Sabtu (6/2/2021).

Urban Farming Tanpa Penggunaan Pestisida

Di hamparan tanah hitam seluas setengah hektare di Gampong Mulia, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh tampak deretan pot-pot dari barang bekas dan pipa-pipa paralon yang ditumbuhi berbagai sayuran. Mulai dari kangkung, tomat hingga terong ada di sana.

Sayup-sayup terdengar cipratan air yang menyirami sayuran dengan merata. Sesekali para petani merawat dan memeriksa kondisi tanaman. Suasana seperti itu dapat kita temui di kediaman lembaga kamiKITA.

Para petani memeriksa kondisi tanaman di lahan kamiKITA. readers.ID | Rianza

Dalam mengelola tanaman sayuran berbasis urban farming, lembaga kamiKITA yang digagas oleh Henny dan kawan-kawan lebih menerapkan metode pertanian tanah organik, hidroponik organik dan aquaponik organik. Penanaman itu tanpa menggunakan pestisida atau zat kimia lainnya.

“Di sini kita semua organik, ngak ada pestisida. Pupuknya kita buat sendiri di sini,” ujar Henny.

Barter Sayur dengan Barang Bekas

Komunitas kamiKITA tak hanya menggiatkan urban farming dengan metode pertanian organik saja. Namun juga terdapat hal menarik lainnya, khususnya dalam upaya mengurangi jumlah sampah tak terpakai. Salah satunya ialah memberlakukan sistem barter antara barang bekas dengan sayuran.

Pada lembaga yang dijalankan oleh pemuda dari beragam etnik tersebut, berbagai barang bekas dapat ditukarkan dengan sayuran. Setiap barang yang ingin ditukar, akan diganti dengan voucer belanja sayuran. Ada voucer seharga 5.000 rupiah dan berbagai harga lainnya.

“Kita di sini juga menerima barang bekas seperti galon air, ban dan lain sebagainya. Bawa barang bekas, kita kasih voucer. Kita akan mengolah kembali nanti barang-barang bekas itu lagi,” kata Henny.

Membuat Pupuk dari Sampah Masyarakat

Tidak hanya soal berkebun saja. Terdapat hal unik lainnya pada pengelolaan urban farming di kamiKITA, yaitu pemanfaatan sampah organik rumahan dari masyarakat untuk diolah menjadi pupuk.

Pemanfaatan sampah organik tersebut, kata Henny, dinamakan program Peugleh Gampong (Membersihkan Desa). Di mana sampah-sampah tanaman yang tidak digunakan oleh warga bakal dimanfaatkan menjadi pupuk kompos.

“Jadi kita juga menerima sampah-sampah organik dari masyarakat sekitar ini. Misalnya ada warga yang sedang membersihkan pohon manga, itu daunnya yang udah dipotong kita minta, kita ganti sama voucer belanja sayur di sini. Nanti sampah itu akan kita olah menjadi kompos,” jelas perempuan itu.

Pengelolaan sampah organik di komunitas kamiKITA. readers.ID | Rianza

Tidak sembarangan sampah dapat diolah menjadi pupuk. “Karena kompos yang kita buat yang pertama tidak boleh ada bawang, tidak boleh ada cabai, dan tidak boleh semua sitrun,” ungkap Henny.

Kemudian, selain menghemat pengeluaran, metode daur ulang sampah untuk dijadikan pupuk organik juga merupakan upaya mengurangi tumpukan gunung sampah.

“Sayangkan kalau sampahnya ngak dimanfaatkan, jadi kami sudah memberitahu semua masyarakat di sini untuk memberi tahu kalau ada sampah yang mau diberikan kepada kami, kami tinggal kirim orang untuk mengambilnya,” tuturnya.

Selain bisa belajar lebih mengenai metode pertanian urban farming, di kamiKITA para pengunjung juga bisa membeli dan memetik sayur dari pohon sendiri.

Ragam sayuran yang ditanam di lahan kamiKITA. readers.ID | Rianza

“Bisa petik sendiri juga, aman,” kata Dedy Harfianda, pengurus lain di kamiKITA.

Harga sayur organik yang terdapat di kamiKITA sangat murah, mulai dari 1.500 rupiah hingga 7.000 rupiah per ons nya. []

Total
8
Shares

Tinggalkan Balasan

Previous Article

Anggota DPRA, dr Purnama: Sosialisasi Vaksin Harus Sampai ke Masyarakat Bawah

Next Article
Instruksi Nakes wajib vaksin

Instruksi Gubernur, Tenaga Kesehatan Wajib Divaksin

Related Posts