Menghirup Udara Bebas Berkat Asimilasi

16 Warga Binaan Rutan Kelas II B Banda Aceh, Kajhu, Aceh Besar, dinyatakan bebas setelah mendapatkan asimilasi Covid-19. Foto: Muhammad

“Hari ini semua keluar dari rutan (Rumah Tahanan Negara) untuk menjalankan asimilasi di rumah,” ucap Irhamuddin, Kepala Rutan Kelas II B Banda Aceh, dihadapan 16 warga binaan.

Satu per satu warga binaan ini kemudian menerima selembar surat keterangan asimilasi. Sebuah pintu kecil kemudian dibuka oleh petugas, satu per satu mereka keluar dari balik pintu bermotif Pinto Aceh tersebut.

Rasa haru dan bahagia tak sanggup dibendung para lelaki ini. Setelah menghirup udara bebas, mereka lansung sujud syukur bersama di depan pintu rutan.

“Alhamdulillah akhirnya keluar juga,”ucap mereka serentak.

16 Warga Binaan Rutan Kelas II B Banda Aceh, Kajhu, Aceh Besar, dinyatakan bebas setelah mendapatkan asimilasi Covid-19. Foto: Muhammad

Havas, salah seorang warga binaan kasus narkotika yang mendapat asimilasi mengaku sangat senang bisa keluar dari rutan. Havas ingin kembali berkumpul bersama keluarganya sambil mencari pekerjaan baru.

“Rencananya cari kerja kembali dulu bang untuk kehidupan. Kalau gak kembali ke keluarga,” kata Havas.

Pernyataan yang sama juga disampaikan oleh Zuriadi. Dirinya mengaku jera mendekam di balik jeruji. Matanya berkaca-kaca seolah menyesali perbuatannya dahulu. Ia ingin kehidupannya ke depan lebih baik dari sebelumnya, serta mendapat pekerjaan yang layak.

“Saya bekerja seperti biasa saja. Seperti dulu, supaya tidak terulang kembali lagi kejadian ini. Walaupun masalah ini bukan saya sengaja,” ucap Zuriadi.

16 Warga Binaan Rutan Kelas II B Banda Aceh, Kajhu, Aceh Besar, dinyatakan bebas setelah mendapatkan asimilasi Covid-19. Foto: Muhammad

Rutan Kelas II B Banda Aceh di Kajhu, Aceh Besar, memberikan asimilasi Covid-19 tahap satu untuk tahun 2021 kepada 16 warga binaan Rabu (3/2/2021). Mereka dinyatakan telah memenuhi syarat untuk kembali ke lingkungan masyarakat. Meski, masih memiliki beberapa bulan atau dua pertiga sisa masa tahanan.

“Untuk tahap pertama tahun ini itu jumlahnya 16 orang,” kata Jefri Purnama, perwakilan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kanwil Kemenkumham) Provinsi Aceh, usai memberikan asimilasi kepada warga binaan.

Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia menerbitkan Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Permenkumham) Nomor 32 Tahun 2020 tentang Syarat dan Tata Cara Pemberian Asimilasi, Pembebasan Bersyarat, Cuti Menjelang Bebas, dan Cuti Bersyarat bagi narapidana serta anak dalam rangka pencegahan dan penanggulangan penyebaran Covid-19.

Aturan tersebut dikeluarkan sebagai pengganti Permenkumham Nomor 10 Tahun 2020 tentang Syarat Pemberian Asimilasi dan Hak Integrasi. Berbeda dengan aturan sebelumnya, Permenkumham Nomor 32 Tahun 2020 terdapat beberapa poin penyempurnaan, dii antaranya adalah terkait syarat dan tata cara pemberian asimilasi dan hak integrasi.

Asimilasi tidak akan diberikan kepada narapidana dan anak yang melakukan tindak pidana terkait narkotika, prekursor narkotika, dan psikotropika, terorisme, korupsi, kejahatan atas keamanan negara, kejahatan hak asasi manusia yang berat, dan kejahatan transnasional terorganisasi lainnya.

