Kolom | Menghadapi Ghosting Pimpinan

Menghadapi ‘Ghosting’ Pimpinan

Kami berangkat dari tempat masing-masing menuju titik temu yang kami sepakati. Di sebuah kota kecil yang jauh dari pusat kota. Suasana sangat hangat dan penuh kerinduan ketika saya dan tiga sahabat akhirnya reuni-an kecil kemarin sore. Hampir dua tahun lamanya kami tidak bertemu. Jikapun silaturahmi hanya melalui sosial media dan saling menelpon.

Lama tidak bertemu membuat kami saling berkisah dan saling mendengar, betapa perjuangan untuk tetap bertahan dalam aktivitas masing-masing selama dua tahun dilanda pandemi belakangan ini, yang tak mudah. Kisah seru dan sedih plus bahagia mengalir dari obrolan kami. Bercerita tentang keluarga masing-masing, tentang istri dan anak-anak serta perjuangan kami sebagai orang tua mengawal anak-anak di rumah saat suasana serba daring, dan perlu adaptasi luar biasa.

“Wah, ternyata begini rasanya berjuang,” kata salah satu sahabat yang selalu ceria membuka pembicaraan.

Yang paling seru adalah ketika setiap kami mulai berkisah tentang pekerjaan. Suasana campur aduk-pun dimulai. Sahabat pertama memulai cerita. Ia berkisah tentang bosnya di kantor yang oke banget. Sangat memperhatikan semua anak buah meski kondisi sedang sulit karena Covid-19. “The best boss I ever had.” Bos terbaik yang pernah dimiliki, katanya.

Kalimat seperti itu sering kita dengar jika seorang karyawan memberikan apresiasi kepada pimpinannya. Betapa bermaknanya pimpinan tersebut di hatinya. Kira-kira begitu juga apresiasi mendalam salah seorang sahabat saya kepada pimpinanya, ketika dia bercerita panjang lebar pada kami. Betapa ia terpukau dengan pimpinannya tempat ia bekerja.
“Bos yang baik, bos yang bijak, tidak mementingkan disi sendiri, pintar dan punya kemampuan mendengar yang hebat, meski juga bisa bicara dengan bijak,” lanjutnya lagi.

Mendengar ulasannya, di hari Sabtu sore yang mendung, membuat saya dan seorang teman lagi jadi semangat. Bagaimana tidak, dalam kondisi dunia yang sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja, ternyata masih ada pimpinan yang benar-benar menjalankan fungsinnya dengan baik.

“Nge-lead-nya ok banget,” sambungnya lagi.

Ia juga tak lupa berkisah, bosnya itu punya perjalanan karir yang baik, reputasi yang baik, dan jejaring yang sangat positif dalam setiap pekerjaan. Mengambil keputusan tidak lamban dan selalu menggunakan masukan setiap orang sebagai bahan pertimbangan.
Saya nyaris tak mengedipkan mata mendengar sahabat baik ini bercerita. Termasuk senang dan bersyukur tentang keberhasilannya dalam bekerja dan relasinya yang sangat matang dan dewasa.

“Nilai berapa yang pantas buat bosmu?” kata saya mencoba bercanda.

“Seratus-lah,” katanya sambil tersenyum lebar.

Kami tertawa lebar, bahagia mendengar apa yang dikisahkannya. Begitulah kehidupan positif, selalu berdampak positif.

Pertemuan reunian kami menjadi sangat hangat. Mendengar teman pertama berkisah sesuatu yang manis dan berjalan sesuai bagaimana mestinya. Amboy, betapa bahagianya ia bekerja dengan semua aturan yang berjalan sesuai dan tidak membuat pusing para karyawan atau pekerja yang ikut dengannya.

Ini mengingatkan saya pada sebuah referensi dari kursus singkat online yang diadakan Harvard Business yang pernah saya ikuti beberapa bulan lalu. Dalam kesempatan itu dikisahkan sebuah survei terhadap 80.000 manajer yang dilakukan oleh Organisasi Gallup dan berlanjut selama dua tahun terakhir dengan studi mendalam terhadap beberapa orang berkinerja terbaik. Survey itu menemukan bahwa meskipun ada banyak gaya manajemen, ada satu kualitas yang membedakan manajer yang benar-benar hebat dari yang lain: mereka menemukan apa yang unik tentang setiap orang yang bekerjasama dengannya, dan kemudian memanfaatkannya dengan positif.

