Monopoli Operasional, Bank Syariah Seharusnya Bebas Biaya Transfer

Akademisi Universitas Syiah Kuala, Mawardi Ismail. Fachrizal | readers.ID

Pakar hukum Universitas Syiah Kuala, Mawardi Ismail menilai sistem perbankan syariah yang berjalan melalui kebijakan publik (qanun) di Aceh mendapat monopoli operasional. Sehingga menyebabkan bank konvensional harus keluar dari Aceh.

Akibat monopoli operasional juga, jelas Mawardi, bank syariah mendapat keuntungan yang luar biasa. Aset menjadi lebih besar dan pasarnya juga bertambah berkali-kali lipat. Tetapi, di lain pihak, masyarakat mendapat beban, salah satunya kesalahan teknis.

“Misalnya, ketika hendak transfer uang antar bank, kalau dulu tanpa ada biaya, sekarang transfer uang harus dengan biaya. Jangan dihitung bunga 6.500 itu kecil, tapi kalau dikali ribuan bisa jadi miliaran juga itu,” ujar Mawardi.

Menurut dia, saat ini sedang terjadi ketidakadilan. Di mana masyarakat mengalami kerugian, sedangkan bank syariah diuntungkan tanpa adanya beban apa pun.

Karena itu ia menegaskan, jika dengan qanun bisa memaksa bank konvensional untuk keluar dari Aceh, maka, dengan qanun juga masyarakat bisa memaksa bank syariah untuk membebaskan biaya beban transfer antar bank.

“Ini saran konkret, kalau dengan qanun kita bisa memaksa bank konvensional keluar Aceh, masa dengan qanun kita tidak memaksa bank syariah yang punya keuntungan luar biasa tadi untuk membebaskan biaya itu. Ini yang sebenarnya dilupakan oleh pembentuk qanun,” tuturnya.

“Karena ada satu pasal yang menyatakan, bahwa ada kewajiban bank syariah untuk membebaskan biaya transfer antar bank,” tambah Mawardi. []

Total
8
Shares

Tinggalkan Balasan

Previous Article

Kepala BSI Aceh: di Bank Syariah Semua Boleh, Kecuali yang Dilarang Agama

Next Article
Infografis: Polimik Dana Hibah untuk OKP

Infografis: Polemik Dana Hibah untuk OKP

Related Posts