Kolom | Sebuah Kisah Tentang Ayah – Experience

Ilustrasi – Ulang tahun ayah (Shutterstock)/Antara

Saya masih mengingat kisah itu. Ketika usia saya masih sangat sangat muda, 9 tahun, baru kelas empat Sekolah Dasar. Ketika itu bakda magrib, saya merengek kepada Ayah. Memohon untuk mengizinkan saya meminjam mesin hitung (kalkulator) miliknya untuk saya bawa ke sekolah.

Bayangan saya keesokan harinya, suasana kelas pasti seru, saya akan sangat lancar menjawab semua pertanyaan matematika dari guru, dengan menekan kalkulator yang saya letakkan di atas kedua paha. Tentu guru tidak akan melihat, karena posisinya di bawah meja. Pikiran saya girang, membayangkan jika rencana itu akan menjadi nyata.

Ternyata saya salah besar. Selepas Isya, Ayah meminta saya untuk keluar dari kamar. Setengah berbisik, ia bilang kalau ia membawa oleh-oleh yang banyak untuk saya sepulang dari masjid. Saya menduga Ayah membelikan saya Al-Quran baru. Tapi ternyata satu ikat sapu lidi ukuran besar dan beberapa karet gelang di dalam bungkusan plastik.

“Ayah, ini untuk apa?” saya bertanya setengah bingung saat itu.

Ayah memegang pelan tangan saya dan kami menuju teras samping rumah. Dalam hening malam yang ditingkahi suara jangkrik, ia menunjukkan kepada saya bagaimana cara memotong lidi besar agar berubah ukuran menjadi sepanjang jengkal tangan.

Lalu setelah dipotong-potong,100 potongan lidi ada dalam satu ikatan dan mengikatnya dengan karet gelang yang kuat. Ia kemudian mengajak saya bermain, mengajarkan metoda berhitung cepat ala Ayah dengan menggunakan lidi.

“Ini tidak perlu pakai baterai, kalau kalkulator harus pakai baterai”. Ini bisa mudah didapat dimana saja, bisa dicari lagi kalau patah. Satu lagi, Insya Allah tidak akan hilang. Tidak ada yang berminat mengambilnya,” kata Ayah sambil tertawa.

Malam itu, kami menghabiskan waktu belajar berhitung ala Ayah, sambil bercerita tentang banyak hal. Ayah mulai mengajarkan saya untuk tidak ketergantungan kepada apapun, termasuk kalkulator. Kenapa? Jika suatu saat jauh dari kalkulator dan tidak punya kalkulator atau atas nama keterbatasan apapun, pikiran dan akal masih bisa mengajak kita pada semua rencana dan jalan keluar. Demikian Ayah bicara saat itu.

Kalimat tidak ketergantungan pada siapapun—kecuali Allah—melekat sekali dalam benak saya saat itu. Meski secara usia masih sangat anak-anak. Ayah memang selalu punya cara menginspirasi saya untuk melihat jauh ke depan.

“Jangan pragmatis”, kata Ayah saat itu.

“Apa itu pragmatis, Ayah?” tanya saya.

Jangan berpikir jangka pendek, katanya. Saya tidak melanjutkan pertanyaan baru. Berpikir pragmatis? Jangka pendek? Otak saya serasa berputar, ingin segera bertanya kepada kakak, apa makna yang diucapkan Ayah sebelumnya.

Kembali Ayah membuka wawasan saya tentang alat hitung kalkulator. Ia menjelaskan panjang lebar kepada saya. Jika saya diizinkan menggunakan kalkulator, saya akan ketergantungan dengan mesin hitung itu, tidak semangat belajar berhitung saat pelajaran matematika. Selalu merasa ada pertolongan. Jika lama-lama begini, maka rasa malas akan semakin kuat. Jangka panjangnya adalah tidak kreatif dan selalu merasa punya andalan, ada yang bisa diharap. Selalu berpikir singkat. Demikian Ayah menasehati saya, anak kecil yang baru berusia 9 tahun.

Tidak pakai marah-marah, tapi nasehat itu menancap sampai sekarang.