Manajer biasa menjelma bak bermain catur, sementara manajer hebat bermain catur. Perbedaannya apa? Dalam catur, semua bagiannya seragam dan bergerak dengan cara yang sama; mereka dapat dipertukarkan. Perlu merencanakan dan mengoordinasikan gerakan mereka, tetapi mereka semua bergerak dengan kecepatan yang sama, di jalur paralel. Dalam catur, setiap jenis bidak bergerak dengan cara yang berbeda, dan Anda tidak bisa bermain jika Anda tidak tahu bagaimana setiap bidak bergerak.

Lebih penting lagi, Anda tidak akan menang jika Anda tidak berpikir dengan hati-hati tentang bagaimana Anda memindahkan potongan demi potongan dalam permainan. Manajer hebat mengetahui dan menghargai kemampuan unik dan bahkan keeksentrikan karyawan mereka, serta mereka belajar cara terbaik untuk mengintegrasikannya kedalam semua rencana yang mereka lakukan.

Selesai saya berkisah, teman kedua pun menyela.

“Wah, kalau semua yang ideal itu dijalankan, harusnya bisa menjadi baik ya,” katanya.

Ia pun memulai obrolan yang membuat kami berkaca-kaca.

“Sejatinya semua orang yang memimpin apapun, harusnya menjadikan sumber daya manusia yang ada di sekitarnya menjadi satu hal yang perlu diketahuinya sebagai modal besar. Ia harus mengelola dengan hebat, memimpin mereka dengan hebat,” katanya lagi.
“Ada apa dengan bosmu?” kata saya.

Ia pun bertutur tentang tugas berat yang diembannya. Selama dua tahun terakhir, sepanjang pandemi, ia bekerja keras untuk mempertahankan produk yang sedang diperjuangkan perusahaannya.

“Saya bukan lagi berkorban waktu, lebih dari itu. Dedikasi all out bahkan perhatian pada apa yang harus saya selesaikan dengan serius,” katanya.

Rupanya teman kedua saya ini, memang masih seperti yang saya kenal dulu. Dedikasi, prioritas, kebaikkan dan kebersahajaannya membuat ia masih bisa bertahan meski suasana kadang tidak berpihak. Banyak pelajaran yang bisa dipelajari.
“Lalu apa yang membuatmu masih bertahan?” tanya saya lagi.

Ia menjawab dengan dengan senyum.

“Nggak papa, kadang bukan saja kita yang harus dipimpin oleh pemimpin. Kadang kita juga harus belajar memimpin para pemimpin dengan cara perhatian kita pada sesuatu yang diamanahkan kepada kita,” katanya lugas.

Ia menceritakan pengalamannya bertahan menghadapi sesuatu yang tidak pasti dan tidak berpihak. Tugas pemimpin menggalang orang-orang menuju masa depan yang lebih baik. Para pemimpin dapat berhasil dalam hal ini hanya jika mereka dapat memotong perbedaan ras, jenis kelamin, usia, kebangsaan, kepribadian, dan memanfaatkan sangat sedikit kebutuhan yang kita semua miliki bersama.

Katanya lagi, bukan saja itu, manajer dapat mengubah bakat khusus seseorang menjadi kinerja yang baik. Mereka akan berhasil jika mereka dapat mengidentifikasi dan menutup perbedaan di antara orang-orang, menantang setiap karyawan untuk unggul dengan caranya sendiri, yang penting baik dan tidak merusak orang lain di sekitarnya. Ini tidak berarti seorang pemimpin tidak bisa menjadi manajer atau sebaliknya. Tetapi untuk unggul di salah satu atau keduanya, harus menyadari keterampilan yang sangat berbeda yang dibutuhkan setiap peran.

“Kita harus berani bersikap baik dan tegas, meski dalam bekerja sering di-ghosting,” katanya tersenyum kecut. Meski demikian, tetap saja harus berani, untuk mencarikan apa pun sebagai penjelasan atau solusi, jadi itu adalah langkah penting, katanya lagi.
Kena ghosting? Kok bisa? Itu dari pemimpin? Kata kami berdua kepada sahabat yang bercerita.

“Jika kalian main ke kantor saya, pasti akan menemukan dinding di belakang meja kerja saya penuh dengan jadwal dan progrss pekerjaan yang saya lakukan dua tahun terakhir. Mestinya pimpinan saya tahu bahwa semua progres perjalanan pekerjaan itu ada saya di dalamnya,” katanya.

