Nakes Lansia Baru Satu Orang Divaksin di Banda Aceh

Juru Bicara Penanganan Covid-19 Aceh, Saifullah Abdulgani menyampaikan, kabupaten Pidie merupakan daerah terendah capaian vaksinasi Covid-19 untuk Tenaga Kesehatan (Nakes).
Nakes di Banda Aceh menjalani vaksin Covid-19. Hotli Simanjuntak | readers.ID

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) beberapa waktu lalu mengeluarkan izin penggunaan darurat atau Emergency Use Authorization (EUA) terhadap Vaksin Coronavac produksi Sinovac kepada kelompok orang dengan kategori lanjut usia (lansia), komorbid dan penyintas Covid-19 serta sasaran tunda.

Izin melakukan vaksinasi Covid-19 terhadap kelompok tersebut kemudian diteruskan oleh Pemerintah Pusat melalui Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dalam surat edaran Nomor KH.02.02/11/368/2021, yang ditujukan kepada kepala dinas kesehatan provinsi maupun kabupaten/kota.

Di Banda Aceh sendiri, pelaksana vaksinasi kepada tenaga kesehatan (nakes) kelompok orang dengan kategori lansia, komorbid dan penyintas Covid-19 serta sasaran tunda, mulai dilakukan sejak Senin (15/2/2021) lalu.

“Kalau yang nakes –kategori lansia– sudah kita mulai terus, dua hari yang lalu,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, Lukman, saat dikonfirmasi readers.ID, pada Rabu (17/2/2021).

Meski telah dilaksanakan dua hari lalu, namun baru satu nakes kategori lansia yang melakukan vaksinasi. Masih sedikitnya jumlah yang divaksin dikatakannya, karena banyak nakes yang sudah pensiun.

“Karena rata-rata bukan dari PNS. Kalau PNS-nya kan dia sudah pensiun umur segitu. Jadi yang divaksin itu tenaga kontrak,” ujarnya.

Lukman mengatakan, pihaknya tidak mendata dan meminta nakes lansia untuk mendaftarkan diri sebagai peserta vaksinasi. Bahkan, diakuinya, tidak perlu ada sosialisasi bagi nakes lansia selain hanya surat terusan dari kementerian kesehatan.

“Mereka rata-rata sudah tau, malah meminta sendiri. Kemarin itu mereka ada yang meminta cuma belum ada aturan sehingga kami tidak berani. Kini sudah ada aturan kita sudah siap,” ucapnya.

Sementara itu terkait nakes yang memiliki komobrid atau penyakit penyerta, disampaikan Lukman, mekanisme pelaksanaannya sedikit berbeda. Pertama nakes akan di-screening, lalu akan diperiksa oleh dokter spesialis bagi yang memiliki komobrid.

“Tambah pemeriksaan setelah di-screening oleh dokter umum di puskesmas, dia memiliki komobrid, maka kita akan rujuk ke rumah sakit untuk mendapat pemeriksaan dari dokter spesialis. Kalau memang dokter spesialis mengatakan tidak boleh, kita tidak akan melakukan,” ujar Lukman.[acl]

Total
15
Shares

Tinggalkan Balasan

Previous Article
Papan Bunga Nyeleneh Kritik Gubernur Aceh, Provinsi Termiskin

Papan Bunga Nyeleneh Kritik Gubernur Aceh, Provinsi Termiskin

Next Article
Jokowi Sidak Vaksinasi Massal di Pasar Tanah Abang

Jokowi Sidak Vaksinasi Massal di Pasar Tanah Abang

Related Posts