Banyak kisah masa kecil yang tertoreh sangat kuat di benak saya. Ayah benar-benar membangun banyak imajinasi dan cita-cita untuk dikejar anak-anaknya. Ia mengajarkan agar tidak mengandalkan orang lain, bangun cita-cita dengan kekuatan kakimu sendiri, tidak meminjam kaki dan tangan orang lain. “Allah memberinya sama pada kita semua sesuai takdirnya, lima puluh ribu tahun sebelum langit dan bumi diciptakan,” kata Ayah mengutip sebuah hadis.

Ucapan Ayah itu, kini sering menjadi referensi saya ketika menasehati anak-anak sendiri. Entah bagaimana kisahnya. Pelan-pelan saya mulai mengerti prinsip hidup Ayah. Tidak sekalipun ia mengizinkan kami menggunakan fasilitas yang ia dapatkan di kantor. Tak juga membolehkan kami menggunakan pertemanan dan kekerabatan Ayah untuk kemudian memudahkan kami mendapatkan apapun. No Way!

Suatu kali saya bercerita pada Ayah. Ketika sahabat saya yang tidak lulus masuk ke sekolah yang sama seperti saya, akibat tidak lulus seleksi masuk, tapi tiba-tiba pada bulan kedua sudah berada satu kelas bersama saya.

Ayah bilang, biarkan saja, yang penting bukan kita. Ayah tidak mau itu akan terjadi pada kamu. Kalau tidak bisa dan tidak mampu, ya sudah tidak bisa aja. Yang bisa membuatnya berubah adalah belajar keras dan tekun.

“Kalau tidak mampu masih bisa belajar yang keras agar mampu. Kalau tidak belajar, dan kemudian mengandalkan orang tua, nggak ada kamusnya di keluarga ini”, katanya lagi.

Tapi Ayah tak pelit mengenalkan kami pada banyak hal yang ia ketahui.

“Ingat! Ayah tidak akan menitipkan kamu pada teman Ayah, menitip kerja, tolong ini-tolong itu, tidak ada ceritanya. Bangunlah kemampuan, belajar yang semangat dan jangan terbuai sesuatu yang pragmatis,” kata Ayah lagi.

Waktu begitu cepat berlalu. Saya kembali ingat, suatu kali saya duduk di bangku SMP Kelas 2. Saat pertama kali ikut berkompetisi dalam lomba menulis essay dan puisi. Saat itu pula saya baru tahu bagaimana caranya mengirimkan surat ke Kantor POS. Mulai menulis karya, menempelkan perangko di amplop surat, saya hanya diajarkan Ayah di rumah. Selebihnya, saya mencari betul bagaimana caranya mengayuh sepeda untuk bisa sampai ke Kantor POS.

Tidak ada alasan untuk saya bilang tidak tahu. Sayapun seperti membayangkan pasti akan ada pertanyaan baru dari Ayah, kenapa tidak bisa? Terbayang binar matanya yang cerdas itu dalam ingatan saya. Kedua bola mata yang seakan meyakinkan saya, jika saya bisa dan mampu. Entahlah, jikapun saat itu saya benar-benar tidak tahu, sangat cepat ia membagi semangat untuk bisa.

Semua perjalanan begitu cepat, sampai akhirnya pengumuman kemenangan dari kompetisi itu datang. Saya dinyatakan menang juara III tingkat nasional katagori SMP-SMA. Senang bukan kepalang, tapi sekaligus membayangkan, tentu Ayah tak bisa mendampingi saya berangkat jauh, naik pesawat menuju ke Pulau Jawa.

“Lakukan perubahan kecil setiap hari,” kata Ayah saat melepas saya naik kapal laut, menuju Jakarta, suatu kali. Saya berangkat bersama rombongan, menggunakan Kapal Laut Kambuna, untuk ikut berkompetisi di Jakarta.

Latihan dua jam setiap hari, agar cepat beradaptasi dengan puisi yang akan dibaca nanti. Baca puisinya diulang, dihayati, agar tahu mau diinterpretasikan seperti apa setiap kalimat yang mau kamu baca dalam improvisasi puisi itu.

“Latihan yang sering adalah jalan untuk siap bertanding,” kata Ayah lagi.

