Nasib Tragis Ibu dan Anak Direnggut Nyawanya oleh Tetangga Sendiri

Dendam dan Hutang Diduga Motif Pelaku Bunuh Ibu dan Anak
Pelaku pembunuhan terhadap ibu dan anak di Aceh Timur. Doc Polres Aceh Timur.

Senin (15/2/2021) warga Simpang Jernih, Kecamatan Simpang Jernih, Aceh Timur, digegerkan atas penemuan mayat Siti Fatimah (57) dan putrinya berusia 15 tahun, di kolong tempat tidur dengan kondisi berlumuran darah.

Penemuan jasad kedua bukan tanpa sebab, kecurigaan Fatimah (menantu Siti Fatimah) mengenai tidak adanya aktivitas di rumah korban selama beberapa hari menjadi titik awal.

Bahkan, saksi sempat menghubungi sanak saudara mereka di Kuala Simpang, Aceh Tamiang, untuk memastikan keberadaan mertua dan adik iparnya tersebut. Akan tetapi keberadaan ibu dan anak itu pun tak diketahui.

Kecurigaan dan merasa ada yang tidak beres semakin timbul kala Fatimah melihat banyaknya lalat berterbangan di teras rumah mertuanya. Tak berani memastikan sendiri, ia pun meminta tolong M Nasir, warga setempat untuk mengecek rumah korban.

“Setibanya di rumah korban dari teras rumah tercium bau busuk dari dalam rumah korban,” kata Kapolsek Simpang Jernih, Ipda Rudiono, pada Selasa (16/2/2021).

Nasir pun coba menghubungi anak laki-laki korban yang sedang berada di luar kota dan menyampaikan kondisi yang dilihatnya saat itu.

Usai mendapat izin dari anak korban, M Nasir mengajak warga lainnya untuk mendobrak pintu rumah korban. Ketika didobrak, terlihat ceceran darah di lantai depan pintu kamar tidur.

“Saksi mencoba mengintip ke arah bawah tempat tidur dan terlihat dua mayat korban terbujur kaku di bawah kolong tempat tidur,” kata Rudiono.

Melihat Siti Fatimah dan putrinya terbujur kaku berlumuran darah, M Nasir lalu melaporkannya ke perangkat gampong serta pihak kepolisian setempat.

Jasad keduanya lalu dievakuasi pihak kepolisian untuk kebutuhan autopsi. Sementara petugas terus melakukan olah tempat kejadian perkara untuk mengumpulkan sejumlah barang bukti.

Rumah Sakit Bhayangkara di Kota Medan, Sumatera Utara, ditunjuk sebagai tempat autopsi jasad Siti Fatimah dan putrinya. Hasilnya baru pada Selasa (16/2/2021) dan diumumkan pihak kepolisian pada Rabu (17/2/2021).

Kasat Reskrim Polres Aceh Timur, AKP Dwi Dwi Arys mengatakan, tengkorak bagian wajah korban hancur yang diperkirakan karena terbentur benda tumpul dan tulang iga sebelah kiri patah.

Sedangkan tengkorak kepala bagian atas anaknya yang masih berusia 15 tahun itu, pecah akibat benda tumpul. Tak hanya itu, rahang sebelah kiri juga patah.

“Diduga kematian akibat kehabisan darah dan keduanya diperkirakan meninggal di atas 72 jam saat ditemukan,” ujar Dwi.

Di sisi lain, polisi terus mencari informasi dengan meminta keterangan sejumlah saksi. Sedikitnya ada 10 orang yang telah mereka periksa untuk dimintai keterangan.

Hampir dua hari melakukan penyelidikan, petugas mendapatkan titik terang mengenai siapa pelaku yang dengan sadis menghabisi nyawa ibu dan anaknya tersebut. Dua nama mencuat mengarah kepada dua warga setempat berinisial R (46) dan M (37).

Tepat pada Rabu (17/2/2021) sekira pukul 03.00 WIB, tim gabungan Polres Aceh Timur menangkap kedua pria itu di dua lokasi berbeda.

M ditangkap dalam pelariannya di kawasan Besitang, Sumatera Utara. Sementara R, ia malah telah terlebih dahulu mendekam di sel Polsek Simpang Jernih karena melakukan tindak pidana pengrusakan dan pengancaman terhadap warga desa setempat.

“Benar, pada hari Rabu, sekira pukul 03.00 WIB anggota kami berhasil mengamankan R dan M,” kata Kapolres Aceh Timur, AKBP Eko Widiantoro, pada Kamis (18/2/2021).

Kedua pelaku diduga kerap membuat keresahan. Itu berdasarkan sejumlah catatan hukum yang pernah dilakukan R dan M.