Yang tidak boleh dia lupa, sambungnya, dia bukan memperkerjakan orang tak mengerti apa-apa. Ia mempekerjakan orang-orang dengan keterampilan yang sangat berbeda berpotensi membawa semua yang karyawan rencanakan menjadi unggul dan sukses. Namun kejadiannya terbalik. Ia sebagai pimpinan justru terintimidasi oleh tekanan negatif yang merongrong dan merasa penting dalam proses itu.

“Sampai ia lupa, bahwa ia punya peran penting untuk menganggap saya penting,” katanya.

ilustrasi ghosting

Bagian penting dari pekerjaannya adalah menempatkan orang ke dalam peran dan perubahan yang memungkinkan mereka bersinar—dan menghindari menyatukan kepribadian yang berbenturan. Pada saat yang sama, dia perlu menemukan cara bagi individu untuk tumbuh, bukan jiwa-jiwa yang hobi meruntuhkan yang telah baik, urainya lagi.

“Lalu, apa yang kamu lakukan sekarang,” kata kami serempak.

“Luruskan niat dan tujuan. Tetap bekerja meski diperhatikan atau tidak,” katanya dengan mata berbinar. “Apa yang seharusnya menjadi pekerjaan semua harus kita selesaikan. Tidak perlu merasa tersisih. Tipikal pemimpin kan juga beda-beda. Ada yang siap menjadi pemimpin, adapula yang hanya eforia semata,” sambungnya, mencoba mengurai.

Tetapi jika pimpinan memberiksn tugas yang lebih spesifik, sejatinya sudah melalui pemikiran yang analitis, dan unggul. Nah, ketika tiba-tiba ada pemimpin yang PHP alias ghosting, mestinya perlu dikasihani. Tampaknya mental si pemimpin masih suka terintimidasi dengan orang lain, dan tak tahu apa yang harus ia lakukan.

Tak tahu harus berkata apa. Tapi pelajaran dari kisah dua sahabat dalam reunian kecil ini membuat kami bersama sadar, dalam kondisi teknologi yang semakin canggih dan persaingan yang begitu ketat, tak seharusnya kita sebagai sumberdaya saling menjatuhkan dan merasa paling unggul. Terlebih lagi, bila Anda atau siapapun yang telah Allah berikan kesempatan menjadi pemimpin, terlepas perusahaan hebat atau tidak, institusi hebat atau tidak, semua itu bukan ukuran yang menjadi ketentuan. Namun kadar kesiapan memimpin sekaligus dipimpin adalah sesuatu nilai tawar yang setiap saat harus siap menghadapinya.
Jadi, seperti yang akan dilakukan manajer yang baik, dia sejatinya dapat memberi tahu apa yang telah dia simpulkan tentang apa yang sedang dikerjakan.

Setiap pemimpin sejatinya harus memberikan lorong-lorong yang bisa dipenuhi inovasi oleh siapapun yang melaluinya. Bukan intimidasi, ketakutan, tekanan apalagi persaingan yang jelek dan mengatasnamakan profesional. Apalagi ghosting! Nggak penting amat, kan.

Pertemuan yang singkat. Reunian yang indah. Setelah dua tahun tak bertemu, akhirnya kami bisa berbicara lepas, panjang lebar dan tidak merasa terintimidasi. Apalagi perjalanan yang lumayan jauh, tidak membuat kami menjadi capek, justru menemukan energi baru setelahnya. Energi silaturahmi, seperti kata hadits, akan memanjangkan umur dan memudahkan rezeki. Setelah berfoto, saling memberi semangat, kami pun memutuskan untuk kembali pulang ke rumah.

Di perjalanan pulang saya merasa girang. Betapa bersyukurnya memiliki sahabat sejati. Tak berubah, tak pernah ghosting, apalagi memanfaatkan. Di tengah zaman milenial yang begitu cepat berubah seperti turbulensi udara yang tak bisa dicegah, memiliki sahabat seperti sedang menyetir sebuah kendaraan. Kita punya kaca spion yang lengkap untuk bercermin, kanan dan kiri. Betapa bahagianya.

Penulis: Hendra Syah, Akademisi dan Pelatih Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM)

Total
0
Shares

Tinggalkan Balasan

Previous Article

Leo Lelis, Pemain Asal Brazil Segera Bergabung dengan Persiraja

Next Article
rohingya

Pengungsi Rohingya di Aceh Timur Krisis Air Bersih

Related Posts
kolom readers ilustrasi no limit
Read More

Kolom : No Limit

DI ANTARA transisi hidup manusia, akan mendapati episode menjadi sosok dewasa dan orang tua. Meski barangkali itu tidak…