Moritza Thaher: Musisi Aceh Berpeluang Tembus Pasar Dunia

Moritza Thaher. [Dok. pribadi]

Era digital mengubah banyak hal dalam industri musik. Kemunculan layanan streaming dan platform video seakan menyahuti masifnya perangkat lunak yang kini bisa memproduksi aneka ragam bebunyian.

Kendati proses kreatif saat ini kian terbantu dengan semua peranti tadi, pelaku industri juga tetap menuai tantangannya sendiri. Di Aceh misalnya, satu hal yang perlu dijawab oleh para musisi lokal, adalah bagaimana cara mereka memasarkan karyanya.

Musisi Aceh, Moritza Thaher menekankan beberapa hal mengenai perubahan itu. Sepintas, ia melihat peluang industri musik lokal memang menjanjikan. Namun di balik optimisme itu, ada banyak sisi yang menegaskan bahwa pengaryaan bukanlah proses singkat.

“Materinya bukan cuma sajian yang asal jadi, tapi perlu didalami, penulisan lirik juga harus serius,” kata pria yang akrab disapa Momo ini, kepada readers.ID, Selasa (9/3/2021).

Pertemuan dengan Momo bertepatan dengan Hari Musik Nasional, yang diperingati saban tanggal 9 Maret. Tak seseru tahun-tahun sebelumnya, penyambutan hari musik kali ini terasa berbeda lantaran masa pandemi.

Konsep performa virtual pun mendadak jadi primadona, banyak musisi yang memindahkan panggungnya ke situ. Lagi-lagi teknologi digital lah yang menyelamatkan industri ini.

“Meski pandemi, tapi produktivitasnya justru meningkat, bisa karena lebih banyak waktu di rumah karena pandemi,” imbuhnya.

Alur bisnisnya juga bergeser, dari yang semata tertuju pada penjualan Video Compact Disc (VCD), namun sekarang musisi mengejar jumlah tontonan di Video Youtube.

Meski produktivitas menanjak, namun ada tantangan lain. Bagi Momo, musisi Aceh masih belum mampu melihat pasar dengan jeli.

Ia mengamati banyak musisi yang hanya mengandalkan Youtube dan Live Streaming. Padahal, kata dia, masih ada pasar digital yang perlu dirambah, sebut saja layanan streaming ITunes dan Spotify.

“Ini perlu dilirik, jika ingin maju lebih baik, harus memanfaatkan segala peluang di pasar, refleksinya disitu. Sejauh mana kita mampu mengandalkan sarana yang ada,” kata Momo lagi.

Meski karya menuntut kualitas, sela dia, para musisi juga jangan mengabaikan kuantitas. Dalam hal ini, karya harus dikemas secara beragam untuk memperlebar ceruk segmentasi.

Ia mencontohkan skena musik di Bandung dan Jakarta. Di sana, segelintir musisi menargetkan pasar digital baik tingkat lokal, nasional bahkan sampai internasional. Mereka bisa menciptakan lagu dalam tiga bahasa, yakni bahasa daerah, nasional dan bahasa inggris.

“Hari ini para musisi lebih mudah dalam mengeksplorasi karya-karya mereka, karena era serba digital,” ucap Momo.

Momo berharap musik Aceh bisa menerobos pasar internasional, salah satu caranya bisa dengan karya multi bahasa tadi. Supaya orang luar juga dapat menikmati lagu-lagu para musisi Aceh. Banyak platform yang bisa memudahkan musisi meraup pendengar dari negara luar.

“Intinya, pelaku musik di Aceh harus membuka cakrawala bahwa teknologi kian berkembang, harus segera menyesuaikan diri agar bisa bertahan di industri ini,” tandasnya. []

Editor: Fuadi Mardhatillah

 

Total
1
Shares

Tinggalkan Balasan

Previous Article

Nova Iriansyah Lepas Keberangkatan KMP Aceh Hebat 1

Next Article

ISYEF Aceh: Perlu Peran Milenial Jalankan Ekonomi Syariah

Related Posts