OPINI: Mengelola Sampah Ala Zero Waste di Banda Aceh

Dr. Muhammad Nizar, ST, MT (Pakar lingkungan di Universitas Serambi Mekkah, Banda Aceh)

Setiap tanggal 21 Februari di Indonesia diperingati sebagai Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN). Berbagai aksi dilakukan dalam memeriahkan HPSN tersebut mulai dari bikin seminar, diskusi, mengutip sampah dan berbagai aksi lainnya.

Ada daerah yang membuat peringatan HPSN benar-benar meriah, kebanyakan memperingati HPSN ala kadarnya saja, termasuk di Banda Aceh. Sepanjang kota kita lewati tidak tampak ada tanda-tanda peringatan HPSN. Kecuali beberapa LSM, masyarakat atau dinas terkait saja yang memperingatinya.

Pertanyaannya, usai peringatan HPSN apakah sampah kota telah benar-benar dikelola dengan baik? Sepertinya tidak, sampah berserakan dimana-mana di seluruh penjuru kota, walau tong sampah sudah ada.

Persampahan Banda Aceh

Banda Aceh dapat dikategorikan sebagai kota menengah di Indonesia yang sedang berkembang namun memiliki keterbatasan luas wilayah. Kota ini menghasilkan sampah sebanyak 180 ton/hari atau 720 m3/hari dengan asumsi setiap orang menghasilkan 0,58 kg/hari. Studi yang dilakukan terhadap kondisi pengelolaan persampahan di Kota Banda Aceh menunjukkan hasil masih kurang memadai. Sampah-sampah itu perlu diolah lebih lanjut di TPA Kampung Jawa. Sampah daun diolah menjadi kompos, sedangkan sampah plastik dan kertas tidak dilakukan pengolahan.

Persentase sampah organik, kertas dan plastik yang dihasilkan kota Banda Aceh masing-masing sebesar 89,1 persen; 2,5 persen; 0,74 persen. Berat sampah yang dihasilkan oleh Kota Banda Aceh adalah 86057,64 ton/bulan dan menghasilkan emisi karbon sebesar 83726,6 ton/bulan.

Adapun pengelolaan sampah yang dilakukan oleh pemerintah kota masih bersifat konvensional, yaitu mengumpulkan sampah, mengangkut dan membuangnya ke TPA. Sampah dikumpulkan dari rumah ke rumah ataupun di Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPS), kemudian diangkut dengan menggunakan truk ke TPA Kampung Jawa yang berjarak sekitar 10 km dari pusat kota. Sampah yang tiba di TPA dibuang begitu saja (open dumping) walaupun ada sebagian sampah yang dipilah, diambil kembali oleh petugas untuk dijual dan didaur ulang.

Timbunan sampah perkotaan akan meningkat sejalan dengan laju pertumbuhan penduduk, ekonomi dan pembangunan. Tingginya aktivitas penduduk Kota Banda Aceh saat ini telah menyebabkan bertambahnya jumlah sampah. TPA Kampong Jawa kapasitas penampungannya sudah melebihi daya tampung, sehingga telah dibangun TPA Terpadu Blang Bintang, Kabupaten Aceh Besar.

Konsep Zero Waste atau menihilkan sampah bisa menjadi solusi dalam pengelolaan sampah. Pengertian nihil bukan berarti tidak ada sampah sama sekali, namun ini lebih mengacu kepada sebuah cita-cita untuk menghilangkan sampah sebanyak mungkin atau less waste.

Istilah Zero Waste kedengaran bombastis tapi menarik untuk didengar karena ear catching alias enak didengar. Tapi jangan salah, banyak negara yang berhasil menerapkan konsep ini, meski butuh waktu bertahun-tahun.

Harap diingat, Zero Waste berarti menghilangkan sampah sebanyak mungkin dari awal atau sumbernya. Mungkin konsep konvensional pengelolaan sampah yang hanya memindahkan sampah dari depan rumah ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

Di negara-negara Asia, istilah Municipal Solid Waste (MSW) biasanya merujuk pada sampah yang dihasilkan oleh masyarakat, namun tidak termasuk sampah industri atau sampah dari aktivitas pertanian. Sistem yang digunakan untuk mengumpulkan, memindahkan dan pembuangan akhir sampah juga relatif sama di negara berkembang dan memiliki keunikan tersendiri. Hal ini berbeda dengan negara-negara maju yang pengelolaan MSW-nya lebih sistematis. Keunikan ini berasal antara lain dari komposisi sampah, keterlibatan sektor informal, kelompok sukarelawan, sektor swasta dan kelompok swadaya masyarakat yang bergerak dalam bisnis pengumpulan barang bekas. Teknologi terkini yang diterapkan di negara-negara maju tidak bisa langsung diterapkan di Asia tanpa melakukan adaptasi terlebih dahulu dengan situasi dan kondisi setempat.

Metode pengelolaan sampah padat perkotaan secara umum dapat digolongkan menjadi empat cara yaitu: daur ulang, komposting, membakar sampah dengan menggunakan incinerator dan membuang sampah ke TPA. Ke empat cara tersebut dapat dilakukan secara masing-masing ataupun dengan kombinasi dua cara atau lebih, tergantung dari kondisi fasilitas sampah padat perkotaan yang ada. Sebagai contoh, daur ulang dari sebagian sampah padat perkotaan dapat dilakukan efektif dan ekonomis jika pengumpulan sampah yang hendak didaur ulang tersebut dilakukan secara terpisah dari sampah lain.

