Mengembalikan Makna Kuliner Apam di Tengah Masyarakat

Proses pembuatan kue apam. (Adam/readers.ID)

Apam, kata- kata itu sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Aceh, khususnya masyarakat kabupaten Pidie. Bahkan ada yang memaknai kata-kata tersebut dengan konotasi sedikit binal, dan keliru, jauh dari arti yang sebenarnya.

Dalam tradisi masyarakat Pidie, saban tahun digelar acara atau festival ‘Tot Apam’ (bakar apam). Apam sendiri merupakan camilan atau kue yang terbuat dari tepung beras, dan disuguhkan dengan kuah santan berisikan nangka yang gurih dan manis.

Tradisi tot apam masih menjadi budaya yang perlu dilestarikan sepanjang masa, serta menjadi warisan budaya bagi  anak cucu dan generasi penerus Aceh.

Dalam sejarahnya, apam tidak dimasak dengan kompor gas atau kayu bakar, tetapi dimasak dengan Oen Ue Tho (daun kelapa kering). Malah orang-orang percaya bahwa apam tidak boleh dimasak selain dengan daun tersebut. Apam yang enak dimakan yaitu bila permukaannya berlubang-lubang, sedang bagian belakangnya tidak hitam dan rata (tidak bopeng).

Ada beberapa variasi bila ingin menyantap apam. Kue tradisional Pidie yang sudah melegenda akan sedap rasanya bila dimakan dengan kuah tuhe. Kuah tuhe sendiri adalah fermentasi atau campuran santan dengan pisang raja, atau pula menggunakan nangka yang sudah matang serta gula pasir.

Bagi yang tidak suka dengan kuah tuhe, apam juga bisa disantap dengan kelapa yang sudah dikukur, lalu dicampur dengan gula pasir.

Bahkan, cara menyantap apam terlebih dulu direndam beberapa saat ke dalam kuahnya sebelum dimakan. Cara demikian disebut dengan Apam Leu’eop, menurut orang Pidie. Setelah semua kuahnya habis diisap, barulah apam itu dimakan.

Menariknya, setiap festival apam selalu dipenuhi oleh tamu undangan. Bahkan siapa pun yang melintas di depan rumah orang Pidie saat musim tersebut akan diberhentikan untuk menyantap apam.

Festival apam tak hanya sepintas kenduri atau sekadar makan-makan saja. Namun, lebih kepada merajut silaturahmi dan saling berbagi antar sesama.

Tradisi toet Apam diadakan dari rumah ke rumah atau dari kampung ke kampung lainnya selama ‘buleun apam’  atau bulan Rajab menurut orang Aceh. Hal itu berlaku sampai sebulan penuh. Bahkan bila mencukupi, kenduri apam juga diantar ke meunasah serta sanak keluarga.

Total
5
Shares

Tinggalkan Balasan

Previous Article

Dinas Pendidikan Aceh Dorong Sekolah Kejuruan Jadi BLUD

Next Article
Penggunaan Tali Masker Ternyata Berbahaya

Penggunaan Tali Masker Ternyata Berbahaya

Related Posts