OPINI: Taliban di Afghanistan Bukan Teroris

Ilustrasi. Foto by detik.com

Pasca Kemenangan Taliban atas pemerintahan Ashraf Ghani yang melarikan diri ke Uni Emirat Arab setelah ibukota negara Afghanistan Kabul di kuasai oleh kelompok saya garis keras Taliban.

Keberhasilan ini tidak terlepas dari penarikan pasukan Amerika serikat setelah berperang selama hampir 20 tahun pasca tragedi WTC yang dikenal dengan serangan 11 September ke menara kembar WTC Washington DC serta beberapa lokasi di jantung pertahanan Amerika Pentagon menjadi sasaran serangan Al-Qaeda pimpinan Omasah Bin Laden.

Afghanistan menjadi sasaran Amerika sebagai negara Adi kuasa meluluhlantakkan negara’ tersebut perang berkecamuk, korban berjatuhan, rakyat sipil kocar kacir, bangunan dan pemukiman hancur.

Sehingga pergeseran kekuasaan yang selama beberapa dekade menjadi basis inti Taliban beralih kelompok Taliban menjadi buruan tentara pemerintah dan Amerika beserta sekutunya. Sebagai negara pecahan Uni Soviet, Afganistan merupakan negara republik Islam yang dipimpin oleh seorang presiden.

Taliban bukan gerakan international Islam seperti HT, ISIS, Mujahidin. Taliban adalah gerakan agama berdasarkan etnis. Apa etnisnya? Pashtun yang merupakan penduduk lokal dan mayoritas.

Kalau di Indonesia sama dengan NU, yaitu Islam Jawa yang mayoritas di Indonesia. Taliban bukan hanya bisa mengusir penjajah asing tetapi juga bisa menyingkirkan golongan Islam international seperti ISIS, Mujahidin yang merusak budaya lokal.

Tampilnya ISIS, Mujahidin dari luar negeri, itu karena kelompok feodal sengaja memberikan tempat kepada jihadis melawan invasi Uni Soviet yang justru pada akhirnya merusak tatanan budaya dan agama.

Sementara rakyat diprovokasi jadi laskar untuk kepentingan gerakan jihadis. Setelah Uni Soviet hengkang malah jihadis mengambil kekuasaan. Ketika gagal dan Taliban berkuasa tahun 1996, mereka kembali provokasi rakyat dengan narasi agama agar kekacauan terus terjadi, bahkan undang AS untuk menjatuhkan Taliban.

Saat rezim komunis yang berkuasa di Afganistan, korupsi merajalela dan kemiskinan massive. Itu tidak begitu peduli rakyat. Tetapi ketika rezim mulai banyak membunuh ulama dan memenjarakan ulama. Saat itulah kekuatan emosi agama bangkit. Bukan hanya lokal bangkit bersatu melawan tapi Islam international juga berdatangan membantu.

Sama juga ketika rezim boneka AS berkuasa, korupsi mewabah. Itu tidak ada masalah. Tetapi ketika banyak ulama lokal ditangkap dengan tuduhan ISIS atau teroris, itu mendorong Taliban bangkit bersatu dan melawan rezim.

Rakyat yang sudah miskin, tingginya kecemburuan sosial akibat ketimpangan yang lebar, himbauan ulama jadi gerakan kolosal dan apokalipso. Kalau sudah begitu, biasanya militer mengarahkan senjata tidak ke rakyat tetapi ke istana. Selesai urusan. Semoga kita dapat hikmah.

Terakhir, stigma Taliban akan berubah dengan sendirinya apabila kemenangan ini dan pergeseran kekuasaan memberikan kenyamanan dan ketenangan bagi warga Afghanistan serta kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya dengan limpahan sumber daya minyak serta para diplomat seluruh dunia kembali membuka perwakilannya di negara tersebut.

Khususnya di Indonesia Taliban selalu disematkan ke orang-orang yang paham keislamannya lebih. Bahkan akhir-akhir ini lebih populer sebagai “KADRUN” alias Kadal Gurun. Yang digoreng oleh kelompok tertentu, kini stigma itu pelan-pelan menghilang apabila Pemerintah Emirate Islam Afghanistan mengubah pola pemerintahan dengan selalu terbuka dan welcome terhadap negara luar.[]

Penulis: Abdul Berutu
Penggiat Media Sosial & Inisiator Rumah Millenial Aceh Singkil

Total
21
Shares

Tinggalkan Balasan

Previous Article

China Pandang Taliban Lebih Santun dan Rasional

Next Article

Qanun Jinayat Belum Buat Jera Pelaku Kekerasan Terhadap Anak

Related Posts
Read More

Lidah, Ludah dan Telunjuk Komisaris

Lidah merupakan indera pengecap yang terdiri dari sejumlah bagian dan memiliki berbagai macam fungsi. Selain berfungsi sebagai pengecap, lidah juga memiliki beberapa fungsi utama,…