Pada negara yang penduduknya berpenghasilan tinggi, beberapa cara pengolahan sampah telah dipraktikkan sehingga mereka bisa mencapai tujuan manajemen pengelolaan sampah (misalnya tujuan untuk melindungi kesehatan manusia dan lingkungan serta melestarikan sumber daya alam). Sebagai contoh negara bagian California di Amerika Serikat melaksanakan pengelolaan MSW sesuai dengan hierarki pengelolaan sampah, yaitu pengurangan di sumber sampah, daur ulang dan komposting, transformasi limbah dan landfilling.

Ada tiga jenis metode pembuangan sampah di TPA, yaitu pembuangan terbuka (open dumping), pembuangan yang dikendalikan (controlled landfill) dan sanitary landfill. Perbedaan utama di antara ketiganya adalah pemilihan awal lokasi TPA, penggunaan teknologi, Standar Operasi Prosedur (SOP) TPA harian (Operation & Management) dan pemeliharaan pasca-penutupan TPA. Perbedaan ini disebabkan oleh perbedaan kesadaran masyarakat dan teknologi yang tersedia di landfill. Lindi mempengaruhi lingkungan lokal (mencemari air permukaan dan air tanah), sedangkan emisi gas CH4 menjadi perhatian global, karena potensi pemanasan globalnya yang tinggi (Global Warming Potential) yaitu 21 kali CO2. Gas CH4 dihasilkan dari TPA diperkirakan mencapai 20 persen dari emisi gas CH4 antropogenik di seluruh dunia.

Manajemen Pengelolaan Sampah Zero Waste

Sampah lebih sering dianggap sebagai barang yang tidak berguna oleh masyarakat bahkan industri sekalipun. Secara lebih spesifik, dalam sepuluh tahun terakhir, konsep Zero Waste telah memunculkan perspektif baru dalam bidang persampahan, terutama soal upaya mengatasi masalah sampah dan obsesi peningkatan ekonomi konsumtif yang menghabiskan sumber daya alam, yang lama bisa diselesaikan.

Sebuah pemahaman global yang muncul sebagai efek dari perubahan iklim, di antaranya hilangnya keanekaragaman hayati, meningkatnya polusi udara, air dan tanah, serta penggundulan hutan dan berkurangnya sumber daya dan material, sebagai konsekuensi konsumsi yang berlebihan namun proses produksi yang tidak berkelanjutan.

Konsep Zero Waste menolak insinerator, landfill, menghilangkan masyarakat pembuang sampah (throwaway society) dan menciptakan komunitas yang berkelanjutan. Ide ini terdengar seperti konsep yang sangat ideal, tetapi kita dapat merealisasikannya sesuai waktu tertentu.

Kita tidak berharap bisa menerapkan Zero Waste tahun depan, tetapi kita dapat merencanakan situasi yang sangat dekat dengan konsep tersebut, di tahun-tahun mendatang.

Mengelola sampah selalu jadi hal yang paling menantang dalam mengelola sebuah kota, tetapi anehnya sektor ini malah mendapat porsi perhatian paling kecil dibanding isu-isu perkotaan lainnya. Kualitas layanan sampah menjadi salah satu indikator bagusnya tata kelola pemerintahan kota. Jelas bahwa masalah sampah bukan sekedar daur ulang tetapi juga bagaimana mencegah sampah. Penghindaran terjadinya sampah (waste avoidance) merupakan prioritas utama, baru kemudian diikuti dengan daur ulang dan rekayasa material untuk meminimalkan jumlah sampah yang akhirnya dibuang ke landfill atau dibakar dalam insinerator.

Zero Waste (ZW) merupakan salah satu konsep yang paling visioner dalam menyelesaikan persoalan-persoalan sampah. Sejumlah kota-kota besar di dunia seperti Adelaide, San Francisco dan Stockholm telah mendeklarasikan diri sebagai kota Zero Waste dan mereka berusaha mencapai target yang ditetapkan dan menjadi kota-kota pertama yang menerapkannya. Tetapi hal yang tak kalah penting adalah bagaimana menerapkan konsep ZW dalam sebuah kota dan bagaimana mengukur kinerja sebuah kota berdasarkan konsep ZW.

Bagaimana pun, tidak ada strategi tunggal yang dapat menyelesaikan permasalahan sampah saat ini. Pendekatan yang holistik dalam mengelola sampah kota dan konsep keberlanjutan dalam jangka panjang diperlukan untuk mendesain kota Zero Waste secara sungguh-sungguh.

Pemahaman terhadap konteks lokal dan situasi pasar global akan memberikan adaptasi ZW secara maksimal.

Pemerintah Kota Banda Aceh harus dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan rencana mereka untuk meningkatkan kinerja recovery (diuji dalam aspek timbulan sampah per kapita, TPA per kapita dan laju recovery sumber daya), seperti fasilitas sumber daya apa yang dibutuhkan untuk memenuhi berbagai target? berapa investasi yang dibutuhkan dan di mana fasilitas Advanced Waste Treatment (AWT) didirikan?

Dalam skala kecil Pemko Banda Aceh sudah menerapkan konsep ZW tapi hal ini belum memadai. Lihat saja masih banyak sampah berserakan di sekitar kota, keterlibatan masyarakat dalam mengelola sampah masih rendah dan di TPA sendiri pengolahan sampah tidak maksimal. Jika Zero Waste sudah diterapkan dengan konsisten, setidaknya kita tidak melihat lagi sampah berserakan dimana-mana. Timbulan sampah bisa dikurangi hingga 30 persen sesuai target pemerintah di tahun 2025.[]

Penulis: Dr. Muhammad Nizar, ST, MT (Pakar lingkungan di Universitas Serambi Mekkah, Banda Aceh)

Total
6
Shares

Tinggalkan Balasan

Previous Article

Warga Aceh Timur Kritis Usai Dibacok Besannya Sendiri

Next Article

Perdana, AJI Gelar Debat Kandidat Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal

Related Posts