R diketahui merupakan residivis kasus penganiayaan dan pernah mendekam di penjara selama satu tahun. Lainnya halnya dengan M, ia terlibat tindak pidana memasuki pekarangan tanpa izin dan hingga kini masih dalam proses sidang di Pengadilan Negeri Idi, Aceh Timur.

R dan M kini masih dalam penyelidikan terkait kasus kematian Siti Fatimah beserta anak perempuannya yang masih berusia 15 tahun tersebut.

Keterangan sementara didapatkan, niat menghabisi nyawa dua warga Gampong Simpang Jernih itu berawal saat R dan M bertemu di Gampong Bengkelang, Kecamatan Bandar Pusaka, Kabupaten Aceh Tamiang, pada Kamis (11/2/2021) sekira pukul 22.00 WIB.

“Pada saat itu, R mengajak M untuk menemui seseorang,” kata Eko.

Keduanya pun pergi menuju desa mereka dengan menggunakan sepeda motor milik M. R dan M tiba di desa mereka pada Jumat, (12/2/2021) sekira pukul 02.00 WIB. Mereka lalu memarkirkan sepeda motor di perkebunan sawit dam menuju rumah korban.

M yang awalnya masih ragu kembali menanyakan kepada R, maksud dan tujuan ke rumah korban. Akan tetapi R tak memberi jawaban dan tetap mengajak M untuk mengikutinya.

Memastikan suasana rumah korban aman, R dan M masuk ke dalam dengan cara mencongkel jendela kayu rumah Siti Fatimah. Setelah di dalam R menyuruh M untuk mencari benda yang belakangan diambilnya sebilah kayu dari belakang pintu.

Keduanya lalu mengendap masuk ke kamar di kala kedua korban sedang tertidur pulas. R menginstruksikan M untuk menghabisi nyawa Siti Fatimah dengan menggunakan kayu, sedangkan R mengeksekusi anak perempuan korban.

“Permintaan tersebut diiyakanya. Dengan menggunakan kayu, M memukul Siti Fatimah pada bagian, leher dan sekitar rahang,” ujar Eko.

Usai menganiaya wanita 57 tahun tersebut, M menghampiri R yang sedang menganiaya putri korban dengan menggunakan besi bulat. Bahkan, R juga meminta M untuk membantunya.

“Bukan dihajarnya, justru putri korban diperkosa oleh M di bawah tempat tidur dengan keadaan mulut sudah berdarah-darah akibat dipukul oleh R. Saat M sedang memperkosa, R menghatamkan besi bulat yang ia pegang ke kepala Siti Fatimah,” ungkap Eko.

Kedua pelaku lalu kabur melalui jendela usai menghabisi nyawa Siti Fatimah dan putrinya. Sebelumnya, jasad kedua korban mereka tolak ke bawah tempat tidur, sedangkan besi dan kayu yang digunakan untuk membunuh mereka buang ke semak-semak di belakang rumah korban.

M melarikan diri ke Besitang. Sementara R baru beberapa jam melakukan pembunuhan ditahan polisi, pada Jumat (12/2/2021) siang, karena melakukan tindak pidana lainnya.

Jasad Siti Fatimah dan putrinya yang masih berusia 15 tahun baru diketahui pada Senin (15/2/2021). Tiga hari kemudian, tepatnya Rabu (17/2/2021) polisi menangkap R serta M atas kasus kematian ibu dan anak tersebut.

Hasil pemeriksaan sementara, diketahui bahwa pelaku keduanya tega menghabisi nyawa Siti Fatimah beserta anaknya karena terkait hutang piutang.

“Dari keterangan pelaku R, ia melakukan perbuatan tersebut dilatarbelakangi dendam dan hutang piutang,” ungkap Kapolres Aceh Timur.

Meski demikian, pihak kepolisian tidak langsung percaya dan masih mendalami motif lain yang sebenarnya.

Guna penyelidikan lebih lanjut R dan M kini ditahan di Mapolres Aceh Timur. Polisi juga menyita sejumlah barang bukti, seperti sebatang kayu bulat dengan panjang lebih kurang 1,5 meter, sebatang besi bulat dengan panjang lebih kurang setengah meter, dua unit gawai, pakaian yang digunakan pelaku saat melakukan pembunuhan, serta dua unit sepeda motor.

Atas perbuatanya, kedua pelaku kami kenakan Pasal 338 Jo 340 KUHP dengan ancaman hukuman mati atau penjara seumur hidup dan Pasal 76 C Jo pasal 80 ayat 3 Undang undang Nomor 35 Tahun 2014 perubahan atas Undang undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak dengan ancaman penjara paling lama 15 tahun.

Total
17
Shares

Tinggalkan Balasan

Previous Article

Sebuah Granat Ditemukan di Bawah Mobil Kalapas Narkotika Langsa

Next Article

Pemuda Muhammadiyah Aceh: Butuh Kekompakan Bangun Aceh

Related Posts