Mengenal Lebih Dekat Anak Difabel

Ilustrasi pekerja disabilitas. Shutterstock.com

Menurut John C. Maxwell difabel adalah individu yang memiliki kelainan fisik dan mental yang dapat mengganggu atau merupakan suatu rintangan dan hambatan baginya untuk melakukan aktivitas secara layak atau normal.

Sedangkan World Health Organization (WHO) menjelaskan, difabel adalah suatu kehilangan atau ketidaknormalan baik psikologis, fisiologis maupun kelainan struktur atau fungsi anatomis.

Kepercayaan publik untuk penyandang difabel dapat dikatakan sangat kecil. Hal ini dikarenakan mereka memiliki keterbatasan mental dan intelektual sehingga sulit untuk dapat mengerjakan tugas-tugas yang akan mereka dapatkan.

Faktanya bahwa Undang-undang dasar 1945 telah menjelaskan bahwa “Setiap warga negara mempunyai kesempatan yang sama memperoleh pendidikan”. Dari sini menunjukkan bahwa difabel berhak pula memperoleh kesempatan yang sama dengan anak lainnya baik di dalam pendidikan maupun karir.

World Health Organization menekankan bahwa keterbatasan fisik saat ini dipandang sebagai masalah hak asasi manusia. Populasi dunia yang menua dan kondisi kesehatan yang kronis akan menambah jumlah penyandang difabel.

WHO mengatakan bahwa 80 persen penyandang difabel tinggal di negara berkembang termasuk Indonesia, tetapi kebutuhan perawatan medis 50 persen dari mereka tak terpenuhi.

Dikutip dari Anadolu Agency, ada lebih dari 100 juta anak-anak yang menyandang difabel dan mereka empat kali lebih mungkin menjadi korban kekerasan. Di seluruh dunia, para penyandang difabel memiliki kesehatan yang lebih buruk, prestasi pendidikan yang lebih rendah, partisipasi ekonomi yang lebih sedikit dan tingkat kemiskinan yang lebih tinggi dari pada orang-orang tanpa keterbatasan fisik.

Menurut data yang dihimpun oleh Kemensos melalui Sistem Informasi Manajemen Penyandang Difabel di Indonesia, hingga tanggal 13 Januari 2021, jumlah penyandang difabel yang terdata sejumlah 209.604 individu.

Dikutip dari Liputan6.com, stigma masyarakat terhadap difabel sangat beragam, masyarakat menganggap difabel adalah penyakit atau aib yang akan berdampak pada keluarga. Menjadi orang tua dari anak difabel (different ability) bukanlah perkara yang mudah, banyak tantangan dan ujian yang mesti dihadapi. Orang tua biasanya akan melewati beberapa tahap sebelum akhirnya menerima kondisi si kecil.

Seorang psikiater bernama Elisabeth Kübler-Ross dalam bukunya yang berjudul “On Death and Dying” menjelaskan bahwa ada beberapa tahapan penerimaan orang tua terhadap anak difabel yang dikenal dengan singkatan DABDA (Denial, Anger, Bargaining, Depression, Acceptance).

Pertama adalah Denial (penolakan) tahapan ini hadir karena rasa tidak percaya bahwa dokter memberikan vonis bahwa si kecil adalah anak difabel. Menghadapi hal tersebut, orang tua merasa malu dan bingung terhadap kondisi anak. Bahkan, tidak menerima sepenuh hati. Jika ada stigma negatif dari lingkungan sosial maka penolakan ini bertambah buruk.

Kedua Angry (kemarahan) tahapan kedua bisa terjadi saat orang tua menyadari penuh bahwa kondisi anak adalah konstan. Sehingga orang tua sangat marah dan melampiaskan kesalahan pada diri sendiri, kepada dokter yang memberikan vonis, pasangan, bahkan menolak untuk mengasuh anak tersebut.

ketiga Bargaining (tawar-menawar) ini adalah tahapan saat orang tua berusaha untuk menawar kondisi yang terjadi pada anak. Hal ini dilakukan sebagai rasa syukur atas segala sesuatu yang dikaruniakan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Keempat Depression (depresi) pada tahapan ini, orang tua merasa tertekan berputus asa bahkan kehilangan harapan. Oleh karena itu, terkadang orang tua dengan anak difabel akan menarik diri dari lingkungan.

Kelima Acceptance (penerimaan) ini adalah tahapan akhir yaitu penerimaan utuh kondisi si kecil. Pada tahap ini, orang tua mulai menerima sepenuh hati bahwa dirinya memiliki anak difabel.

Ada stereotip keliru tentang anak difabel, masih banyak orang yang beranggapan bahwa anak difabel adalah manifestasi dari karma. Keberadaannya dinilai sebagai akibat dari perbuatan dosa yang pernah dilakukan orang tuanya .

Ada juga yang beranggapan bahwa anak difabel sebagai keturunan, jadi jika di keluarganya terdapat difabel nantinya akan mempunyai keturunan difabel pula. Gen salah satu faktor yang bisa mempengaruhi, tetapi kebanyakan difabel terjadi karena beberapa faktor lainnya, misalnya kesehatan ibu selama masa kehamilan, persalinan yang bermasalah dan faktor kecelakaan.