Jefri menjelaskan, asimilasi tidak diberikan kepada narapidana dan anak dengan tindak pidana pembunuhan Pasal 339 dan Pasal 340, pencurian dengan kekerasan Pasal 365, kesusilaan Pasal 285 sampai dengan Pasal 290 KUHP, serta kesusilaan terhadap anak sebagai korban Pasal 81 dan Pasal 82 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Kepala Bidang Pelayanan Tahanan, Kesehatan, Rehabilitasi, Pengelolaan Benda Sitaan, Barang Rampasan Negara, dan Keamanan itu mengatakan dari 16 warga binaan yang mendapatkan asimilasi, umumnya ialah terpidana kasus narkotika dan kasus pidana umum.

Meski demikian, tuntutan hukum maupun vonis yang pernah diberikan kepada para warga binaan tersebut tidak melebihi aturan Permenkumham Nomor 32 Tahun 2020, sehingga mereka bisa mendapatkan asimilasi Covid-19.

“Kalau untuk narkotikanya yang di bawah lima tahun,” ujar Jefri.

Pemberian asimilasi kepada 16 warga binaan ini, kata Jefri, tidak dilakukan dengan begitu saja. Terdapat sejumlah mekanisme yang harus dijalani para calon penerima asimilasi.

16 Warga Binaan Rutan Kelas II B Banda Aceh, Kajhu, Aceh Besar, dinyatakan bebas setelah mendapatkan asimilasi Covid-19. Foto: Muhammad

Misalnya, para warga binaan yang diajukan mendapat asimilasi akan diasesmen atau dilakukan peninjauan selama beberapa waktu. Mereka juga akan menjalani kehidupan percobaan di tengah masyarakat atau penelitian masyarakat.

Tujuan penetapan itu adalah untuk meminimalisir pelanggaran hukum yang kembali dilakukan oleh warga binaan usai mendapatkan asimilasi.

“Jadi mekanisme sudah ditetapkan balai lembaga pemasyarakatan (oleh bapas), prosesnya adalah asesmen kepada warga binaan yang akan diberikan asimilasi tersebut,” ungkapnya.

Meski para warga binaan ini telah menghirup udara bebas, namun mereka masih dalam pemantauan pihak lembaga pemasyarakatan hingga sisa masa kurungan dinyatakan habis.

Karena itu, jika dalam masa pemantauan mereka kembali melakukan tindak pidana, maka petugas akan menahan dan menambah masa hukuman sesuai dengan tindakan yang dilanggar.

“Ada dua sanksi yang dia terima, pertama menjalani sisa pidana sebelumnya yang belum habis, kedua pidana yang baru jika mendapatkan inkrah dari pengadilan,” kata Jefti.

Sementara itu, Kepala Rutan Kelas II B Banda Aceh, Irhamuddin, mengatakan sebelumnya pihaknya mengajukan 80 berkas milik warga binaan yang dinilai layak mendapatkan asimilasi. Akan tetapi, ketatnya proses serta mekanisme terbaru tahapan calon penerima asimilasi Covid-19 sehingga hanya melewatkan 16 orang.

“Yang diusulkan 80 orang, litmas (tahap penelitian masyarakat) 24 orang, dan hasilnya keluar 16 orang,” kata Irhamuddin.

Rutan yang kini menampung 606 orang warga binaan dan 75 persen diantaranya adalah narapidana kasus narkotika, kata Irhamuddin, juga telah kembali menahan tiga warga binaan yang pernah mendapatkan asimilasi Covid-19 tahun 2020.

“Kasus pencurian dua orang dan satu orang kasus narkoba,” ungkapnya.

Total
19
Shares

Tinggalkan Balasan

Previous Article

PDAM Tirta Daroy: Krisis Air di Banda Aceh Disebabkan Galian C

Next Article

21 Nelayan yang Dibebaskan India Tiba di Koetaradja

Related Posts