Tiga hari dua malam, kapal membawa saya dan rombongan sampai di Jakarta. Tak lama berselang, setelah semua barang kami masuk ke mobil jemputan, kami menuju sebuah tempat di wilayah Senayan yang sudah disiapkan untuk kami, peserta dan rombongan.

Aura kompetisi mulai terasa, setiba kami disana. Lalu bayangan Ayah pun selalu ada dalam semangat persiapan saya. Sebuah kata-kata ajaib “Latihan dua jam sehari”.

Hasilnya? Saya pulang membawa piala kemenangan. Juara 1 Baca dan Cipta Puisi tingkat remaja se-Indonesia. Resep menangnya? Latihan dua jam sehari. Hehe. Resep kemenangan ala Ayah.

Bagaimana dan mengapa saya menuliskan kisah ini?

Pada tahun 2013 Ayah meninggal dunia. Secara fisik tak mungkin lagi bertemu, tapi semua kenangan yang Ayah sampaikan tidak akan pernah hilang. Sering sekali kenangan itu berubah menjadi motivasi hidup yang luar biasa.

Saya mulai menerbitkan kisah-kisah saya dan Ayah dalam beberapa kejadian melalui artikel di media massa. Saya ingin kisah ini benar-benar sampai kepada pembaca. Tujuannya, siapa tahu bisa bermanfaat untuk publik.

Menulis dengan sederhana dan kisah-kisah yang sederhana membuat impact positif bagi saya. Saya juga mulai menerima e-mail-email dari pembaca. Ada yang ingin berkenalan, ada yang bertanya, ada yang mengajak bertemu, untuk sekedar minum kopi dan berbagi pengalaman.

Saya merasa kenangan masa kecil, bersama keluarga dan orang tua serta tantangan-tantangan yang menyertainya, plus bagaimana cara mencari jalan keluarnya menjadi kisah manis yang “mahal” dan bisa dibagikan kepada siapapun.

Sering kali kisah seperti itu, menjadi pemantik bagi orang lain yang membacanya agar bisa keluar dari zona yang rumit, persoalan yang sangat dirasa sempit menuju pertemuan kepada jalan keluar yang melegakan.

Semua orang di luar diri saya, pasti memiliki kisah-kisah yang luar biasa bersama orang tuanya. Secara tidak disengaja kisah itu turut membingkai masa depannya sendiri. Tak jarang kita semua kadang rindu masa lalu. Bukan untuk diulang, namun untuk dikenang menjadi pelajaran, pegangan, termasuk menjadi “kaca spion”, agar tidak salah melangkah.

Demikian juga dengan orang tua, terlepas dari apapun pengalaman hidup mereka, tentulah ingin meningggalkan teladan yang baik untuk anak-anaknya. Teladan kemandirian, bukan teladan ketergantungan.

Menyelesaikan tulisan pertama ini, saya menuliskan judul yang sama dengan kolom ringan yang  akan saya isi setiap minggunya. Pengalaman.

Kisah-kisah sederhana yang berusaha membuat untuk tidak lupa dan belajar dari apa yang kita jalani dalam hidup, untuk kita teruskan menjadi ruang kebaikan selama perjalanan hidup itu ada.

Dunia ini sudah terlalu letih dan tua. Ia ingin menemukan sosok-sosok yang membuat ruangnya damai tanpa gelisah dan amarah. Maka jadilah penerjemah kehidupan yang baik, agar banyak hal menjadi baik. Siapa tahu, nasib baik, kita pun menjadi pemimpin yang baik di masa depan yang baik.

Seperti tagline media ini, leaders are readers. Para pemimpin adalah pembaca. Mari mulai memimpin diri sendiri dengan tidak lupa membaca (kehidupan). Selamat berakhir pekan.

Penulis: Hendra Syah, Akademisi dan Pelatih Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM).

 

Total
4
Shares

Tinggalkan Balasan

Previous Article

Terkendala Kuliah Daring, Pemkab Simeulue Didesak Pemerataan Jaringan Internet 

Next Article

80 Persen CJH Aceh Masih Tunggu Kepastian Arab Saudi

Related Posts
kolom readers ilustrasi no limit
Read More

Kolom : No Limit

DI ANTARA transisi hidup manusia, akan mendapati episode menjadi sosok dewasa dan orang tua. Meski barangkali itu tidak…