Sebagai contoh jika seorang ibu yang mengalami malnutrisi selama proses kehamilan akan sangat rentan melahirkan bayi dengan berbagai gangguan sebab kekurangan gizi seimbang. Proses kelahiran yang mengalami berbagai hambatan misalnya lahir sebelum waktunya dapat menyebabkan gangguan pada anak seperti gangguan pada indera pendengaran, akibat belum sempurna saat dilahirkan, low vision dan lain sebagainnya.

Stereotip lain yang tidak rasional bahwa masyarakat di pedesaan masih mempercayai mitos, yang menganggap bahwa anak difabel terlahir cacat karena persembahan untuk pesugihan. 

Dikutip dari Kobi Education, bahwa penyandang difabel yang divonis meninggal berakhir menjadi ilmuwan dunia, ia adalah Stephen Hawking, sempat divonis hanya bisa hidup sampai umur 23 tahun.

Di usia ke-21 Hawking didiagnosa mengidap ALS (Amyotropic Lateral Sclerosis) dan hanya bisa bertahan hidup selama dua tahun. Ia menghabiskan sebagian besar hidupnya di atas kursi roda karena lumpuh akibat penyakit.

Dengan segala keterbatasannya Hawking tetap memberikan banyak manfaat. Selain seorang penulis buku “A Brief History of Time” Hawking juga penemu berbagai teori tentang alam semesta (A Big Bang Theory).

Keterbatasan fisik bukanlah penghalang, Hawking berhasil menguji teori gravitasi Newton di tahun 2007 saat berusia 65 tahun, ia terbang menggunakan penerbangan tanpa beban di Amerika Serikat dengan kursi rodanya.

Berdasarkan hasil penelitian, keterbatasan difabel justru jadi kelebihan yang tidak dimiliki orang normal. Ada banyak potensi yang dimiliki anak difabel yang ada di Indonesia seperti Habibie Afsyah yang mengalami gangguan motorik, seorang pemasar handal yang memanfaatkan internet. Dari keberhasilan pemasarannya ia berhasil belajar sampai ke Singapura.

Selanjutnya M. Ade Irawan, ia adalah seorang tunanetra dengan keterbatasan fisiknya ia mampu mengembangkan bakatnya dengan bermain musik jazz. Pada usia 12 tahun ia telah tampil di acara beken bertajuk Chicago Winter Jazz Festival.

Kemudian Angkie Yudistia, ia seorang difabel dengan menyandang status tuna rungu. Masa kecil Angkie penuh dengan cobaan karena ia sering menerima makian dan cacian. Namun keadaan tak menyurutkan semangatnya.

Ia membuktikan dirinya lewat berbagai prestasi. Seperti menjadi pembicara dan delegasi Indonesia di forum internasional terkait hak-hak kaum difabel. Angkie bahkan mendirikan dan memimpin perusahaan “Thisable Enterprise”. Perusahaan ini juga berfokus pada misi sosial, yaitu membantu orang-orang yang memiliki keterbatasan fisik.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa anak difabel adalah anugerah dari Tuhan. Jika merawat anak yang tidak difabel membutuhkan pengasuhan ekstra dari orang tua apalagi bagi orang tua yang memiliki anak difabel.

Dari hasil penelitian mengungkapkan bahwa dengan kehadiran si kecil membuat beberapa orang tua khawatir karena memikirkan masa depannya. Hal penting yang perlu diperhatikan dalam mengurus anak difabel yaitu perlunya ilmu pengetahuan, pola asuh yang continue antara orang tua dan anak, motivasi serta semangat dari  keluarga serta lingkungan sosial. 

Dari data yang telah dipaparkan di atas, bahwa masih banyak anak difabel yang terisolasi dan terabaikan hak pendidikan, kesehatan dan karirnya. Sehingga penulis memberikan rekomendasi kepada Pemerintah agar lebih meningkatkan perhatian dan dukungan yang lebih baik kepada penyandang difabel.

Sebagaimana yang tertulis dalam Undang-undang nomor 8 tahun 2016 tentang penyandang disabilitas, tujuannya yaitu untuk mewujudkan kesejahteraan seluruh warga negara, termasuk anak penyandang disabilitas yang mempunyai hak hidup dengan nyaman dan terpenuhi kebutuhannya.

Dengan adanya kebijakan tersebut dapat memudahkan para penyandang difabel dalam beraktivitas sehari-hari dan mampu  mengembangkan bakat serta potensi yang mereka miliki. Sehingga mereka bisa berprestasi baik di kancah nasional maupun internasional. 

Penulis: Zaki Fardhiya & Sri Ajrania (Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Keluarga dan Perkembangan Anak IPB University)

Total
2
Shares

Tinggalkan Balasan

Previous Article

Komnas HAM: Perlindungan Hukum Penyandang Disabilitas Belum Optimal

Next Article

DPRA Minta Dinas ESDM Tindak Perusahaan Batu Bara yang Cemari Laut

Related Posts
Read More

Lidah, Ludah dan Telunjuk Komisaris

Lidah merupakan indera pengecap yang terdiri dari sejumlah bagian dan memiliki berbagai macam fungsi. Selain berfungsi sebagai pengecap, lidah juga memiliki beberapa fungsi utama,…